Penggolongan Piutang (skripsi dan tesis)

Piutang merupakan semua hak atau klaim terhadap pihak lain atas
uang, barang atau jasa terhadap seseorang atau perusahaan lain atas
penjualan kredit yang dilakukan. Soemarso (2010: 339) mengemukakan
bahwa piutang diklasifikasikan sebagai piutang dagang dan piutang lainlain. Piutang dapat meliputi piutang yang timbul karena penjualan produk
atau penyerahan jasa dalam rangka kegiatan usaha normal perusahaan.
Piutang yang timbul diluar kegiatan usaha normal perusahaan digolongkan
dalam piutang lain-lain.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa
piutang dapat diklasifikasikan menjadi dua (2) bagian besar, yaitu:
Piutang Dagang dan Piutang Lainlain.
a. Piutang Dagang
Piutang dagang merupakan piutang yang berasal dari penjualan
barang-barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan. Piutang ini
merupakan penjualan kredit jangka pendek kepada pelanggan.
Pembayarannya biasanya jatuh tempo 30-50 hari. Perjanjian kreditnya
merupakan persetujuan informan antara penjual dan pembeli yang di
dukung oleh dokumen-dokumen perusahaan seperti faktur pesanan
penjual dan kontrak penyerahan. Biasanya piutang dagang tidak
melibatkan bunga meskipun bunga atau biaya jasa dapat saja
ditambahkan bilamana pembayaran tidak dilakukan dalam periode
tertentu. Piutang dagang merupakan tipe piutang yang paling lazim
ditemukan dan umumnya mempunyai jumlah yang paling besar.
Piutang dagang dibagi atas dua bagian, yaitu:
1) Piutang Usaha
Menurut Kieso dan Weigand (2012: 182) bahwa piutang usaha
adalah jumlah yang terhutang oleh pelanggan untuk barang dan
jasa yang diberikan sebagai bagian dari operasi bisnis normal.
Seperti yang telah dikemukakan piutang timbul dari transaksi
penjualan kredit. Transaksi penjualan kredit terjadi apabila ada
kesepakatan antara penjual dan pembeli mengenai harga, jenis
barang maupun syarat pembayaran kemudian penjual menerbitkan
faktur penjualan sebagai dasar untuk pencatatan penjualan barulah
resmi terjadi piutang usaha. Piutang usaha diklasifikasikan dalam
neraca sebagai aktiva lancar.
2) Piutang wesel
Piutang wesel adalah suatu janji tertulis yang tidak bersyarat dari
seseorang kepada pihak lain untuk membayar sejumlah uang pada
tanggal tertentu. Piutang dalam bentuk wesel biasanya berakhir
setelah 30 hari atau paling lama 90 hari. Wesel ini dapat
diperjualbelikan kepada pihak lain jika sipemegang wesel
membutuhkan uang sebelum jatuh temponya sipemegang wesel
akan menagih dari pihak yang mengeluarkan wesel.
Menurut Kieso dan Weygand (2012: 252) Piutang wesel
atau bisa juga disebut wesel tagih dapat dikategorikan atas dua
bagian, yaitu:
a) Wesel tagih berbunga dinyatakan suatu tingkat bunga tertentu
dari jangka waktu jatuh temponya. Pihak yang menandatangani
wesel harus membayar sejumlah nilai nominal wesel ditambah
dengan bunga yang terhutang.
b) Wesel tagih tanpa bunga, pembayaran akan diterima pada saat
jatuh tempo akan sama dengan nilai nominal yang dinyatakan
dalam satu wesel tesebut.
a. Piutang Lain-lain
Menurut Smith (2009: 286) bahwa piutang lain-lain meliputi seluruh
tipe piutang lainnya. Piutang lain-lain dari berbagai transaksi seperti :
1) Penjualan sekuritas atau harta benda lain selain persediaan
2) Uang muka kepada pemegang saham, para direktur, pejabat dan
karyawan
3) Setoran atau deposito kepada kreditor, perusahaan utilitas (Perum)
dan instilasiinstilasi lainnya
4) Pembayaran dimuka atas pembelian
5) Tuntutan atas kerugian atau kerusakan
6) Harga saham yang masih harus ditagih
7) Piutang deviden dan bunga
Penjualan kredit ini akan menimbulkan resiko bagi perusahaan
jika tidak dapat ditagihnya sebagian atau bahkan mungkin seluruh dari
piutang. Oleh karena itu lalu memperhitungkan biaya atas resiko tidak
dapat ditagihnya piutang tersebut dalam bentuk bad debt expense.
Kebijakan penjualan kredit dapat menimbulkan keuntungan- keuntungan dalam bentuk:
1) Kenaikan hasil penjualan
2) Kenaikan laba. Hal ini adalah sebagai akibat dari kenaikan
dalam hasil penjualan akan dapat menimbulkan kenaikan pada laba
perusahaan.
3) Memenangkan persaingan. Dalam bisnis saat ini maka hampir
semua perusahaan melaksanakan politik penjualan kredit. Oleh
karena itu untuk menjaga posisi perusahaan di dalam persaingan
maka haruslah dilakukan politik penjualan kredit tersebut, apabila
tidak ingin merosot dalam posisi persaingan di pasar.
Menurut Gitosudarmo (2012: 82) besar kecilnya piutang
dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :
1) Volume penjualan kredit
Makin besar jumlah penjualan kredit dari keseluruhan penjualan
akan
memperbesar jumlah piutang dan sebaliknya makin kecil jumlah
penjualan kredit dari keseluruhan piutang akan memperkecil jumlah
piutang.
2) Syarat pembayaran bagi penjualan kredit
Semakin panjang batas waktu pembayaran kredit berarti semakin
besar jumlah piutangnya dan sebaliknya semakin pendek batas waktu
pembayaran kredit berarti semakin kecil besarnya jumlah piutang
3) Ketentuan tentang batas volume penjualan kredit
Apabila batas maksimal volume penjualan kredit ditetapkan dalam
jumlah yang relatif besar, maka bersarnya piutang juga semakin besar.
4) Kebiasaan membayar para pelanggan kredit
Apabila kebiasaan membayar para pelanggan dari penjualan kredit
mundur dari waktu yang dipersyaratkan maka besarnya jumlah piutang
relatif besar.
5) Kegiatan penagihan piutang dari pihak perusahaan
Apabila kegiatan penagihan piutang dari perusahaan bersifat aktif dan
pelanggan melunasinya maka besarnya jumlah piutang relatif kecil,
tetapi apabila kegiatan penagihan piutang bersifat pasif maka besarnya
jumlah piutang relatif besar.