Menurut Cross (2007) ada lima
tahapan proses dalam regulasi emosi,
yaitu :
a. Situation Selection (Pemilihan Situasi)
Pendekatan yang paling
berpandangan ke depan untuk
pengaturan emosi adalah pemilihan
situasi. Jenis pengaturan emosi ini
melibatkan pengambilan tindakan yang
membuatnya lebih (atau kurang)
kemungkinan bahwa kita akan berakhir
dalam situasi yang kita harapkan akan
menimbulkan emosi yang diinginkan (atau
tidak diinginkan). Dalam contoh ayah
mengambil anaknya untuk potong
rambut, pemilihan situasi diilustrasikan
oleh ayah memilih pangkas yang
menurutnya kemungkinan akan
memaksimalkan peluang bahwa anak
akan mentolerir potongan rambut. Contoh
lain termasuk menghindari rekan kerja
yang menyinggung, menyewa film lucu
setelah hari yang buruk, atau mencari
teman dengan siapa kita bisa menangis.
b. Situation Modification (Modifikasi Situasi)
Ini adalah usaha untuk
memodifikasi satu keadaan secara
langsung untuk mendatangkan suatu
keadaan baru. Modifikasi situasi yang
dimaksud di sini dapat dilakukan dengan
memodifikasi lingkungan fisik eksternal
maupun internal. Gross (2007)
menganggap bahwa upaya memodifikasi
“internal” lingkungan yaitu pada bagian
perubahan kognitif. Misalkan jika salah
satu pasangan tampak sedih, maka dapat
menghentikan interaksi marah kemudian
mengungkap kan dengan keprihatinan,
meminta maaf, atau memberikankan
dukungan.
c. Attentional Deployment (Penyebaran
Perhatian)
Penyebaran perhatian digunakan
untuk memilih aspek situasi mana yang
Anda fokuskan. Penyebaran perhatian
juga mencakup upaya untuk
berkonsentrasi secara intens pada topik
atau tugas tertentu atau untuk
menyelesaikan masalah dengan
merenungkannya. Contohnya adalah
mengalihkan perhatian Anda dari
percakapan yang berbelok dengan
menghitung ubin langit-langit.
d. Cognitive Change (Perubahan Kognitif)
Perubahan kognitif sering
digunakan untuk mengurangi respons
emosional. Perubahan kognitif mengacu
pada mengubah cara kita menilai situasi
kita untuk mengubah signifikansi
emosionalnya, baik dengan mengubah
cara kita berpikir tentang situasi atau
tentang kapasitas kita untuk mengelola
tuntutan yang ditimbulkannya. Contoh,
Anda mungkin mengingatkan diri sendiri
bahwa “ini hanya ujian” daripada melihat
ujian sebagai ukuran nilai Anda sebagai
manusia.
e. Response Modulation (Modulasi Respon)
Modulasi respons merujuk pada
upaya untuk memengaruhi
kecenderungan respons emosi begitu
setelah muncul. Modulasi respons
dilakukan dengan mengurangi perilaku
ekspresif. Contoh, modulasi respons dapat
berupa menyembunyikan rasa malu Anda
setelah gagal dalam ujian. Sasaran lain
dari modulasi respons meliputi komponen
emosi pengalaman dan fisiologis. Seperti
yang dihargai secara luas, obat dapat
digunakan untuk menargetkan respons
fisiologis seperti hiperreaktivitas jantung,
obat-obatan juga dapat digunakan untuk
menargetkan keadaan afektif seperti
kecemasan dan depresi.
