Aspek-aspek Subjective Well-Being (skripsi dan tesis)

Menurut Diener (2009) SWB terbagi dalam dua aspek umum, yaitu:

a. Aspek kognitif
Aspek kognitif adalah evaluasi dari kepuasan hidup, yang didefinisikan sebagai penilaian dari kehidupan seseorang. Evaluasi ini terbagi menjadi dua yaitu secara global dan domain tertentu. Kepuasaan hidup secara global merupakan evaluasi seseorang terhadap kehidupannya secara menyeluruh. Selanjutnya, kepuasan hidup domain adalah penilaian dalam mengevaluasi kehidupannya, seperti kesehatan fisik dan mental, pekerjaan, rekreasi, hubungan sosial dan keluarga. Kedua komponen tersebut tidak sepenuhnya terpisah karena saling berkaitan.
b. Aspek afektif Aspek afektif merefleksikan pengalaman dasar dalam peristiwa yang terjadi di dalam hidup seseorang dengan mood dan emosi terhadap peristiwa yang   menunjukkan bahwa hidup berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan. Aspek tersebut ditunjukkan dengan tingginya afek positif dan rendahnya afek negatif. Afek positif terlihat dari emosi-emosi spesifik seperti tertarik atau berminat akan sesuatu, gembira, kuat, antusias, waspada atau siap siaga, bangga, bersemangat, penuh tekad, penuh perhatian, dan aktif. Sedangkan afek negatif terlihat dari emosi-emosi spesifik seperti sedih atau susah, kecewa, bersalah, takut, bermusuhan, lekas marah, malu, gelisah, gugup, dan khawatir. Aspek-aspek SWB selanjutnya dikemukakan oleh Ryff dan Keyes (2005) yang menghasilkan suatu model kesejahteraan dalam bentuk multidimensi yang terdiri atas enam fungsi psikologis positif, yaitu:
a. Penerimaan diri
Penerimaan diri yang dimiliki seseorang bukan berarti bersikap pasif atau pasrah yang ditunjukan oleh seseorang kepada orang lain, akan tetapi pemahaman yang jelas akan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi sehingga seseorang dapat memberikan tanggapannya secara efektif agar dapat menerima dirinya sendiri (Lopez & Synder, 2007).
b. Hubungan positif dengan sesama
Diener dan Seligman (2002) menemukan bahwa hubungan sosial yang baik dengan sesama merupakan sesuatu yang diperlukan, tapi tidak cukup untuk membuat SWB seseorang tinggi. Artinya, hubungan sosial yang baik tidak membuat seseorang mempunyai SWB yang tinggi, namun seseorang dengan SWB yang tinggi mempunyai ciri-ciri berhubungan sosial yang baik.
 c. Autonomi
Ciri utama dari seorang individu yang memiliki autonomi yang baik antara lain dapat menentukan segala sesuatu seorang diri (self determining) dan mandiri. Seseorang akan mampu untuk mengambil keputusan tanpa tekanan dan campur tangan orang lain. Selain itu, orang tersebut memiliki ketahanan dalam menghadapi tekanan sosial, dapat mengatur tingkah laku dari dalam diri, serta dapat mengevaluasi diri dengan standar personal. d. Penguasaan lingkungan Seseorang yang baik dalam dimensi penguasaan lingkungan memiliki keyakinan dan kompetensi dalam mengatur kehidupan di setiap lingkungan yang ditinggalinya. Seseorang dapat mengendalikan berbagai aktivitas eksternal yang berada di lingkungannya termasuk mengatur dan mengendalikan situasi kehidupan sehari-hari, memanfaatkan kesempatan yang ada di lingkungannya, serta mampu memilih dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai pribadi.
e. Tujuan dalam hidup
Tujuan dalam hidup menjadi sangat berarti bagi proses dan keberlangsungan kehidupan seseorang. Tujuan hidup yang dimiliki membuat seseorang bisa mempunyai komitmen dalam mengejar tujuan hidupnya, seseorang akan dapat memahami makna hidup dan mampu mengatasi setiap permasalahan yang dihadapinya. Hal itu memiliki arti pada masa sekarang dan masa lalu dalam kehidupan seseorang.
 f. Pertumbuhan pribadi
Pertumbuhan pribadi merupakan gambaran dan sikap pribadi yang mampu berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mempunyai locus of control sebagai alat evaluasi, dimana seseorang tidak melihat orang lain untuk mendapatkan persetujuan, tetapi mengevaluasi diri dengan menggunakan standar pribadinya. Evaluasi diri tersebut mampu menciptakan pribadi yang mandiri sehingga dapat menjalani aktivitasnya dengan baik. Berdasarkan uraian yang sudah dipaparkan sebelumnya, tedapat dua aspek SWB yaitu aspek kognitif merupakan evaluasi dari kepuasan hidup secara menyeluruh serta kepuasan secara domain dan aspek afektif merupakan representasi mood dan emosi positif terhadap peristiwa hidup yang berjalan sesuai keinginkan yang ditandai dengan tingginya afek positif dan rendahnya afek negatif, selain itu SWB juga mencangkup enam aspek lainnya yaitu penerimaan diri merupakan sikap positif yang ditunjukan seseorang untuk menerima dirinya sendiri, hubungan positif dengan sesama merupakan seseorang yang mampu berinteraksi sosial dengan baik, autonomi merupakan kemampuan mengambil keputusan tanpa tekanan, penguasaan lingkungan merupakan kemampuan mengendalikan berbagai aktivitas, tujuan dalam hidup merupakan komitmen dalam mengejar tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi merupakan sikap pribadi seseorang yang mampu berfungsi sepenuhnya dalam menjalani aktivitasnya.