Teori sikap dan perilaku (theory of attitude and behavior) yang dikembangkan oleh Triandis di tahun 1971menyatakan bahwa perilaku ditentukan oleh untuk apa sesuatuhal dilakukan (sikap), pedoman atas suatu halyang dilakukan (aturan-aturan sosial), dan apa yang biasa dilakukan(kebiasaan) yang menentukan terbentuknya suatu perilaku. Sikap terdiri dari komponen kognitif yang berkaitan dengan keyakinan, dan komponen afektif yang berkaitan dengan konotasi suka atau tidak suka, sertakomponen perilaku yakni bagaimana seseorang ingin berperilaku terhadap sikap. Gibson, dkk di tahun 1982 sebagaimana yang dikemukakan oleh Mangkunegara (2008:16) menyebutkan bahwa sikap seseorang didorong oleh faktor-faktor stimulus, seperti gaji, tunjangan, gaya manajer, rangsangan pekerjaan, teknologi dan kebijakan perusahaan. Faktor-faktor stimulus tersebut menentukan apakah suatu perasaan positif yang menimbulkan kesukaan atau malahan perasaan negatif yang menimbulkan ketidaksukaan terhadap suatu pekerjaan. Perasaan positif dan negatif tersebut pada akhirnya yang menentukan kepuasan atau ketidakpuasan seseorang terhadap pekerjaannya, yang pada akhirnya menentukan perilaku seseorang di dalam organisasi. Mangkunegara (2015:117-119) menyebutkan kepuasan kerja seseorang memiliki dampak terhadap organisasi antara lain yaitu tingkat turn over, tingkat kehadiran pegawai, tingkat kesehatan pegawai, tingkat efektivitas penyelesaian pekerjaan, pengembangan ide dan inovasi, tingkat kesalahan, sampai rasa kebanggaan terhadap organisasi/perusahaan yang diwujudkan dalam komitmen dan loyal terhadap organisasi/perusahaan.
Aturan-aturan sosial yang merupakan pedoman atas suatu halyang dilakukan seorang individu di dalam organisasi, ditentukan oleh nilai-nilai yang dianut oleh suatu organisasi yang pada akhirnya menjadi kebiasaan yang merupakan embrio dari suatu budaya yang dimiliki oleh organisasi. Susanto (1997:21), budaya organisasi merupakan nilai-nilaiyang menjadi pedoman sumber daya manusia di dalam organisasi untuk menghadapi permasalahan eksternal dan dan berusaha untuk melakukan penyesuaian integrasi ke dalam tubuh organisasi. Masing-masing individu di dalam organisasi harus memahami nilai-nilai yang ada dan bagaimana mereka seharusnya bertingkah laku dan berperilaku di dalam organisasi. Nilai-nilai organsasi menjadi petunjuk (guidance) dan pedoman bagi individu di dalam organisasi dalam berperilaku serta berinteraksi dengan individu lainnya, baik di dalam maupun di luar organisasi. Nilai-nilai organisasi menjadi hal yang penting dan ditanamkan secara kokoh dan kuat serta harus diterima secara luas di semua kalangan dalam organisasi. Semakin tinggi penerimaan anggota organisasi terhadap nilai-nilai pokok organisasi, maka kesetiaan, dan kinerja seseorang kepada organisasi semakin besar yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kinerja organisasi (Yuliana, 2014).
