Corporate Ethical Virtues Model (skripsi dan tesis)

Suryandari dan Endiana (2019: 90), Riset menunjukkan bahwa motivasi orang
untuk menjadi seorang whistleblower bermacam-macam. Keputusan seseorang untuk
menjadi whistleblower mungkin dipengaruhi variabel individu atau konteks organisasi.
Variabel individu misalnya biaya dan manfaat (cost and benefit), usia, status
perkawinan, pendidikan. Konteks organsisasi seperti misalnya faktor budaya etis
(ethical culture), iklim etis (ethical climate), ukuran organisasi, struktur organisasi dan
saluran komunikasi. Ethical culture dapat diketahui dengan empirical tested study
menggunakan Corporate Ethical Virtues Model (CEV). Corporate Ethical Virtues
Model (CEV) disusun berdasarkan virtue basic theory yang dikembangkan oleh
Solomon. Model ini meliputi tujuh variabel yaitu
1). Clarity
Kejelasan (clarity) adalah bagaimana organisasi membuat aturan etika,
seperti nilai, norma atau prinsip menjadi sesuatu yang nyata dan dipahami
oleh karyawan. Derajat kejelasan menunjukkan tingkat pemahaman para
pegawai pada perilaku yang diharapkan oleh organisasi terhadap mereka.
2). Congruency senior management and local management
Kesesuaian (congruency) senior management and local management, adalah
peran atasan sebagai role model atau menjadi contoh penerapan standar etika
di organisasi atau sejauh mana atasan menerapkan standar etika dalam
perilaku mereka sehari-hari. Perilaku atasan diharapkan bisa menguatkan
standar etika yang berlaku dan meningkatkan kepercayaan karyawan
terhadap atasan. Organisasi bisa saja membuat kode etik yang jelas untuk
mengarahkan perilaku anggotanya, tetapi jika atasan sebagai sumber perilaku
normatif yang penting dalam organisasi.
3). Feasibility
Kemungkinan dilaksanakan (feasibility) adalah ketersediaan waktu,
anggaran, peralatan, informasi, dan wewenang di dalam organisasi yang
memungkinkan karyawan melaksanakan tugas-tugas mereka. Feasibility
juga terkait dengan faktor sumber daya perusahaan yang membuat
whistleblower system ini berjalan. Sebagai contoh, karyawan yang terlalu
sibuk dengan pekerjaan cenderung tidak peduli dengan lingkungan sehingga
memperkecil kemungkinan menjadi whistleblower.
4). Supportability
Dukungan (supportability) adalah sejauh mana organisasi menciptakan
suasana yang mendukung tindakan etis. Dukungan bisa berupa suasana yang
kondusif di dalam organisasi sehingga karyawan merasa nyaman untuk
bertindak etis. Organisasi bisa memperkuat aspek dukungan ini antara lain
dengan mengadakan internalisasi kode etik kepada para karyawan di dalam
organisasi, sehingga membuat karyawan makin berkomitmen dengan kode
etik organisasi.
5). Transparency
Transparan (transparency) adalah tingkatan dimana tindakan bagi pelaku
pelanggaran etika atau konsekuensinya dapat dilihat secara nyata oleh
internal perusahaan. Karyawan akan melaporkan kecurangan atau
penyalahgunaan wewenang dalam perusahaan, apabila mereka merasa akan
ada hasilnya.
6). Discussability
Dapat didiskusikan (discussability) adalah peran organisasi dalam
memfasilitasi suatu diskusi internal bagi karyawan untuk membahas hal-hal
yang bertentangan dengan kode etik. Organisasi yang memiliki tingkat
discussability tinggi dapat mendiskusikan adanya harapan normatif yang
tidak jelas, dilema moral, dan perilaku yang tidak sesuai etika.
7). Sanctionability.
Berdampak (sanctionability) adalah tingkat keyakinan karyawan bahwa
perilaku yang bertentangan dengan kode etik akan dihukum, sedangkan yang
sesuai dengan kode etik perusahaan akan mendapatkan imbalan.