Menurut Seligman (2006) mendeskripsikan aspek-aspek optimisme diantarannya: a. Aspek Permanent Adalah kemampuan seseorang untuk meyakini kejadian baik yang terjadi memiliki penyebab yang bersifat menetap seperti karekter dan bakat, kemudian kejadian buruk memiliki penyebab yang bersifat sementara seperti suasana hati dan usaha. Berdasarkan hal tersebut menunjukkan bahwa dengan adanya permanent maka seseorang memiliki keinginan untuk mengubah hidupnya untuk menjadi lebih baik, keinginan untuk mengubah hidup ini merupakan salah satu cakupan dari aspek kepuasan hidup dalam subjective well-being (Diener, 1999). b. Aspek pervasiveness Aspek ini menerangkan bagaimana pengaruh peristiwa yang dialami terhadap situasi yang berbeda dalam hidup, yaitu spesifik atau global. Orang yang optimis bila dihadapkan pada kejadian yang buruk akan membuat penjelasan yang spesifik dari kejadian itu. Bila dihadapkan dengan hal-hal baik ia akan menjelaskan hal itu diakibatkan oleh faktor yang universal. Sementara orang yang pesimis akan melihat kejadian yang baik sebagai suatu hal yang spesifik dan berlaku untuk hal-hal tertentu saja. Bila menemui kejadian buruk, ia akan menjelaskan sebagai suatu hal yang universal. c. Aspek Personalization. Merupakan gaya penjelasan yang berkaitan dengan sumber penyebab dan dibedakan menjadi internal dan eksternal (Ghufron & Risnawati, 2013). Seligman (2006) menyatakan gaya optimism menjelaskan bahwa kejadian baik memiliki penyebab yang bersifat internal dan kejadian buruk memiliki penyebab yang bersifat eksternal. Seorang yang optimis yang percaya bahwa penyebab kejadian baik yaitu internal cenderung menyukai diri nya sendiri, hal tersebut lebih baik daripada seorang yang percaya bahwa kejadian baik berasal dari orang lain atau suatu keadaan. Internal daneksternal, individu dalam menjelaskan siapa yang menjadi penyebab suatu peristiwa, diri sendiri (internal) atau orang lain (eksternal). Ketika mengalami hal buruk orang yang pesimis akan menganggap bahwaha itu terjadi karena factor dalam dirinya. Sedangkan orang optimis jika di hadapkan dengan hal buruk, maka ia akan menjelaskan bahwa itu terjadi karena faktor diluar dirinya. Mc Ginnis (1995) mengemukakan beberapa aspek-aspek dalam optimisme yaitu: a. Mempunyai pengendalian atas perasaan-perasaan dalam diri yang bersifat negatif. Merupakan kemampuan pada diri seseorang dalam mengendalikan dorongan perasaan negatif saat terdapat stimulus negatif menghampirinya dan mampu mengalihkan pada hal-hal yang lebih positif. b. Mengganggap dirinya sebagai seseorang yang mampudan bisa dalam memecahkan masalah. Merupakan bentuk keyakinan terhadap kemampuan yang ada pada diri sendiri dengan melakukan usaha penyelesaian. c. Merasa mempunyai pengendalian atas dirinya dimasa depan. Merupakan kemampuan pada diri seseorang dalam melakukan prediksi positif tentang dirinya dimasa depan dan meyakininya. d. Menerima perubahan-perubahan yang ada dalam hidupnya. Merupakan kemampuan pada diri seseorang untuk memandang positif setiap kejadian dan mampu menerimanya dengan baik. Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki optimisme mengganggap segala hal buruk yang bersifat sementara, mampu menelusuri dan menjelaskan penyebab disetiap kegagalannya, dan memiliki keyakinan atas pengendalian dimasa depan. Aspek optimisme menurut Seligman adalah permanent, pervasive, dan personalization.
