Verplanken & Herabadi (2001) mengemukakan dua aspek pembelian
impulsif, yakni aspek kognitif dan aspek afektif.
a. Aspek kognitif
Aspek kognitif yang dimaksudkan adalah kekurangan pada unsur pertimbangan
dan unsur perencanaan dalam pembelian yang dilakukan. Hal ini didasari oleh pernyataan
Verplanken & Aarts (dalam Verplanken & Herabadi, 2001) bahwa pembayaran yang
dilakukan mungkin tidak direncanakan atau dipertimbangkan dengan matang untuk
berbagai macam alasan, misalnya ketika pembayaran tak terencana tampak tak
direncanakan dalam waktu yang panjang atau dalam kasus pengulangan pembayaran atau
kebiasaan pembayaran.
b. Aspek afektif
Aspek afektif meliputi dorongan emosional yang secara serentak meliputi
perasaan senang dan gembira setelah membeli tanpa perencanaan (Verplanken &
Herabadi, 2001) lebih lanjut menambahkan, setelah itu juga secara tiba-tiba
muncul perasaan atau hasrat untuk melakukan pembelian berdasarkan keinginan
hati, yang sifatnya berkali-kali atau kompulsif, tidak terkontrol, kepuasan,
kecewa, dan penyesalan karena telah membelanjakan uang hanya untuk
memenuhi keinginannya
