Burnout (Kelelahan Kerja) (skripsi dan tesis)

a. Definisi Burnout
Burnout merupakan kondisi kelelahan akibat pekerjaan yang
berlebihan yang dilakukan secara terus menerus dan monoton. Burnout
merupakan sindrom psikologis yang terdiri dari tiga dimensi yaitu,
kelelahan emosional, depersonalisasi, dan rendahnya penghargaan
terhadap diri sendiri dalam melakukan tugasnya sehari-hari. Hal ini juga
dapat menyebabkan motivasi kerja seseorang yang mengalami burnout
jadi menurun (Maslach, 2001).
Burnout adalah perubahan sikap dan perilaku seseorang dalam
bentuk reaksi menarik diri secara psikologis dari pekerjaan, seperti
menjaga jarak dari orang disekitarnya maupun bersikap sinis dengan
mereka, membolos dari pekerjaan, sering datang terlambat, dan
mempunyai keinginan berpindah tempat kerja yang tinggi (Cherniss,
1987).
Burnout sebagai suatu kondisi kelelahan fisik, mental, dan
emosional yang dialami oleh seseorang yang bekerja pada sektor
pelayanan sosial yang cukup lama yang disebabkan karena orang
tersebut memberikan sesuatu secara maksimal, namun memperoleh
apresiasi yang minimal (Pines dan Aronson, 1981).
Dari pengertian burnout menurut para ahli di atas, dapat
disimpulkan bahwa burnout adalah serangkaian gejala seperti kelelahan
fisik dan kelelahan emosional sehingga berdampak negatif yang timbul
akibat stress berkepanjangan. Burnout memiliki arti penting di dalam
sebuah perusahaan, karena burnout harus diperhatikan agar tidak sering
terjadi kepada para karyawan. Tidak hanya karyawan yang memiliki
strata di bawah, namun atasan juga bisa mengalami terjadinya burnout.
Cara untuk mengurangi intensitas burnout yang terjadi adalah dengan
cara memahami apa yang dirasakan oleh diri sendiri. Seringkali terjadi
kelelahan akibat pekerjaan yang menumpuk atau deadline yang harus
cepat diselesaikan, kita tidak boleh terlalu memforsir tubuh kita untuk
terlalu lelah dalam bekerja, seharusnya bisa agak sedikit relaksasi
dengan cara mendengarkan musik kesukaan atau bisa dengan bercerita
dengan teman dekat jika sudah mulai merasakan gejala-gejala burnout.
Akibat dari burnout adalah bisa membuat kepuasan kerja dan motivasi
dalam bekerja menjadi menurun, lalu bisa menyebabkan depresi atau
stress bahkan bisa terjadinya keinginan seseorang untuk berpindah
kerja.
b. Faktor-faktor Burnout
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya burnout,
contohnya ada faktor individu. Seorang manusia tidak hanya memiliki
peranan yang khas di dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga
memiliki kepribadian dan pola tingkah laku yang spesifik di dalam
dirinya. Faktor individu yang berhubungan dengan burnout antara lain
adalah (Maslach & Jackson (Cherniss, 1987):
a) Jenis kelamin
Wanita yang mengalami burnout cenderung sering
mengalami kelelahan emosional, sedangkan pria yang
mengalami burnout cenderung mengalami depersonalisasi.
b) Usia
Pekerja yang berusia masih muda akan lebih tinggi
mengalami gejala burnout dibandingkan dengan pekerja
yang berusia lebih tua. Tidak ada batasan umur di dalam
kriteria pekerja yang berusia muda ataupun tua.
c) Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan juga turut mempunyai peran dalam
burnout, hal ini didasari kenyataan bahwa stress yang terkait
dengan adanya masalah pekerjaan seringkali dialami oleh
karyawan yang memiliki pendidikan yang rendah.
Faktor lainnya dari burnout bisa terjadi karena beberapa faktor,
yaitu menurut (Keksi Girindra, 2017):
a) Penghasilan, adanya perbedaan penghasilan juga berkaitan
dengan status kepegawaian dan instasi perusahaan yang
mana ada perusahaan negeri dan swasta dengan status
menjadi pegawai tetap atau tidak tetap. Status ini dapat
menjadi penentuan besaran penghasilan yang akan diterima.
b) Jam kerja, semakin lama jam kerja maka akan semakin
tinggi resiko pekerja yang akan mengalami burnout.
Bertambahnya jam kerja juga akan menambah banyaknya
aktivitas yang dilakukan. Baik aktivitas fisik maupun non
fisik yang menguras energi.
c) Tingkat pendidikan, semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang, maka semakin tinggi juga tingkat burnout yang
dialami. Dalam pekerjaan, tingkat pendidikan akan
berbanding lurus dengan jenis pekerjaan dan tanggung
jawab pekerjaan.
c. Indikator Burnout
Burnout memiliki tiga indikator yang mampu dijadikan tolak
ukur burnout, yaitu menurut Maslach & Leiter (1997) dalam Friane
(2017):
a) Exhaustion (kelelahan)
Kelelahan di dalam burnout dapat ditandai dengan adanya
kelelahan dalam waktu yang sangat lama yang terjadi baik
secara mental, fisik, dan emosional.
b) Cynicism (sinis)
Dapat ditandai dengan sikap sinis atau acuh tak acuh dan
cenderung akan menarik diri dari lingkungan kerja dan
teman-temannya.
c) Ineffectiveness (tidak efektif)
Dapat ditandai dengan sebuah perasaan yang tidak berdaya
dan akan merasa jika semua tugas dan pekerjaan yang
diberikan berat untuknya.
Menurut (Greenberg and Baron, 2003) yaitu berupa kelelahan
fisik, kelelahan emosional, rendahnya motivasi kerja dan penurunan
rasa percaya diri, lalu yang terakhir ada depersonalisasi.
a) Kelelahan fisik
Kekurangan energi pada diri seseorang dengan merasa
kelelahan dalam waktu yang berkepanjangan dan akan
menunjukkan sebuah keluhan fisik seperti demam, sakit
kepala, susah tidur atau insomnia, dan perubahan nafsu
makan yang diekspresikan dengan kurangnya semangat
dalam bekerja.
b) Kelelahan emosional
Merupakan kondisi burnout yang berwujud perasaan
sebagai hasil dari tuntutan emosional yang berlebihan yang
ditandai dengan hilangnya perasaan dan perhatian. Orang
yang mengalami ini akan merasa bahwa hidupnya kosong,
akan merasa lelah, dan tidak dapat untuk mengatasi tuntutan
pekerjaaan.
c) Penurunan prestasi pribadi
Dapat ditandai dengan rendahnya motivasi kerja, dan
penurunan rasa percaya diri. Seringkali kondisi tersebut
akan terlihat pada rendahnya tingkat prestasi yang akan
dicapai.
d) Depersonalisasi
Depersonalisasi bisa ditandai dengan menjauhnya individu
dari lingkungan sosial dan tidak peduli dengan lingkungan
serta orang-orang disekitarnya.
d. Dampak Burnout
Dampak burnout bagi individu adalah memburuknya kualitas
hubungan rumah tangga, masalah kesehatan, dan hubungan yang buruk
dengan rekan kerja (Jackson (dalam Jewell dan Siegall, 1998). Dampak
burnout bagi organisasi menurut Jackson (dalam Jewel & Siegall, 1998)
adalah pelayanan yang berkualitas rendah bagi pelanggan atau klien,
dan rendahnya tingkat keterlibatan kerja dan meningkatnya turnover
intention (berpindah kerja).