Semua teknologi digital diciptakan untuk mendapatkan manfaatnya tetapi tidak bisa dipungkiri juga memiliki dampak negatifnya. Adapun beberapa dampak negatif bagi pengguna teknologi digital terutama bagi usia dini (C. Dyna Herlina, Benni Setiawan dan Gilang Jiwana Adikara, 2018:20). Yang pertama dapat merugikan kesehatan bayi dan balita adalah kelompok usia yang paling rentan karena kekuatan tubuhnya masih rendah. Paparan layar terlalu lama membuat mata lelah dan sakit. Kesalahan posisi tubuh ketika mengakses gawai dapat menciptakan postur tubuh yang buruk seperti tulang belakang bengkok ke samping atau ke depan. Semua orang termasuk anak-anak yang terlalu sering mengakses gawai jadi malas bergerak sehingga mengalami obesitas atau perlambatan pertumbuhan. Lebih parah, jika mereka terobsesi pada gim atau tontonan tertentu dapat mengalami kecanduan. Jika dilarang, mereka menjadi stress dan agresif terhadap orang tua. Dampak pesan digital akan memengaruhi pandangan dan pola berpikir penggunanya. Misalnya, jika seseorang sering menonton berita buruk maka ia akan berpikir dunia ini tanpa harapan. Maka konten kesedihan dan kekacauan sebaiknya tidak ditonton oleh anak-anak. Persoalan menjadi lebih rumit, kebiasaan mengakses konten tertentu ditangkap oleh penyedia layanan media digital sehingga pengguna akan diberi rekomendasi serupa terus menerus. Jika telah terjebak, maka sulit bagi pengguna untuk mengubah pola tersebut.
Dampak Teknologi Digital (skripsi dan tesis)
Ada beberapa masalah sensitif terkait konten digital: keamanan privasi, keyakinan diri (self-esteem), kekerasan, pornografi dan penipuan. Orang tua bekerja sama dengan guru memberitahu peserta didik untuk tidak menyebarkan informasi pribadi seperti tempat tinggal, sekolah, bagian tubuh pribadi, jadwal harian dan sebagainya. Peserta didik harus terhindar dari konten kekerasan dan pornografi maka guru dan orang tua wajib menyeleksi konten yang dapat diakses peserta didik di sekolah. Selain itu, tanamkan nilai-nilai anti kekerasan dan pornografi sehingga mereka dapat menolak konten sejenis itu yang muncul tibatiba. Terpaan konten sensitif dapat menganggu pertumbuhan peserta didik secara psikologis dan prilaku. Guru merekomendasikan kepada orang tua untuk memeriksakan (bullying) melalui komentar dan ancaman di media sosial kerap terjadi, pastikan anak-anak terhindar dari hal itu dengan tidak membuat hubungan sosial dengan orang asing. Jika remaja sudah telah memiliki akun sosial, ajari mereka soal penghargaan diri dan orang lain agar terhindar menjadi pelaku dan korban. Guru mengarahkan siswa untuk mengakses informasi yang penting dan bermanfaat. Diskusi dengan siswa masalah-masalah buruk yang diakibatkan media digital sesuai kelas mereka
