Ada 2 tradisi dalam memandang kebahagiaan yaitu kebahagiaan
eudaimonic dan hedonis.Kata eudaimonic berasal dari bahasa yunani
daimon, yang berarti diri yang sebenarnya. Kebahagiaan eudaimonic yang
bermakna kebahagiaan adalah hasil dari perjuangan untuk mencapai
aktualisasi diri, dimana dalam prosesnya akan sangat dipengaruhi oleh bakat,
nilai dan kebutuhan dari individu dalam menjalani hidup. Sedangkan
kebahagiaan hedonis memiliki kesamaan dengan filosofi hedonisme yang
memandang bahwa tujuan hidup adalah mencari kebahagiaan dan
kepuasan. Hal ini dituangkan dalam konsep subjective well-being atau
subjective well-being (Baumgardner, 2010). Dalam konsepnya subjective
well-being tergolong dalam tradisi kebahagiaan hedonisme.
Pandangan kebahagian hedonis adalah dimana pandangan hidup
yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari
kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari
perasaan-perasaan yang menyakitkan. Selain itu Hedonisme merupakan
ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan
tujuan hidup dan tindakan manusia (Wikepedia). Individu mendahulukan
kepuasaan hidup duniawi misalnya orang yang bahagia ialah orang yang
memilki hubungan sosial yang baik, optimis, pekerjaan yang memuaskan,
serta gaji yang tinggi. Oleh sebab itu mengapa subjective well-being
10
tergolong sebagai kebahagiaan hedonisme yang secara artinya adalah
kesejahteraan atau kebahagian individu yang terlihat atau dapat diukur dari
pandangan dirinya sendiri tentang makna kebahagiaan itu sendiri.
Subjective well-being merupakan evaluasi individu terhadap
kehidupannya sendiri baik secara afektif maupun kognitif. Individu merasakan
subjective well-being yang melimpah ketika mereka mengalami perasaan
yang melimpah dan hanya sedikit merasakan perasaan tidak nyaman, ketika
terlibat dalam kegiatan yang menarik dan ketika mereka merasakan banyak
kesenangan dan sedikit rasa sakit, dan ketika mereka puas dengan hidup
mereka (Diener 2000).
Sementara, menurut Veenhoven (1991) subjective well-being secara
keseluruhan bisa dipahami dalam ungkapan kepuasan hidup, kesenangan
atau kepuasan hati dan level kesenangan, sementara aspek yang berbedabeda dari subjective well-being meliputi penilaian diri seperti kepuasan atas
pekerjaan, harga diri, dan control kepercayaan. Kepuasan hidup merupakan
level di mana individu menilai kualitas hidupnya secara menyeluruh sebagai
kesatuan yang menyenangkan.
Subjective well-being didefinisikan sebagai evaluasi individu terhadap
kehidupan, yang dijelaskan dalam terminologi mengenai bagaimana dan
mengapa individu mengalami kehidupan dalam cara yang positif, sehingga
pengalaman pribadi setiap individu berkaitan dengan kualitas hidup yang
dirasakan (Diener & Diener; Diener, Biswas-Diener & Tamir, dkk., 2008).
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa subjective
well-being merupakan evaluasi subjektif individu yang meliputi tingginya
kepuasan hidup, pengalaman akan emosi yang menyenangkan (positive
affect) dan level rendah dari emosi yang negatif (negatif affect).
