Metode Cadangan Kerugian Piutang (skripsi dan tesis)

Metode cadangan kerugian piutang ada dua, yaitu metode cadangan dan
metode panghapusan langsung.
Menurut Baridwan, ada 2 metode pencatatan kerugian piutang, yaitu :
a. Metode penghapusan langsung
Metode ini beranggapan bahwa kerugian piutang diakui dan
dicatat menjadi beban jika tidak dapat ditagih. Piutang tidak dapat
tertagih diperoleh setelah perusahaan mendapat pemberitahuan resmi
bahwa debitur dinyatakan pailit oleh instansi yang berwenang atau
pemberitahuan debitur sendiri bahwa yang bersangkutan tidak mampu
lagi melunasi kewajibannya. Jadi perusahaan harus menghapus
dengan mendebet rekening kerugian piutang sebagai pengurang akibat
tidak tertagihnya piutang. Karena adanya piutang usaha tidak dapat
ditagih maka akan dicatat dengan jurnal :
Kerugian piutang Rp XXX
Piutang usaha Rp XXX
Apabila suatu piutang usaha yang telah dihapus ternyata
kemudian dapat ditagih, maka piutang tersebut harus dinyatakan
kembali.
Ada 2 perlakuan terhadap piutang usaha :
1) Penerimaan piutang usaha yang telah dihapus terjadi sebelum
tutup buku, maka akan dikreditkan ke rekening biaya kerugian
piutang usaha.
Jurnal :
Piutang usaha Rp XXX
Biaya kerugian piutang Rp XXX
2) Penerimaan piutang usaha yang telah dihapus terjadi sesudah
tutup buku, maka akan dikreditkan ke rekening penerimaan
piutang yang telah dihapuskan tersebut.
Jurnal :
Piutang usaha Rp XXX
Penerimaan piutang usaha yang telah dihapus Rp XXX
b. Metode cadangan
Menurut Mardiasmo (2011: 96) “Metode cadangan adalah
kerugian yang dijadikan akibat adanya piutang yang tidak dapat
ditagih harus menjadi beban periode dimana keputusan pemberian
kredit dilaksanakan”.
Metode cadangan digunakan apabila kerugian piutang yang
biasa terjadi cukup besar jumlahnya. Menurut Yusup (2009: 56) tiga
hal penting yang perlu diperhatikan dalam penerapan metode
cadangan adalah sebagai berikut :
1) Kerugian piutang tak tertagih ditentukan jumlahnya melalui
taksiran dan ditandingkan (matched) dengan penjualan pada
periode akuntansi yang sama dengan periode tarjadinya
penjualan.
2) Jumlah piutang yang ditaksir tidak akan dapat diterima
dicatat dengen mendebit rekening Kerugian Piutang dan
mengkredit rekening Cadangan Kerugian Piutang.
3) Kerugian piutang yang sesungguhnya terjadi dicatat dengan
mendebit rekening Cadangan Kerugian Piutang dan mengkredit
rekening Piutang Dagang pada saat suatu piutang dihapus dari
pembukuan.
Menurut Yusup (2009:60) menaksir jumlah piutang tidak dapat
tertagih dengan menggunakan metode cadangan dapat menggunakan
dua dasar, yaitu persentase dari penjualan dan persentase dari piutang.
1) Persentase dari Penjualan
Dasar persentase dari penjualan adalah hubungan
persentase antara jumlah penjualan kredit dengan taksiran
kerugian yang mungkin diderita karena adanya piutang tak
tertagih. Persentase ini didasarkan pada pengalaman pada
waktu-waktu yang lalu dan kebijakan kredit yang ditetapkan
perusahaan. Dasar yang digunakan bias berupa total penjualan
kredit atau bias juga penjualan kredit bersih pada tahun berjalan.
2) Persentase dari Piutang
Dasar persentase dari piutang menetapkan sutau hubungan
persentase antara jumlah piutang dengan dengan jumlah
kerugian akibat adanya piutang yang tidak tertagih. Untuk
menganalisis hal tersebut biasanya menggunakan suatu daftar
yang disebut daftar umur piutang. Dalam daftar ini debitur
(konsumen) dikelompokkan berdasarkan masa lewat waktu,
yaitu jangka waktu sejak piutang tersebut seharusnya diterima
hingga tanggal pembuatan daftar umur piutang. Analisis ini
disebut analisis umur piutang.
Menurut Zaki Baridwan, Dalam metode cadangan setiap akhir
periode dilakukan penaksiran jumlah kerugian piutang yang akan
dibebankan ke periode yang bersangkutan. Ada dua pendekatan yang
dapat digunakan untuk menentukan penaksiran kerugian piutang, yaitu
1) Pendekatan laba rugi
Menurut Efraim Ferdinan Giri, berdasarkan pendekatan ini,
penetuan taksiran piutang tidak tertagih didasarkan pada saldo
penjalan kredit atau penjualan total. Pendekatan ini diawali dengan
penetuan taksiran piutang tak tertagih (TPTT). TPTT dojitung
menggunakan data pada periode sebelumnya. Kedua, menentukan
basis perhitungan berupa, (a) penjualan total, atau (b) penjualan
kredit.