Ada beragam faktor-faktor yang mempengaruhi Subjective WellBeing individu, yaitu:
a. Perbedaan jenis kelamin
Shuman (Eddington & Shuman, 2005) menyatakan penemuan
menarik mengenai perbedaan jenis kelamin dan Subjective Well-Being.
Wanita lebih banyak mengungkapkan afektif negatif dan depresi
dibandingkan dengan pria, dan lebih banyak mencari bantuan terapi untuk
mengatasi gangguan ini.
b. Tujuan
Diener (2009) menyatakan bahwa orang-orang merasa bahagia
ketika mereka mencapai tujuan yang dinilai tinggi dibandingkan dengan
tujuan yang dinilai rendah.
c. Spiritual
Diener (2009) menyatakan bahwa secara umum orang yang religius
cenderung untuk memiliki tingkat well-being yang lebih tinggi, dan lebih
spesifik. Partisipasi dalam pelayanan religius, afiliasi, hubungan dengan
Tuhan, dan berdoa dikaitkan dengan tingkat well-being yang lebih tinggi.
d. Hubungan sosial
Diener et al. (2005) menyatakan bahwa hubungan yang dinilai baik
tersebut harus mencakup dua dari tiga hubungan sosial berikut ini, yaitu
keluarga, teman, dan hubungan romantis. Arglye & Lu (dalam Eddington
& Shuman, 2005) menyatakan bahwa kebahagiaan berhubungan dengan
jumlah teman yang dimiliki, frekuensi bertemu, dan menjadi bagian dari
kelompok.
e. Kepribadian
Campbell (dalam Diener, 1984) menunjukkan bahwa kepuasan
terhadap diri merupakan prediktor kepuasan terhadap hidup. Tatarkiewicz
(dalam Diener, 1984) menyatakan bahwa kepribadian merupakan hal yang
lebih berpengaruh pada subjective well-being dibandingkan dengan faktor
lainnya. Hal ini dikarenakan beberapa variabel kepribadian menunjukkan
kekonsistenan dengan subjective well-being diantaranya self esteem.
