Thompson, dkk (Gross, 2008) menyatakan bahwa regulasi emosi
dibagi menjadi dua yaitu :
a. Faktor Intrinsik
Faktor intrinsik yang mempengaruhi regulsi emosi seseorang yaitu :
1) Temperamen anak
Temperamen merupakan karakteristik individu yang muncul sejak
lahir dan relatif menetap pada individu. Perbedaan temperamen
yang dimiliki individu menunjukkan perbedaan kemampuan dalam
melakukan pengaturan respon emosional terhadap situasi tertentu.
2) Sistem saraf dan fisiologis yang mendukung dan berkaitan dengan
proses pengaturan emosi.
Perbedaan kematangan sistem pendukung biologis sebagai
landasan untuk meningkatkan kemampuan emosional dan regulasi
perilaku, dimana hal tersebut telah diobservasi sepanjang masa
anak-anak. Anak dengan usia lebih tua memiliki kemampuan
emosional yang lebih baik dibandingkan dengan anak yang lebih
muda. Kematangan sistem saraf parasimpatik juga berperan
terhadap regulasi emosi dalam keadaan gelisah, aktifitas motorik
dan emosi (Porges dalam Gross, 2008).
b. Faktor Ekstrinsik
Sedangkan faktor-faktor ekstrinsik dari regulasi emosi meliputi bentuk
pengasuhan dan sosialisasi respon-respon emosi serta hubungan yang
berkembang antara anak dan pengasuh sebagai konsekuensi dari
interaksi yang penting.
1) Pengasuhan (caregiving)
Bentuk pengasuhan orangtua menjadi hal yang penting bagi proses
perkembangan regulasi emosi. Interaksi dengan orang tua, dalam
konteks emosi, mengajarkan anak bahwa penggunaan strategi
tertentu dimungkinkan berguna untuk mengurangi rangsangan
emosional dibandingkan dengan strategi lainnya (Sroufe dalam
Gross, 2008). Pengasuhan orangtua yang mendukung akan
membantu anak dalam mengembangkan kemampuan regulasi
emosinya.
2) Hubungan kelekatan (attachment)
Proses kelekatan sering diasosiasikan dengan konteks emosional
dan mempersiapkan fungsi regulasi emosi secara spesifik, sehingga
terdapat kemungkinan bahwa hal tersebut sebagai kontribusi
terhadap kemampuan regulasi emosi diri yang berkembang selama
masa anak-anak (Calkins & Hill, dalam Gross, 2008). Hubungan
kelekatan yang aman memberikan anak rasa aman dan nyaman
untuk mengekspresikan perasaan positif dan negatif, berbeda
dengan kelekatan yang tidak aman.
Menurut Brener dan Salovey (Salovey & Skuffer, 1997) terdapat
beberapa hal yang mempengaruhi strategi regulasi emosi, yaitu:
1) Usia
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa seiring berjalannya usia,
semakin dewasa individu semakin adaptif strategi regulasi emosi yang
digunakan (Gross, Richards, & John, 2004).
2) Jender atau Jenis kelamin
Peneitian yang dilakukan oleh Karista (2005) memperlihatkan
bahwa perbedaan jender atau jenis kelamin juga berhubungan dengan
perbedaan strategi regulasi emosi yang digunakan. Karista menemukan
bahwa laki-laki dewasa muda lebih banyak menyalahkan diri sendiri
saat meregulasi emosinya, sedangkan perempuan dewasa mulai
menyalahkan orang lain.
3) Pola Asuh
Polas asuh orangtua dalam mensosialitakan perasaan dan pikiran
mengenai emosi kepada anaknya (Gottman, Kayz, & Hooven dalam
Gross, Richards, & John, 2004), pada akhirnya akan mempengaruhi
adaptif atau tidaknya strategi regulasi emosi yang digunakan oleh anak
mereka (Gross, Richards, & John, 2004).
4) Pengetahuan mengenai emosi
Pengetahuan mengenai emosi berhubungan dengan bagaimana
orangtua memperkenalkan emosi-emosi tertentu kepada anaknya.
Orangtua yang mengajarkan anaknya mengenai emosi yang ia rasakan
dan memberikan label terhadap emosi yang dirasakan oleh orang lain,
akan dapat membantu mereka untuk melakukan regulasi emosi secara
lebih adaptif (Brener & Salovey dalam Salovey & Skufter, 1997)
5) Perbedaan Individual
Adanya perbedaan individual dalam meregulasi emosi, menurut
Gross (dalam Pervin, John, & Robbins, 1999), dipengaruhi oleh
tujuan, frekuensi, dan kemampuan individu. Tujuan individu dalam
meregulasi emosinya dipengaruhi oleh perbedaan individu dalam hal
penggantian dari pengalaman emosi, ekspresi, dan respons fisiologis
dalam situasi tertentu. Frekuensi merujuk pada seberapa sering
individu menggunakan strategi-strategi tertentu dalam meregulasi
emosinya, sedangkan kemampuan individu berhubungan dengan
sejauh mana tingkah laku meregulasi emosi yang dilakukan individu
dapat ditampilkan kepada lingkungan. Sejalan dengan yang dinyatakan
oleh Gross (dalam Pervin, John, & Robbins, 1999), Garnefski dan
Kraaij (2006) juga menyatakan adanya perbedaan individual dalam
penggunaan strategi regulasi emosi secara kognitif, walaupun kapasitas
regulasi emosi secara kognitif, walaupun kapasitas regulasi emosi
secara kognitif adalah hal yang umum dimiliki oleh setiap individu.
Berdasarkan beberapa faktor yang telah dijelaskan diatas, peneliti
mengacu pada faktor dari Thompson, dkk (Gross, 2008) yang menyatakan
bahwa regulasi emosi dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan faktor
ekstrinsik.
