Orientasi etis adalah beragam filsafat moral pribadi yang menjadi
faktor penentu dan dimiliki oleh masing-masing individu yang
membuktikan bahwa orientasi etika dikendalikan oleh dua karakteristik
yaitu idealisme dan relativisme. Forsyth & Nye (1992) menyatakan bahwa
filsafat moral pribadi membantu mengarahkan individu ketika mereka
akan membuat suatu keputusan etis. Lebih khusus, Forsyth (1992)
menyimpulkan bahwa filsafat moral dapat mempengaruhi penilaian
praktik bisnis tertentu dan keputusan untuk terlibat dalam praktek-praktek
tersebut.
a. Idealisme
Idealisme menurut Fichte yaitu seorang pendiri idealisme di
Jerman mengatakan bahwa pandangan-pandangan dari subjek tertentu,
dengan menyandarkan keunggulan moral untuk sebuah etika manusia
yang ideal. Forsyth (1992) mengatakan bahwa seorang individu yang
idealis mempunyai prinsip bahwa merugikan individu lain adalah hal
yang selalu dapat atau harus dihindari dan mereka tidak akan
melakukan tindakan yang mengarah pada tindakan yang
berkonsekuensi negatif. Saat seorang idealis dihadapkan pada sebuah
pilihan yang akan memberikan dampak negatif terhadap orang lain,
maka seorang idealis tersebut akan mengambil pilihan yang paling
sedikit dampak negatifnya terhadap orang lain. Selain itu, seorang
dengan idealis tinggi akan memegangteguh perilaku etis di dalam
profesi yang mereka jalankan.
Namun untuk seorang dengan idealis yang lebih rendah
terkadang mereka dapat berpikiran bahwa dibutuhkan sedikit tindakan
negatif untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Lebih lanjut lagi, Forsyth
(1992) menambahkan bahwa seorang idealis akan mengambil tindakan
tegas terhadap suatu situasi yang dapat merugikan orang lain, dan
seorang idealis memiliki sikap serta pandangan yang lebih tegas
terhadap individu yang melanggar perilaku etis dalam profesinya.
Kesimpulannya, seseorang yang cenderung memiliki sifat idealis akan
berpegang teguh pada aturan moral yang bersifat universal. Idealisme
beranggapan jika sesuatu dilakukan atau dikerjakan sesuai dengan
aturan atau norma yang berlaku maka hasil yang diperoleh sesuai
dengan yang diinginkan (Mardawati 2014).
b. Relativisme
Relativisme adalah suatu sikap penolakan terhadap nilai-nilai
moral yang absolut dalam mengarahkan perilaku etis (Forsyth, 2001).
Menurut Dzakirin(2013) individu yang relativis tidak mengindahkan
prinsip-prinsip yang ada dan lebih melihat keadaan sekitar sebelum
akhirnya bertindak merespon suatu kejadian yang melanggar etika.
Relativisme etis mengacu pada pengabaian prinsip dan tidak adanya
rasa tangggung jawab individu terhadap orang lain berkaitan dengan
dampak dari tindakan yang dilakukannya. Relativisme etis berpendapat
bahwa tidak terdapat kriteria absolut bagi putusan-putusan moral. Jadi,
individu yang relativis cenderung hanya melihat kondisi lingkungan
seperti budaya dimana individu itu berada atau berdasarkan pada
kebutuhannya meskipun itu bisa berarti melakukan tindakan yang
dianggap tidak etis.
