Technology Acceptance Model (TAM) (skripsi, tesis, disertasi)

TAM merupakan model yang diperkenalkan oleh Fred Davis pada tahun 1986 dengan disertasinya yang berjudul “A Technology Acceptance Model for Empirically Testing New End-User Information System: Theory and Results” di Sloan School of Management, Massachusetts Institute of Technology. Disertasi ini
selanjutnya dipublikasikan dalam karya ilmiah yang berjudul “Perceived Usefulness, Percieved Ease of Use, and User Acceptance of Information Technology” pada tahun 1989 (Davis, dkk 1989).
Dalam memformulasikan TAM, Davis menggunakan TRA sebagai grand theory-nya, namun tidak mengakomodasi semua komponen TRA. Davis hanya memanfaatkan komponen „attitude‟ saja, sedangkan normative belief dan subjective norms tidak digunakannya (Davis, dkk 1989) Model davis diadopsi dari model TRA ini berasumsi bahwa sesorang mengadopsi suatu teknologi pada umumnya ditentukan oleh proses kognitif dan bertujuan untuk memaksimalkan kegunaan teknologi itu sendiri. Dengan kata lain, kunci utama penerimaan teknologi informasi oleh penggunanya adalah evaluasi kegunaan
teknologi tersebut. Selanjutnya Davis merusmuskan dua variabel utama dalam TAM, yaitu persepsi manfaat (peceived usefulness) dan persepsi kemudahan pengguna (percieved ease of use). Kedua variabel ini dapat menjelaskan aspek perilaku (behavior aspect) pengguna (Davis, dkk 1989). Dengan demikian, model TAM dapat menjelaskan bahwa persepsi pengguna akan menentukkan sikapnya dalam kemanfaatan penguna TI. Model ini secara lebih jelas menggambarkan bahwa penerimaan dan pengguna TI dipengaruhi oleh persepsi manfaat dan persepsi kemudahan pengguna. Di samping itu, Davis juga memberikan kerangka dasar untuk menelusur pengaruh faktor eksternal terhadap kedua variabel tersebut.
Perceived usefulness didefinisikan sebagai “the degree to which a person believe that using a particular system would enhance his or her job performance” (Davis, 1989). Definisi ini menggambarkan bahwa persepsi manfaat adalah suatu tingkat kepercayaan seseorang bahwa penggunaan suatu teknologi tertentu akan meningkatkan prestasi kerja orang tersebut. Konsep ini menggambarkan manfaat sistem bagi pemakainya yang berkaitan dengan produktivitas, kinerja tugas, efektivitas, pentingnya suatu tugas dan usefulness (Rini, 2007).
Indikator kemanfaatan tersebut, diantaranya adalah pekerjaan lebih mudah (makes job easier), bermanfaat (useful), meningkatkan produktivitas (increase productivity), mendorong efektivitas (enchance effectiveness) meningkatkan kinerja pekerjaan (improve job performance) (Davis, 1989).
Dengan definisi dan indikator-indikator di atas dapat diartikan bahwa kemanfaatan dari penggunaan TI dapat meningkatkan kinerja dan prestasi orang yang menggunakannya. Kemanfaatan dalam TI merupakan manfaat yang diperoleh atau diharapkan oleh para penguna dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Karenanya, tingkat kemafaatan TI mempengaruhi sikap para pengguna dalam mengadopsi teknolog tersebut.
Sementara itu, persepsi kemudahan pengguna (perceived ease of use) didefinisikan sebagai “the degree to which a person believe that using a particular system would be free of effort” (Davis, 1989). Definisi ini menggambarkan bahwa persepsi kemudahan penggunaan adalah suatu tingkat kepercayaan seseorang bahwa TI dapat dengan mudah dipahami. Konsep ini mencakup kejelasan tujuan penggunaan TI dan kemudahan penggunaan sistem untuk tujuan sesuai dengan keinginan pengguna (Rini, 2007).
Intensitas penggunaan dan interaksi antara pengguna dengan teknologi menunjukkan kemudahan penggunaan (Fahmi, 2004). Suatu teknologi yang sering digunakan menunjukkan bahwa teknologi tersebut lebih dikenal, lebih mudah dioperasikan dan lebih mudah digunakan. Kemudahan penggunaan akan mengurangi usaha (baik waktu dan tenaga) pada pengguna dalam mempelajari seluk beluk bertransaksi melalui teknologi. Kemudahan penggunaan juga memberikan indikasi bahwa para pengguna teknologi bekerja lebih mudah dibandingkan dengan yang bekerja tanpa menggunakan teknologi tersebut. Beberapa indikator persepsi kemudahan pengguna, antara lain meliputi mudah untuk dipelajari
(ease to learn), mudah untuk digunakan (easy to use), jelas dan mudah dipahami (clear and understandable) dan menambah keterampilan para pengguna (become skillful) (Davis, 1989). Dengan demikian, bila jasa yang diberikan teknologi dipersepsikan mudah digunakan oleh para pengguna, maka akan mendorong para pengguna (nasabah) untuk menerima dan atau menggunakan teknologi tersebut.
Sementara itu, variabel lain yang terdapat dalam model TAM adalah attitude toward use, behavioral intention dan actual use. Attitude toward use adalah sikap terhadap penggunaan sistem yang berbentuk penerimaan atau penolakkan sebagai dampak bila seseorang menggunakan suatu TI dalam pekerjaannya (Van der Heijden, dkk 2007).
Behavioral intention adalah kecenderungan perilaku untuk tetap menggunakan suatu TI. Beberapa indikator behavioral intention adalah intend to use in the future, dan use on a regular basis dan recommend others to use (Reid & Levy, 2008). Sedangkan actual use adalah kondisi nyata penggunaan suatu TI. Dimensi yang dikonsepkan dalam actual use adalah system usage (penggunaan sistem), yang meliputi frekuensi dan durasi waktu penggunaan sistem (Malhotra & Galleta, 1999). Actual Use ini dapat juga diukur dengan menggunakan konsep end user computing satisfaction (kepuasaan pengguna akhir). Menurut skala pengukuran dari Doll dan Torkzadeh, yang meliputi accuracy (keakuratan), content (isi), format (format), ease of use (
kemudahan penggunaan) dan timeliness (ketepatan waktu) (Liu & Yi 2008).
Semenjak diusulkannya oleh Davis, model TAM telah berkembang dengan berbagai macam model, seperti Docomposed Theory of Planned Behavior (DTPB) dan Technology Acceptance Model 2 (TAM2). Disamping memperluas perspektifnya dengan paradigma toritis yang berbeda dari psikolohi, sosiologi, marketing, dan lain-lain, model Davis juga telah diaplikasikan dalam berbagai sistem informasi, seperti email, internet, sistem akuntansi, sistem pengambilan keputusan dan sistem keahlian dalam berbagai macam konteks yang berbeda, seperti untuk sekolah, pabrik, rumah sakit, militer dan pemerintahan (Sung-Hee Park, 2007).
Model TAM merupakan salah satu model yang paling populer dan banyak digunakan dalam penelitian TI, serta memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan diantaranya; (a) TAM merupakan model perilaku yang bermanfaat untuk menjawab kegagalan penerapan sistem TI karena tidak adanya minat para pengguna untuk menggunakannya, (b) TAM dibangun dengan dasar teori yang kuat, (c) TAM telah diuji dengan banyak penelitian dan sebagian besar hasilnya mendukung dan menyimpulkan bahwa TAM merupakan model yang baik, dan (d) Model TAM merupakan model parsimoni yaitu model sederhana dan valid. Sedangkan kelemahan dari TAM yaitu: (a) TAM hanya memberikan informasi atau hasil yang sangat umum tentang minat dan perilaku pengguna dalam menerima TI, (b) TAM tidak memiliki kontrol perilaku, (c) Penelitian TAM umumnya hanya
menggunakan sebuah sistem TI, (d) model TAM secara umumu kurang dapat menjelaskan sepenuhnya hubungan antar variabel di dalam model, (e) model TAM tidak mempertimbangkan perbedaan kultur. (Adrianto, dkk 2008)