Asumsi-Asumsi Penting Economic Order Quantity (EOQ) (skripsi dan tesis)

Menurut Buffa dan Sarin (1996:127), model EOQ secara intuitif menarik
karena model ini meminimalkan biaya inkremental yang terkait dengan pengisian
kembali (replenishment) persediaan. Tetapi, dalam menerapkan model ini, ada
beberapa asumsi penting:
1. Permintaan rata-rata bersifat kontinyu dan konstan, digambarkan dengan
distribusi yang tidak berubah dengan waktu. Karenanya, jika ada
kecenderungan atau pengaruh musiman yang kuat dalam kebutuhan tahunan
rata-rata, R, dalam persamaan 4, model sederhana ini mungkin tidak sesuai. 2. Waktu tenggang pasokan (suplai) konstan. Meskipun asumsi ini mungkin
wajar dalam banyak situasi, waktu tenggang pasokan sering kali cukup
bervariasi. Akibat berubah-ubahnya waktu tenggang, penerimaan barang yang
dipesan menyebabkan terjadinya kelebihan sediaan bila waktu tenggang lebih
singkat daripada yang diperkirakan dan menyebabkan kehabisan sediaan
(stock out) bila waktu tenggang lebih lama daripada yang diperkirakan. Model
dasar ini tidak cocok bila waktu tenggang berubah-ubah. Tambahan lagi, penyerahan untuk semua Q bersifat seketika (instantaneous) dan tidak terjadi
secara berangsur.
3. Setiap mata sediaan bersifat independen. Model EOQ mengasumsikan bahwa
pengisian kembali satu mata sediaan tidak mempengaruhi pengisian kembali
mata sediaan yang lain. Asumsi ini sahih di banyak situasi tetapi timbul
pengecualian bila sekumpulan mata pasokan dipadukan bersama oleh rencana
produksi bersama. 4. Harga beli, dan parameter biaya CH dan CP konstan. 5. Jumlah pemesanan, EOQ, sama dengan jumlah yang dikirim (delivery
quantities). Jika lot yang dikirim lebih kecil, sediaan rata-rata dalam model
EOQ tidak sahih (valid). 2.1.3.3 Pemesanan yang Ekonomis
Menurut Buffa dan Sarin (1996:127), model EOQ secara intuitif menarik
karena model ini meminimalkan biaya inkremental yang terkait dengan pengisian
kembali (replenishment) persediaan. Tetapi, dalam menerapkan model ini, ada
beberapa asumsi penting:
Oleh karena persediaan bahan-bahan yang diadakan telah dipakai untuk
proses produksi, maka bahan-bahan tersebut harus disediakan lagi untuk proses
produksi selanjutnya. Untuk dapat disediakannya bahan-bahan itu, maka
bahanbahan tersebut harus dipesan lagi. Pemesanan yang dilakukan hendaknya
ekonomis atau efisien, di mana jumlah yang dipesan haruslah didasarkan atas
kebutuhan untuk proses produksi dan pertimbangan-pertimbangan biaya yang
terjadi akibat pemesanan bahan dalam jumlah terebut.
Dalam usaha untuk menutupi kebutuhan persediaan, maka dilakukan
kegiatan pemesanan bahan. Pemesanan bahan yang dibutuhkan pada saat
persediaan mencapai titik tertentu (order point system), dan pemesanan yang
dilakukan pada saat di mana waktu tertentu yang telah ditetapkan dicapai (order
cycle system)
1. Order Point System
Yang dimaksud dengan order point system adalah suatu sistem atau
cara pemesanan bahan, di mana pesanan dilakukan apabila persediaan yang
ada telah mencapai suatu tingkat tertentu. Jadi dengan order point system, ditentukan jumlah persediaan pada tingkat tertentu yang merupakan batas
waktu dilakukannya pemesanan yang disebut ”order point” atau ”reorder
point”. Apabila bahan-bahan yang tersedia terus dipergunakan, maka jumlah
persediaan makin menurun dan sampai suatu saat akan mencapai titik batas di
mana pemesanan harus dilakukan kembali. Dalam sistem ini pesanan yang
diadakan dalam jumlah yang tetap dari bahan-bahan yang dipesan yang disebut
juga dengan ”fixed order quantity system”. Oleh karena pemesanan dilakukan
pada waktu persediaan yang ada mencapai titik atau tingkat tertentu, maka
jarak waktu pemesanan antara satu pesanan dengan pesanan lain, tidaklah
sama, yang tergantung pada fluktuasi penggunaan bahan dalam persediaan dan
fluktuasi waktu antara pesanan diadakan sampai dengan bahan-bahan yang
dipesan diterima di gudang perusahaan pabrik. Keuntungan dari sistem ini adalah pengawasan atas jumlah dan waktu
pemesanan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Kesukaran pelaksanaan
sistem pemesanan ini adalah apabila perusahaan menggunakan bahan-bahan
atau barang-barang dalam persediaan yang terdiri dari beberapa jenis, sedangkan saat pemesanan jenis barang/bahan yang satu dengan yang lain
tidak sama. Dalam pelaksanaan sistem pemesanan seperti ini biasanya dapat
dilakukan dalam dua variasi yaitu yang disebut dengan ”two bin and bag
account system” dan ”one storage bin system” a. Two bin and bag account system
Dengan cara ini, perusahaan menggunakan dua kantong (bin) di mana
kantong pertama merupakan tempat persediaan bahan-bahan yang
jumlahnya sama dengan jumlah persediaan pada tingkat “order point” dan
berfungsi sebagai persediaan cadangan. Sedangkan persediaan bahan- bahan selebihnya ditempatkan pada kantong kedua. Penggunaan bahan- bahan, mula-mula diambil dari kantong kedua sampai habis, dan pada saat
kantong kedua habis maka pemesanan kembali harus dilakukan. Cara atau
sistem ini adalah sederhana dan mudah untuk dilakukan pengendalian
bahan maupun pencatatan. b. One storage bin system
Dengan cara ini, perusahaan banyak menggunakan satu kantong
persediaan. Di dalam kantong persediaan (storage bin) ini diadakan
pembagian terhadap persediaan yaitu menjadi dua bagian. Bagian pertama
untuk memenuhi atau menyuplai kebutuhan bahan-bahan sehari-hari/rutin, dan bagian kedua untuk memenuhi kebutuhan atau penggunaan bahan-
bahan selama periode pengisian kembali. Cara ini memberi keuntungan
berupa kesederhanaan dalam pencatatan persediaan
2. Order Cycle System
Yang dimaksud dengan order cycle system adalah suatu sistem atau
cara pemesanan bahan di mana jarak atau interval waktu dari pemesanan tetap, misalnya tiap-tiap minggu atau tiap-tiap bulan. Jadi, dengan order cycle
system ditentukan waktu pemesanan dengan jarak yang tetap. Sedangkan tiaptiap pesanan mempunyai jumlah barang yang berfluktuasi tergantung pada
banyaknya pemakaian bahan dalam jarak interval waktu antara pesanan yang
lalu dengan pesanan berikutnya. Oleh karena didasarkan pada jarak waktu
yang tetap, maka pemesanan dilakukan tanpa memperhatikan jumlah
persediaan yang masih ada. Order cycle system dapat digunakan untuk
mengawasi persediaan barang-barang yang banyak jeninya serta lebih tinggi
nilainya, akan tetapi pengendalian persediaan model ini kaku dan mahal, karena pada waktu tertentu setiap jenis bahan-bahan barang-barang dalam
persediaan harus diperhatikan dan harus diadakan perkiraan lebih dahulu
mengenai kemungkinan turun dan naiknya pemakaian penggunaan bahan- bahan. Bila terjadi kesalahan perkiraan dapat mengakibatkan persediaan yang
berlebihan ataupun kehabisan persediaan