Pengertian Burnout (skripsi dan tesis)a

Menurut Maslach (2005) burnout adalah perasaan yang lebih dari sedih atau
memiliki hari yang buruk. Ini adalah situasi yang terjadi secara menahun yang
berhubungan dengan sebuah pekerjaan, dan bisa menyebabkan situasi yang sangat
krisis di dalam hidup. Burnout adalah sindrom kelelahan emosional,
depersonalisasi, dan penurunan prestasi pribadi yang dapat terjadi antara individuindividu yang melakukan “orang-karya” dari beberapa jenis. Ini adalah respon
terhadap ketegangan emosional kronis yang berurusan secara ekstensif dengan
manusia lain, terutama ketika mereka kesulitan atau mengalami masalah.
Dengan demikian, burnout dapat dianggap sebagai salah satu jenis stres kerja.
Meskipun memiliki beberapa efek buruk yang sama seperti respon stress lain, apa
yang unik tentang burnout adalah bahwa stres muncul dari interaksi sosial antara
pemberi dan penerima. Burnout memberikan dampak yang berkepanjangan
terhadap kehidupan. Kesehatan fisik dan mental akan sangat terganggu, bahkan
bisa menyebabkan seseorang menjadi sakit atau depresi.
Menurut Cherniss (dalam Sukamto, 1998) menggambarkan burnout sebagai
penarikan diri secara psikologis dari pekerjaan yang dilakukan sebagai reaksi atas
stres dan ketidakpuasan terhadap situasi kerja yang berlebihan atau
UNIVERSITAS MEDAN AREA
berkepanjangan. Pines dan Aronson (1988) mengungkapkan bahwa burnout
merupakan bentuk ketegangan atau tekanan psikis yang berhubungan dengan stres
yang kronik, dialami dari hari ke hari, serta ditandai dengan kelelahan fisik,
mental dan emosional. Hal tersebut menunjukkan bahwa burnout berbeda dengan
stres.
Menurut Greenberg (2004) terlalu banyak pekerjaan atau sering frustrasi di
tempat kerja dapat menyebabkan sindrom kelelahan fisik dan emosional. Sindrom
ini disebut kelelahan (burnout). Burnout adalah suatu kondisi pekerjaan yang
menyebabkan stres reaksi negatif dengan komponen psikologis,
psychophysiological, dan perilaku.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa burnout merupakan satu kondisi
mental, emosional dan kelelahan fisik yang dihasilkan dari bekerja dengan orang
dan organisasi yang komplek melebihi rentang waktu yang secara emosional
merupakan situasi kelelahan.
2. Ciri-ciri burnout
Adapun ciri-ciri dari seseorang yang mengalami burnout (Maslach, 2003)
adalah:
1. Kehilangan tenaga. Seseorang sangat merasakan stres dan merasa sangat
lelah. Seseorang akan mengalami insomnia atau sulit untuk tidur malam,
tetapi mereka harus bangun di pagi hari. Seseorang mencoba melarikan diri
dari kenyataan yang ada, menjauh seketika tetapi ketika mereka kembali
hubungan tersebut masih sama buruknya dengan sebelumnya. Hal ini sangat
berat dirasakan oleh seseorang.
2. Kehilangan semangat. Gairah seseorang dalam bekerja akan hilang dan akan
berganti menjadi sikap atau pandangan yang negatif. Segala sesuatu tentang
pekerjaan menjadi salah: klien menjadi beban, atasan dan rekan kerja menjadi
ancaman. Kualitas tertentu yang dibawa di dalam sebuah hubungan seperti
keahlian, ide kreatif, sifat perasa, akan kehilangan gairah dan terlihat
membosankan. Bukannya mencoba untuk bangkit dan melakukan yang
terbaik untuk itu, mereka hanya akan memperlihatkan yang minimal.
3. Kehilangan keyakinan. Tanpa kekuatan dan keterlibatan aktif dalam
pekerjaan, sulit untuk menemukan alasan untuk terus berjalan. Mereka
merasa kurang efektif, semakin mereka akan memiliki keraguan yang
mengganggu tentang diri sendiri.
Sedangkan menurut Pines dan Aronson (1988) ciri-ciri umum burnout, yaitu:
1. Sakit fisik dicirikan seperti sakit kepala, demam, sakit punggung, tegang pada
otot leher dan bahu, sering flu, susah tidur, dan rasa letih yang kronis.
2. Kelelahan emosional dicirikan seperti rasa bosan, mudah tersinggung,
sinisme, suka marah, gelisah, putus asa, sedih, tertekan, dan tidak berdaya.
3. Kelelahan mental dicirikan seperti acuh tak acuh pada lingkungan, sikap
negatif terhadap orang lain, konsep diri yang rendah, putus asa dengan jalan
hidup, dan merasa tidak berharga.
3. Faktor Penyebab Burnout
Menurut Leiter & Maslach (1997) burnout biasanya terjadi karena adanya
ketidaksesuaian antara pekerjaan dengan pekerja. Ketika adanya perbedaan yang
sangat besar antara individu yang bekerja dengan pekerjaannya akan
mempengaruhi performasi kerja. Leiter & Maslach (1997) membagi beberapa
faktor yang mempengaruhi munculnya burnout, yaitu:
1. Work Overloaded
Work overload kemungkinan terjadi akibat ketidaksesuaian antara pekerja
dengan pekerjaannya. Pekerja terlalu banyak melakukan pekerjaan dengan
waktu yang sedikit. Overload terjadi karena pekerjaan yang dikerjakan
melebihi kapasitas kemampuan manusia yang memiliki keterbatasan. Hal ini
dapat menyebabkan menurunnya kualitas pekerja, hubungan yang tidak sehat
di lingkungan pekerjaan, menurunkan kreativitas pekerja, dan menyebabkan
burnout.
2. Lack of Work Control
Semua orang memiliki keinginan untuk memiliki kesempatan dalam
membuat pilihan, keputusan, menggunakan kemampuannya untuk berfikir
dan menyelesaikan masalah, dan meraih prestasi. Adanya aturan terkadang
membuat pekerja memiliki batasan dalam berinovasi, merasa kurang
memiliki tanggung jawab dengan hasil yang mereka dapat karena adanya
kontrol yang terlalu ketat dari atasan.
3. Rewarded for Work
Kurangnya apresiasi dari lingkungan kerja membuat pekerja merasa tidak
bernilai. Apresiasi bukan hanya dilihat dari pemberian bonus (uang), tetapi
hubungan yang terjalin baik antar pekerja, pekerja dengan atasan turut
memberikan dampak pada pekerja. Adanya apresiasi yang diberikan akan
meningkatkan afeksi positif dari pekerja yang juga merupakan nilai penting
dalam menunjukkan bahwa seseorang sudah bekerja dengan baik.
4. Breakdown in Community
Pekerja yang kurang memiliki rasa belongingness terhadap lingkungan
kerjanya (komunitas) akan menyebabkan kurangnya rasa keterikatan positif
di tempat kerja. Seseorang akan bekerja dengan maksimal ketika memiliki
kenyamanan, kebahagiaan yang terjalin dengan rasa saling menghargai, tetapi
terkadang lingkungan kerja melakukan sebaliknya. Ada kesenjangan baik
antar pekerja maupun dengan atasan, sibuk dengan diri sendiri, tidak
memiliki quality time dengan rekan kerja. Terkadang teknologi seperti
handphone, computer membuat seseorang cenderung menghilangkan social
contact dengan orang di sekitar. Hubungan yang baik seperti sharing,
bercanda bersama perlu untuk dilakukan dalam menjalin ikatan yang kuat
dengan rekan kerja. Hubungan yang tidak baik membuat suasana di
lingkungan kerja tidak nyaman, full of anger, frustasi, cemas, dan merasa
tidak dihargai. Hal ini membuat dukungan sosial menjadi tidak baik, kurang
rasa saling membantu antar rekan kerja.
5. Treated Fairly
Perasaan tidak diperlakukan tidak adil juga merupakan faktor terjadinya
burnout. Adil berarti saling menghargai dan menerima perbedaan. Adanya
rasa saling menghargai akan menimbulkan rasa keterikatan dengan komunitas
(lingkungan kerja). Pekerja merasa tidak percaya dengan lingkungan kerjanya
ketika tidak ada keadilan. Rasa ketidakadilan biasa dirasakan pada saat masa
promosi kerja, atau ketika pekerja disalahkan ketika mereka tidak melakukan
kesalahan.
6. Dealing with Conflict Values
Pekerjaan dapat membuat pekerja melakukan sesuatu yang tidak sesuai
dengan nilai mereka. Misalnya seorang sales terkadang harus berbohong agar
produk yang ditawarkan bisa terjual. Namun hal ini dapat menyebabkan
seseorang menurunkan performa, kualitas kerjanya karena tidak sesuai
dengan nilai yang dimiliki. Seseorang akan melakukan yang terbaik ketika
melakukan apa yang sesuai dengan nilai, belief, menjaga integritas dan self
respect.
Selanjutnya, Sullivan (1989) menjelaskan beberapa faktor yang dapat
menyebabkan burnout sebagai berikut :
1. Environmental Factor
Faktor lingkungan merupakan faktor yang berkaitan dengan konflik peran,
beban kerja yang berlebihan, kurangnya dukungan sosial, keterlibatan
terhadap pekerjaan, tingkat fleksibilitas waktu kerja. Dalam keluarga, faktor
lingkungan termasuk dalam jumlah anak, keterlibatan dalam keluarga, dan
kualitas hubungan dengan anggota keluarga.
2. Individual Factor
Faktor individu meliputi faktor demografik seperti jenis kelamin, etnis, usia,
status perkawinan, latar belakang pendidikan; faktor kepribadian seperti tipe
keperibadian introvert atau extrovert, konsep diri, kebutuhan, motivasi,
kemampuan dalam mengendalikan emosi, dan locus of control.
3. Social Cultural Factor
Faktor social cultural berkaitan dengan nilai, norma, kepercayaan yang dianut
dalam masyarakat yang berkaitan dengan pelayanan sosial.
Berdasarkan uraian di atas maka faktor-faktor yang menjadi penyebab
burnout adalah work overload, lack of work, rewarded for work, breakdown in
community, treated fairly, dealing with conflict values, environmental factor,
individual factor, dan social factor.
4. Aspek Burnout
Terdapat beberapa aspek dari burnout (Maslach, 2003), yaitu:
1. Emotional exhaustion atau kelelahan emosional yaitu orang-orang merasa
emosi mereka terkuras dan habis. Mereka kekurangan energi untuk
menghadapi hari lain. Sumber daya emosional mereka habis, dan tidak ada
sumber pengisian.
2. Depersonalization atau depersonalisasi yaitu orang-orang merasa depresi
akan tugas-tugas yang diberikannya kepadanya. Mereka merasa jenuh dengan
berbagai tuntutan sehingga mereka akan mengabaikan permintaan-permintaan
yang dituntut oleh pekerjaan.
3. Reduced personal accomplishment atau penurunan prestasi yaitu seseorang
merasa tidak yakin tentang kemampuan mereka untuk berhubungan dengan
orang lain sehingga hal ini akan memungkinkan mereka membebankan diri
dengan sebuah keputusan “kegagalan.”
Sementara itu, menurut Baron dan Greenberg (1990) juga mengemukakan
empat aspek burnout, yaitu:
UNIVERSITAS MEDAN AREA
1. Kelelahan fisik, yang ditandai dengan serangan sakit kepala, susah tidur,
kurang nafsu makan.
2. Kelelahan emosional, ditandai dengan depresi, perasaan tidak berdaya,
merasa terperangkap dalam pekerjaannya, mudah marah serta cepat
tersinggung.
3. Kelelahan mental, ditandai dengan bersikap sinis terhadap orang lain, bersifat
negatif terhadap orang lain, cenderung merugikan diri sendiri, pekerjaan,
organisasi dan kehidupan pada umumnya.
4. Rendahnya penghargaan terhadap diri, ditandai dengan tidak pernah puas
terhadap hasil kerja sendiri, merasa tidak pernah melakukan sesuatu yang
bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.
Dengan demikian dapat disimpulkan aspek-aspek burnout adalah emotional
exhaustion, depersonalization dan reduced personal accomplishment.