Setiap perusahaan menginginkan laba (profit) untuk melangsungkan kehidupan perusahaan. Laba adalah selisih lebih pendapatan atas beban sehubung dengan kegiatan usaha. Laba yang berfluktuasi (tidak persisten) akan mengurangi daya prediksi laba pada aliran kas perusahaan dimasa mendatang. Penurunan daya prediksi laba dapat mengakibatkan informasi laba tahun berjalan menjadi kurang bermanfaat dalam memprediksi laba masa depan (Suaryana, 2011). Suatu laba dianggap berkualitas tinggi karena laba tersebut dapat mencerminkan kelanjutan laba (sustainable earnings) di masa depan, yang ditentukan oleh komponen akrual dan kas untuk dapat mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sesungguhnya. Untuk menentukan prediksi laba tersebut para pengguna laporan keuangan perlu melakukan penilaian atas persistensi laba (Fanani, 2010).Penggunaan laporan keuangan berkepentingan atas laporan laba rugi perusahaan karena laporan tersebut dapat memberi gambaran mengenai kinerja perusahaan di masa lalu maupun memprediksi arus kas masa depan. Oleh sebab itu, penggunaan laporan keuangan harus dapat menilai kualitas laba suatu perusahaan (Purwanti, 2010). Tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan.
Sehingga dalam memfasilitasi tujuan tersebut, Standar Akuntansi Keuangan (SAK) menetapkan suatu kriteria yang harus dimiliki informasi akuntansiagar dapat digunakan dalam pengambilan keputusan. Kriteria utama dalam laporan keuangan adalah relevan dan reliabel. Informasi akuntansi dikatakan relevan apabila dapat mempengaruhi keputusan dengan menguatkan atau mengubah pengharapan para pengambil keputusan, dan informasi tersebut dikatakan reliabel apabila dapat dipercaya dan menyebabkan pemakai informasi bergantung pada informasi tersebut . Melihat betapa penting peran laba bagi investor maupun pihak lain sebagai pengguna laporan keuangan, tidak mengherankan pihak manajemen laba demi menarik investor. Persistensi laba sering digunakan sebagai pertimbangan kualitas laba dimana laba yang berkualitas dapat menunjukan kesinambungan laba, sehingga laba yang persisten cenderung berulang disetiap periode. Persistensi laba adalah revisi laba yang diharapkan dimasa mendatang yang diimplikasikan oleh inovasi laba tahun berjalan, sehingga persistensi laba dilihat dari inovasi laba tahun berjalan serta dengan penggunaan aktiva perusahaan. Laba dikatakan persistensi ketika aliran kas dan laba akrual berpengaruh terhadap laba tahun depan dan perusahaan dapat mempertahankan jumlah laba yang diperoleh saat ini sampai masa yang akan datang. Persistensi laba merupakan laba yang mempunyai kemampuan sebagai indikator laba periode mendatang (future earning) yang dihasilkan oleh perusahaan secara berulang-ulang dalam jangka panjang. Sedangkan unusual earningmerupakan laba yang tidak dapat dihasilkan secara berulang-ulang, sehingga tidak dapat digunakan sebagai indikator labaperiode mendatang
(Nuraini, 2014). Hal tersebut membuat persistensi laba menjadi penting karena persistensi laba merupakan salah satu perhitungan acuan dalam pengambilan keputusan.
