Seorang yang bersifat relativis akan merasa bahwa tindakan moral
tergantung pada situasi dan lingkungan dari individu yang terlibat dengan
tidak mengindahkan prinsip-prinsip yang ada, sehingga pada akhirnya
melakukan tindakan yang melanggar etika. Relativisme beranggapan
bahwa tidak ada standar etis yang secara absolute benar. Jika individu
relativis dihadapkan pada situasi yang tidak etis, maka mereka akan
memberikan tanggapan yang berbeda dari individu yang idealis.
Asumsi tersebut diatas didukung oleh hasil penelitian dari Dewi
(2010) yang menyatakan bahwa relativisme berpengaruh terhadap persepsi
mahasiswa atas perilaku tidak etis akuntan. Mardawati (2014) dalam
penelitiannya menyimpulkan bahwa relativisme berpengaruh positif
terhadap persepsi mahasiswa akuntansi atas perilaku tidak etis akuntan.
Lebih lanjut lagi, Diwi (2015) menyatakan relativisme berpengaruh positif
terhadap persepsi mahasiswa mengenai perilaku tidak etis akuntan.
Sedangkan Dzakirin (2013) menyimpulkan bahwa relativisme tidak
mempunyai pengaruh terhadap persepsi mahasiswa akuntansi mengenai
krisis etika akuntan profesional. Mahasiswa relativis belum tentu akan
memberikan tanggapan atau persepsi positif karena mereka masih
memperhatikan nilai-nilai etika yang berlaku dan kondisi lingkungan
sekitar dalam merespon suatu masalah etis. Kemudian, Himmah (2013)
juga menyimpulkan bahwa relativisme mahasiswa akuntansi tidak
berpengaruh terhadap persepsi etis mengenai skandal etis auditor dan
corporate manager.
