Dalam bagian ini akan diberikan tiga desain MMR yang hemat penulis rancangan tersebut sangat terbuka untuk diaplikasikan dalam konteks olahraga serta tidak sukar menggunakannya. Ketiga desain tersebut akan penulis ambil dari karya Steckler at al., (1992), Tashakkori & Teddlie (2010), Creswell (1999; 2010), Morse (2010) serta Creswell at al (2010). Di samping itu, penulis juga akan berusaha untuk memberikan contoh aplikasi setiap desain yang diberikan dalam konteks olahraga. Desain I: Mengembangkan Instrumen kuantitatif
Rancangan pertama yang diberikan di sini adalah sebuah desain yang digunakan dengan tujuan untuk mengembangkan instrumen penelitian kuantitatif. Steckler at al., (1992: 5) menyebut model pertamanya dengan “qualitative methods are used to help develop quantitative measures and instruments”. Tidak berbeda, Creswell (1999: 463) menyebut modelnya dengan “instrument-building model”.Dengan menggunakan desain di atas maka terdapat dua tahap penelitian. Pada tahap pertama, metode kualitatif diarahkan untuk mendapatkan konstruk-konstruk aitem pertanyaan atau pernyataan yang nantinya menjadi dasar dalam pengembangan instrumen penelitian. Dalam tahap inipeneliti menggunakan teknik wawancara mendalampada responden. Wawancara tersebut ditujukan untuk mengungkap karakteristik kepribadian dan/atau fenomena yang menjadi cikal bakal penyusunaninstrumen kuantitatif. Setelah hasil dari tahap pertama didapat maka penelitian dilanjutkanke tahap kedua, yaitumemanfaatkan metode kuantitatif. Dalam tahap kedua tersebut peneliti akan melakukan pengujian validitas dan reliabilitas instrumen pada subjek yang luas. Creswell at al (2010) menyarankan untuk melakukan pengujian pada 500 individu. Meskipun sudah divisualisasikan seperti di atas, hal ini dianggap kurang begitu membantu dalam memahami desain tersebut. Dibutuhkan penjelasan lebih lanjut berkaitan dengan prosedur rancangan di atas Desain II: Kualitatif sebagai komplementar dari kuantitatif
Desain yang kedua digunakan ketika peneliti menghendaki agar metode kualitatif dimanfaatkan untuk membantu memberikan penjelasan dalam penemuan metode kuantitatif. Oleh Morse (2010) rancangan demikian dinotasikan dengan . Tanda anak panah menunjukan penelitian dilakukan secara berurutan (sequential) sedangkan huruf besar (KUAN yang akronim dari kuantitatif) mengindikasikan
Pengembangan instrument kuantitatif
Instrumen kuantitatif
Membuat aitem-aitem pertanyaan atau pernyataan instrumen berdasarkan temuan tahap 1 dan ditambah dengan kajian teoretis
Melakukan pengujian validitas dan reliabilitas instrumen
Melakukan uji beda, missalnya, antara atlet dan non atlet; atlet berprestasi tinggi dan rendah dsb.
Pengujianvaliditas dan reliabilitas
Uji beda
Didapat instrumen yang memiliki kredibilitas tinggi baik secara empirik maupun teoretis
Tahap 2: Penelitian kuantitatif prioritas atau bobot yang lebih dominan. Tashakkori & Teddlie (2010) membuat notasi dominan-kurang dominan yang berurutan (sequential) sebagai berikut KUAN/KUAL. Steckler at al., (1992: 5) mengajukan model 2 yang ia sebut dengan “qualitative methods are used to help explain quantitative findings”. Creswell (1999; 2010) dan Creswell at al (2010) menyebut rancangannya dengan istilah sequential explanatory design yang digambarkan sebagai berikut: Rancangan di atas (Mores, 2010; Tashakkori & Teddlie, 2010; Steckler at al., 1992; Creswell, 1999; 2010; dan Creswell at al., 2010) menjadidesain yang cukup populer dalam penelitian MMR dan acapkali digunakan oleh para peneliti yang lebih condong pada proses kuantitatif. Menurut Tashakkori & Teddlie (2010) desain ini terkenal di kalangan mahasiswa tingkat sarjana dan peneliti pemula yang ingin menggunakan dua pendekatan dalam pekerjaan mereka tetapi tidak ingin mendapatkan banyak kesulitan ketika menggunakan dua pendekatan secara bersama. Creswell (2012: 542) menjelaskan “this design…perhaps the most popular form of mixed methods design in educational research” Dalam rancangan di atas penelitian pertama dilakukan dengan metode kuantitatif dan kemudian dilanjutkan menggunakan metode kualitatif. Oleh karena itu, Creswell (2010; 2012) dan Creswell at al., 2010) menyebut rancangan tersebut sebagai desain dua tahap. Desain dua tahap merupakan yang paling sederhana dari desain MMR berurutan (Tashakkori & Teddlie, 2010). Rancangan bertahap merupakan prosedur penelitian di mana peneliti berusaha menggabungkan atau memperluas penemuan yang diperoleh dari satu metode dengan penemuan dari metode yang lain (Creswell, 2010). Prosedur yang digunakan oleh peneliti dalam rancangan ini adalah mengumpulkan data dan menganalisisnya menggunakan metode kuantitatif kemudian diikuti oleh pengumpulan data serta analisis datasecara kualitatif yang dibangun berdasarkan temuan awal (kuantitatif). Bobot atau prioritas lebih diberikan pada data kuantitatif (Creswell at al, 2012). Meskipun demikian dua jenis data ini tidak terpisah dan tetap berhubungan (Creswell, 2010). Contoh penerapan desain tersebut dapat dilihat dalam penelitiannya Maksum (2010) yang menyelidiki akar masalah dan pola kekerasan suporter sepakbola Surabaya atau yang dikenal dengan Bonek. Dalam tahap pertama peneliti menggunakan metode survei untuk mendapat data tentang status sosial ekonomi para suporter, yang mencakup tingkat pendidikan, status pekerjaan, jenis pekerjaan, tingkat pendapatan dan kondisi orangtua. Mengingat menggunakan metode kuantitatif maka subjek yang diselidiki jumlahnya cukup besar, yaitu 500 suporter yang diambil secara acak ketika menyaksikan persebaya bertanding di kandang. Pengumpulan data dalam tahap tersebut dilakukan menggunakan angket.
Setelah penelitian tahap pertama selesai dilakukan maka dilanjutkanstudi tahap kedua dengan metode kualitatif. Tujuan dalam penelitian tahap kedua ini adalah untuk mengungkap karakteristik dasar dari kerusuhan suporter, faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya kerusuhan dan pola terjadinya kerusuhan suporter. Ada dua fase dalam metode kualitatif yang digunakan, yaitu preliminary study dan field study. Observasi lapangan serta Focus Group Discussion (FGD) menjadi pilihan strategi untuk mengumpulkan data bertalian dengan tindak kerusuhan suporter sepakbola. Pada kesempatan ini penulis akan mencoba menganalisis prosedur penelitian di atas. Dalam desain penelitiannya, Maksum (2010) menyatakan bahwa peneliti menggunakan sequential explanatory design dari Creswell (2003) yang bersifat dominan-kurang dominan, yaitu menempatkan metode kualitatif lebih menonjol dibanding kuantitatif. Prosedur tersebut akan sedikit berbeda dari tujuan awal pengembangan sequential explanatory design dari Creswell (2010). Ilmuan yang mengembangkan model tersebut menyatakan bahwa dalam sequential explanatory design tersebut prioritas lazimnya diberikan pada data kuantitatif (Creswell, 2010; Creswell at al, 2010). Namun, penelitian Maksum (2010) melakukan sebaliknya, yaitu memberikan bobot dan prioritas pada kualitatif. Apa yang dilakukan oleh Maksum (2010) dalam penelitiannya patut diapresiasi karena ia melakuan perubahan bobot atau prioritas untuk dapat menjawab secara mendalam masalah yang ada di lapangan. Desain III: Kuantitatif sebagai komplementar kualitatif Desain tersebut merupakan kebalikan dari desain sebelumnya (desain II). Desain III digunakan ketika peneliti menghendaki agar metode kuantitatif dimanfaatkan untuk menguji secara luas penemuan yang dihasilkan dari metode kualitatif. Morse (2010) memberikan notasi seperti berikut . Penjelasan tanda anak panah dan huruf besar atau kecil sama seperti pada desain sebelumnya. Tashakkori & Teddlie (2010) membuat notasi dominan-kurang dominan yang berurutan (sequential) sebagai berikut KUAL/KUAN. Steckler at al., (1992: 5) mengajukan model 3 yang ia sebut dengan “quantitative methods are used to embellish a primarily qualitative study” seperti berikut:Rancangan yang lebih lengkap diberikan oleh Creswell (1999; 2010) dan Creswell at al (2010). Pakar mixed methods tersebut menyebut rancangannya dengan istilah sequential exploratory designBerbeda dengan sequential explanatory design yang lebih tepat untuk menjelaskan dan menginterpretasikan hubungan, fokus utama sequential exploratory design adalah untuk mengeksplorasi fenomena (Creswell, 2010; Creswell at al, 2010). Meski begitu, desain di atas juga melalui dua tahap penelitian, yang prioritas atau bobot lebih besar diberikan pada kualitatif.Itu sebabnya data kuantitatif dimanfaatkan untuk membantu dalam menginterpretasikan temuan-temuan kualitatifdalam tahap pertama.
Rancangan ini lebih bermanfaat ketika seorang peneliti tidak hanya ingin mengeksplorasi sebuah fenomena namun juga ingin memperluas temuan-temuan kualitatifnya. Morgan (1998) menyatakan rancangan ini cocok digunakan ketika menguji elemen-elemen sebuah teori baru yang muncul dari tahap kualitatif dan bahwa desain ini juga dapat digunakan untuk mengeneralisasikan temuan kualitatif pada sampel-sampel yang lebih luas serta berbeda. Creswell (1999) dan Creswell at al (2010) menjelaskan bahwa sequential exploratory design sering kali dibahas sebagai desain yang digunakan ketika peneliti membuat dan menguji instrumen. Menganalisis prosedur penelitian Maksum (2007) di bagian sebelumnya serta mempertimbangkan pendapat Morgan (1998), Creswell (1999) dan Creswell at al (2010) maka apa yang dilakukan oleh pakar psikologi olahraga tersebut sejatinya adalah aplikasi dari sequential exploratory design. Meskipun secara eksplisit, jika membaca artikelnya, iatidak menuliskan mengunakan rancangan sequential exploratory dalam penelitiannya namun prosedur yang ia gunakan sesuai dengan desain tersebut
