Indikator turnover intention menurut Mobley et al, (1978)
antara lain sebagai berikut :
1) Memikirkan untuk keluar
Berawal ketika karyawan merasakan ketidakpuasan pada
pekerjaannya sehingga mulai berfikir untuk keluar dari
pekerjaannya.
2) Mencari alternatif pekerjaan
Pada kondisi ini karyawan berfikir untuk mencari pekerjaan di
tempat lain yang menurutnya lebih baik.
3) Niat untuk keluar
Karyawan berniat akan keluar dari perusahaan apabila sudah
mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya.
Sedangkan menurut Harnoto (2002) dalam Halimah dkk,
(2016) indikator turnover intention dapat ditandai dengan perilaku
karyawan yang meliputi : absensi meningkat, malas bekerja, berani
melanggar tata tertib bekerja, berani melakukan protes kepada atasan,
keseriusan karyawan dalam melakukan tanggung jawabnya berubah.
Indikator tersebut dapat digunakan untuk mengukur tingkat turnover
intention yang terjadi di suatu perusahaan :
1) Absensi meningkat
Karyawan dengan tingkat turnover intention yang tinggi cenderung
akan lebih malas dalam bekerja, bahkan akan sering membolos
bekerja. Hal itu dapat menyebabkan absensi yang meningkat.
2) Malas bekerja
Apabila karyawan memiliki keinginan untuk berhenti dari
pekerjaannya, maka karyawan tersebut akan malas dalam bekerja
dan memiliki kinerja yang rendah.
3) Peningkatan terhadap pelanggaran tata tertib bekerja
Karyawan yang berkeinginan untuk keluar dari pekerjaannya akan
lebih berani untuk melakukan pelanggaran tata tertib bekerja,
misalnya bolos jam kerja, berangkat kerja terlambat dan masih
banyak lagi lainnya.
4) Peningkatan protes terhadap atasan
Karyawan yang ingin keluar dari pekerjaan akan melakukan protes
terhadap atasan, biasanya mengenai timbal jasa atau pendapatan
yang diperoleh dirasa tidak sesuai dengan pekerjaan yang telah
dilakukan.
5) Perubahan perilaku positif yang berbeda dari biasanya
Apabila karyawan dengan sikap positif berubah menjadi sangat
positif lagi hal itu justru menunjukkan bahwa karyawan tersebut
berkeinginan untuk keluar dari pekerjaannya.
