Dimensi dalam Pengukuran Keunggulan Bersaing (skripsi, tesis dan disertasi)

Walaupun suatu perusahaan dapat memiliki banyak sekali kekuatan dan
kelemahan dalam berhadapan dengan para pesaingnya, ada dua jenis dasar
keunggulan bersaing yang dapat dimiliki oleh sebuah perusahaan: biaya rendah dan
diferensiasi. Strategi biaya rendah yaitu strategi yang lebih memusatkan kepada
penekanan biaya produksi yang mengakibatkan harga jual yang rendah. Sedangkan
diferensiasi yaitu strategi yang digunakan karena perusahaan memiliki keunikan
yang tidak dimiliki oleh perusahaan lain sehingga mampu membuat pelanggan
membeli produk (Husnah dalam Nuvriasari et al., 2015).
Biaya rendah dan diferensiasi merupakan dasar dari keunggulan bersaing.
Keduanya dapat digabungkan dengan aktivitas – aktivitas perusahaan yang
dilakukan untuk mencapai kinerja yang lebih dibanding perusahaan lainnya akan
menghasilkan tiga strategi generic yaitu keunggulan biaya rendah, keunggulan
diferensiasi, dan keunggulan fokus. Keunggulan biaya rendah yaitu strategi dimana
perusahaan berfokus kepada kemampuan memproduksi barang dengan biaya
rendah yang dapat menghasilkan harga jual yang lebih rendah dibanding
pesaingnya. Keunggulan diferensiasi merupakan strategi dalam membedakan
perusahaannya dari produk atau fasilitas yang disediakan dibanding perusahaan
lainnya. Keunggulan fokus merupakan strategi yang digunakan dimana perusahaan
memilih untuk berada pada satu segmen pasar dalam industri serta melayani mereka
dalam menyediakan produk yang dibutuhkan (Porter dalam Helia et al., 2015).
Ge dan Daniel (2005) mengatakan bahwa keunggulan bersaing akan dicapai
jika perusahaan memiliki inovasi, mampu meningkatkan kualitas produk, dan biaya
rendah. Leonardus (2009) mengatakan jika keunggulan bersaing akan tercapai
melalui fokus terhadap pelanggan, pencapaian kualitas, integritas dan tanggung
jawab, inovasi dan kreativitas, serta produk rendah biaya. Sedangkan Zhou et al
(2009) berpendapat jika keunggulan bersaing dapat diukur melalui keunikan,
kelangkaan, tidak mudah ditiru, tidak mudah diganti, dan harga yang mampu
bersaing. Pendapat serupa diutarakan oleh Reniati (2014) bahwa perusahaan harus
memiliki keunikan, variasi, harga atau nilai, reputasi, dan menciptakan pengalaman
pelanggan untuk memenangkan persaingan.
Sementara, menurut Barney (1991) mengatakan bahwa keunggulan dapat
dicapai jika perusahaan mempunyai sumber daya dan juga mampu menciptakan
nilai unggul bagi perusahaannya. Hal itu dapat diukur dengan Valuable, Rare,
Imitable, dan Non-substitutable. Madhani (2014) sumber daya dapat dikatakan
berharga atau valuable jika dapat memberikan nilai strategi bagi perusahaan,
membantu perusahaan dalam mengeksploitasi peluang pasar, dan mengurangi
ancaman pasar sehingga Valuable berfokus kepada menciptakan nilai bagi
perusahaan dalam mencari peluang dan meminimalisir ancaman dengan sumber
daya yang dimiliki. Rare berfokus kepada sumber daya dan produk yang dihasilkan
langka atau unik sehingga menjadi potensi perusahaan. Sumber daya harus menjadi
sulit ditemukan antara pesaing yang ada dan potensial dari perusahaan sehingga
sumber daya harus langka dan unik untuk menawarkan keunggulan bersaing
(Madhani, 2014). Imitable berfokus pada sumber daya dan produk yang tidak
mudah ditiru oleh pesaingnya. Sumber daya yang dikatakan sulit untuk ditiru jika
pesaing sulit memperolehnya dipasar dan tidak bisa untuk digantikan (Talaja,
2012). Non-substitutable merupakan sumber daya yang tidak dapat sulit untuk
digantikan dengan alternatif lainnya. Madhani (2014) dimensi ini menyiratkan
bahwa sumber daya tidak dapat digantikan oleh alternatif lainnya sehingga
membuat pesaing sulit untuk mencapai kinerja yang sama dengan perusahaan.