Teori sinyal (signaling theory) merupakan salah satu teori pilar dalam memahami manajemen keuangan. Secara umum, sinyal dapat diartikan sebagai isyarat yang dilakukan oleh perusahaan (manajer) kepada pihak luar (investor). Sinyal tersebut dapat berwujud berbagai bentuk, baik yang secara langsung dapat diamati maupun yang harus dilakukan penelaahan lebih mendalam untuk dapat mengetahuinya. Teori Sinyalsendiri mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Secara garis besar teori sinyalmenjelaskan bahwa manajemen menyajikan informasi keuangan (khususnya laba) diharapkan dapat memberikan sinyal kemakmuran (baik positif maupun negatif) kepada para penggunanya.Dalam literatur ekonomi dan keuangan, teori sinyal dimaksudkan untuk mengungkapkan bukti bahwa pihak-pihak di dalam lingkungan perusahaan
(corporate insiders, yang terdiri atas officersdan directors) umumnya memiliki informasi yang lebih bagus tentang kondisi perusahaan dan prospek masa depan dibandingkan dengan pihak luar, misalnya investor, kreditor, atau pemerintah, bahkan pemegang saham. Dengan kata lain, pihak perusahaan mempunyai kelebihan penguasaan informasi daripada pihak luar yang memiliki kepentingan dengan perusahaan. Kondisi dimana satu pihak memiliki kelebihan informasi sementara pihak lain tidak dalam teori keuangan disebut dengan ketimpangan informasi (information asymmetry). Awalnya, teori sinyal diarahkan untuk menjelaskan masalah ketimpangan informasi di pasar tenaga kerja (labor markets). Dalam perkembangannya, teori sinyal diterapkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan hal-hal yang secara khusus melekat di dalam perusahaan.Teori sinyal (signalling theory) yang diperkenalkan George Akerlof (1970) dalam karyanya “The Market for Lemons”, yang memperkenalkan istilah informasi asimetris (assymetri information). Akerlof mempelajari fenomena ketidakseimbangan informasi mengenai kualitas produk antara pembeli dan penjual, dengan melakukan pengujian terhadap pasar mobil bekas (used car). Selanjutnya, Akerlov mendokumentasikan bahwa ketika pembeli tidak memiliki informasi terkait spesifikasi produk dan hanya memiliki persepsi umum mengenai produk tersebut, maka pembeli akan menilai semua produk pada harga yang sama, baik produk yang berkualitastinggi maupun yang berkualitas rendah, sehingga merugikan penjual produk berkualitas tinggi. Kondisi dimana salah satu pihak (penjual) yang melangsungkan transaksi usaha memiliki informasi lebih atas pihak lain (pembeli) ini disebut adverse selection(Sccott, 2009). Menurut
Akerlov (1970), adverse selectiondapat dikurangi apabila penjual mengkomunikasikan produk mereka dengan memberikan sinyal berupa informasi tentang kualitas produk yang mereka miliki. Kemudian, Spence (1973) mengembangkan pemikiran Akerlov (1970) tersebut dalam sebuah model keseimbangan sinyal (basic equilibrium signaling model). Spence memberikan ilustrasi pada pasar tenaga kerja (job market) dan mengemukakan bahwa perusahaan yang memiliki kinerja yang baik (superiorperformance) menggunakan informasi finansial untuk mengirimkan sinyal ke pasar. Dari penelitiannya tersebut, Spence (1973) juga menemukan bahwa cost ofsignalpada berita buruk (bad news)lebih tinggi dari pada berita baik (good news) dan perusahaan yang memiliki bad news mengirimkan sinyal yang tidak kredibel. Hal tersebut memotivasi manajer untuk mengungkapkan informasi yang rahasia untuk mengurangi asimetri informasi dengan harapan dapat mengirimkan sinyal yang baik (goodnews) tentang kinerja perusahaan ke pasar. Para pemakai laporan keuangan, selanjutnya, memanfaatkan sebanyak-banyaknya informasi yang diperoleh dari laporan keuangan yang dipublikasikan. Informasi tersebut digunakan sebagai salah satu tolak ukur untuk menilai kinerja perusahaan dan berspekulasi terhadapkeuangan perusahaan di masa yang akan datang. Hal pertama yang dilihat dari laporan keuangan adalah nilai kas dan laba yang dihasilkan selama periode bersangkutan. Karena keberhasilan perusahaan dapat dilihat dari seberapa besar perolehan laba dan arus kas yang dimiliki untuk menjalankan kegiatan operasionalnya. Kinerja perusahaan yang dinilai melalui profitabilitas (laba) menjadi pusat perhatian penting karena laba yang berkualitas
akan mencerminkan keberlanjutan di masa depan. Pengguna informasi tentunya mengharapkan laba yang persisten, karena persistensi laba menunjukkan “the likelihood of earnings levels will recur in future periods“ atau “kemungkinan bahwa tingkat laba akan terulang dalam periode-periode mendatang”. Persistensi laba untuk kelompok sampel tertentu dapat berbeda dengan persistensi laba untuk kelompok sampel yang lain. Persistensi laba penting bagi investor dalam penilaian saham dan selanjutnya dalam pengambilan keputusan investasi pada saham tersebut. Oleh sebab itu, diperlukan sinyal yang dapat membedakan persistensi laba untuk masing-masing kelompok tersebut.Motivasi signaling mendorong manajemen menyajikan laporan laba yang dapat mencerminkan laba sesungguhnya (Sunarto, 2008). Atas dasar motivasi signaling, manajemen terdorong untuk menyajikan laporan laba yang mengarah pada persistensi laba.
