Berikut terdapat empat faktor yang mempengaruhi perilaku
cyberbullying yang dikemukakan oleh Snyder (2016):
a. Konteks budaya dan stereotip
Perilaku cyberbullying dipengaruhi oleh konteks budaya dan
stereotip. Cassidy (2009), mengatakan bahwa cyberbullying
sangat mirip dengan stereotip pada korban bullying
tradisional, seperti: fisik kecil, lemah, introvert, fisik buruk,
berkulit hitam, status ekonomi rendah, pintar, berperilaku
buruk, dll.
b. Keluarga
Adanya pola pengasuhan anak yang salah mempengaruhi
terjadinya perilaku cyberbullying. Feldman (2011)
mengatakan bahwa penindasan cyber sangat berkaitan
dengan pola pengasuhan, orangtua yang kurang terlibat
dalam pengasuhan memungkinkan anak menjadi pelaku
cyberbullying. Feldman (2011) mengatakan bahwa pola
pengasuhan otoriter cenderung mempunyai masalah yang
serupa. Pelaku cyberbullying dapat terjadi karena berbagai
kurangnya ikatan emosional antara orangtua dan anak,
kurangnya mendapatkan kontrol dari orangtua, serta tidak
mementingkan rasa disiplin (Ybarra dan Mitchell, 2004).
Ybarra (2004) menemukan bahwa remaja yang telah
mengancam di media sosial melaporkan ikatan emosional
dengan orangtuanya yang sangat buruk sebesar 44%,
dibandingkan dengan remaja lain yang tidak ikut terlibat
sebesar 19%.
c. Teman Sebaya
Remaja merupakan masa belajar dalam membina
hubungannya dengan orang lain. Sebagian besar interaksi
dengan teman sebaya terjadi di lingkungan perkuliahan
maupun di tempat tinggalnya yang kurang adanya peraturan
sehingga berpengaruh pada terjadinya cyberbullying.
Cyberbullying dapat terjadi pada kalangan manapun tanpa
membatasi usia, namun remaja merupakan periode yang
paling memungkinkan terjadinya cyberbullying. Goodwin
(2013) mengatakan bahwa hal tersebut dikarenakan
seseorang yang selalu berusaha mencari kelompok sosial,
menginginkan diterima secara sosial, serta menjalankan
proses pendewasaan dalam mempelajari perilaku yang benar
dan salah.
d. Faktor Psikologi sosial
Gini (2013) mengatakan bahwa perilaku cyberbullying
menimbulkan pertanyaan mengenai identitas sosial dari
perspektif individu yang diancam. Ancaman terhadap
identitas sosial mengancam harga diri dan dengan demikian
individu termotivasi untuk mempertahankan identitas sosial
mereka (Dadic, 2014).
