Laba Ditahan (skripsi dan tesis)

Laba ditahan menyatakan modal yang dihasilkan perusahaan yang
bersumber dari kinerja usaha, berupa laba operasi, pendapatan dari
kegiatan lainnya serta hasil dari pos-pos luar biasa lainnya. Menurut Zaki
Baridwan (2001:267) meyebutkan bahwa “Laba tidak dibagi atau ditahan
dibatasi agar para pemegang saham tidak dapat meminta pembagian
seluruh saldo laba tidak dibagi sebagai dividen, hal ini dimaksudkan agar
tidak mengganggu jalannya usaha perusahaan.”
Dari definisi tersebut dapat diterangkan bahwa laba ditahan
merupakan pendapatan yang tidak dibagikan sebagai dividen, karenanya
merupakan bentuk pembayaran interen. Laba ditahan dibatasi agar para
pemegang saham tidak dapat meminta pembagian seluruh saldo laba tidak
dibagi sebagai dividen, hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu
jalannya usaha perusahaan.
Sumber dasar laba ditahan adalah laba dari operasi. Pemegang
saham menanggung risiko terbesar dalam operasi perusahaan dan memikul
setiap kerugian atau mendapat keuntungan dari aktivitas perusahaan.
Setiap laba yang tidak dibagikan kepada para pemegang saham akan
menjadi tambahan ekuitas pemegang saham. Laba bersih berasal dari
berbagai sumber laba yang dapat dipertimbangkan, termasuk dari operasi
utama perusahaan (seperti manufaktur dan penjualan produk tertentu),
ditambah setiap kegiatan yang bersifat meniadakan (seperti menghapuskan
penyewaan ruang kantor yang tidak terpakai), ditambah hasil dari pos-pos
luar biasa. Adapun uraian pos utama yang mempengaruhi peningkatan
atau penurunan laba ditahan sebagai berikut :
a. Laba Rugi Usaha
Laporan laba rugi adalah salah satu alat yang penting dalam
mengetahui kemajuan yang dicapai perusahaan, hal ini juga berguna
dalam mengetahui seberapa besar hasil bersih (laba) atau rugi yang di
dapat oleh perusahaan dalam suatu periode.
Menurut Zaki Baridwan (2001: 31) “Laporan rugi laba adalah
suatu laporan yang menunjukan pendapatan-pendapatan biaya-biaya
dari suatu unit usaha untuk suatu periode tertentu. Selisih antara
pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya merupakan laba yang diperoleh
atau rugi yang diderita oleh perusahaan. Laporan laba rugi adalah
laporan yang menunjukan kemajuan keuangan perusahaan dan juga
merupakan tali penghubung dua neraca yang berurutan”.
Dari definisi di atas dapat di tarik kesimpulan penyajian laporan laba
rugi memuat secara terperinci usaha-usaha pendapatan dan beban. Bagi
kebanyakan pemakai laporan keuangan, laporan laba rugi ini dirasakan
lebih besar manfaatnya karena perhitungan laba rugi secara langsung
berhubungan dengan harga pasar saham yang bersangkutan dan
pembagian dividen.
Laporan laba rugi merupakan alat bantu untuk mengetahui
kemajuan yang dicapai perusahaan dan juga mengetahui berpakah hasil
bersih atau laba yang didapat dalam suatu periode. Menurut FASB
statement no.5 yang dikutip oleh Zaki Baridwan (2001: 37) dalam
bukunya “Intermediate Accounting”, menyebutkan bahwa :
“Hal-hal yang harus diperhatikan dalam laporan laba rugi adalah
1. Pendapatan
2. Biaya
3. Penghasilan
4. Laba
5. Rugi
6. Harga Perolehan”.
Dari definisi tersebut, terdapat enam kriteria yang harus
diperhatikan dalam laporan laba rugi. Kriteria-kriteria tersebut dapat
diuraikan sebagai berikut :
1. Pendapatan
Adalah aliran masuk atau kenaikan lain aktiva suatu badan usaha
atau penelusurannya (atau kombinasi keduanya) selama suatu
periode yang berasal dari penyerahan pembuatan barang,
penyerahan jasa, atau dari kegiatan lain yang merupakan kegiatan
utama perusahaan
2. Biaya
Adalah aliran keluar atau pemakaian lain aktiva atau timbulnya
utang (atau kombinasi keduanya) selama suatu periode yang
berasal dari penyerahan atau pembuatan barang, penyerahan jasa,
atau pelaksanaan dari kegiatan lain yang merupakan kegiatan
utama usaha. 3. Penghasilan
Adalah selisih penghasilan-penghasilan sesudah dikurangi biaya.
Bila pendapatan kecil daripada biaya, selisihnya sering disebut rugi
4. Laba
Adalah kenaikan modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi
sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan
usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang
mempengaruhi badan usaha selama suatu periode kecuali yang
timbul dari pendapatan atau investasi pemilik.
5. Rugi
Adalah penurunan modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi
sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan
usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang
mempengaruhi badan usaha selama suatu periode kecuali yang
timbul dari biaya atau distribusi pemilik.
6. Harga Perolehan
Adalah jumlah uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul
untuk memperoleh barang atau jasa. Jumlah ini pada saat
terjadinya transaksi akan dicatat sebagai aktiva.
b. Apropriasi Laba Ditahan
Tindakan mengapropriasikan laba ditahan adalah suatu kebijakan
yang memerlukan persetujuan dewan komisaris. Menurut FASB statement
no.5 yang dikutip oleh Donald E. Kieso, Jerry J. Weygandt, Terry
D.Warfied yang dialihbahasakan oleh Gina Gania dan Ichsan Setio Budi
dalam “Akuntansi Intermediate” (2002: 370) menyatakan bahwa
“Apropriasi laba ditahan merupakan praktek yang dapat diterima dengan
syarat bahwa hal itu diperkirakan dalam bagian modal pemegang saham di
neraca diverifikasikan secara jelas sebagai apropriasi laba ditahan”.
Sedangkan menurut Joel G. Siegel, Jae K. Shim yang
dialihbahasakan oleh Moh. Kurdi (2001: 29) Menyebutkan bahwa “Istilah
yang dipergunakan untuk menetapkan laba ditahan yang tidak
dianggarkan, yang tidak dapat disediakan untuk dividen. Penganggaran ini
dapat digunakan, misalnya untuk perluasan pabrik, dana pelunasan, dan
kemungkinan lain. Bila tidak diperlukan lagi, dijadikan cadangan”.
Dari kedua definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
apropriasi laba ditahan dipandang tidak lebih sebagai reklasifikasi laba
ditahan. Harus ditekankan bahwa apropriasi tidak menyisihkan uang kas.
Apropriasi laba ditahan mengungkapkan bahwa manajemen tidak
bermaksud membagikan kekayaan sebagai suatu dividen dalam jumlah
apropriasi karena kekayaan itu diperlukan perusahaan untuk tujuan
khusus. Laba ditahan yang tidak diapropriasi dikurangi sejumlah
apropriasi dan perkiraaan baru dibuat dan dikredit untuk jumlah yang
ditransfer.
Apabila apropriasi tidak lagi dibutuhkan baik karena terjadinya
kerugian atau karena hal itu tidak lagi dibutuhkan sebagai suatu
kemungkinan, apropriasi harus dikembalikan sebagai laba ditahan.
Menurut FASB statement no.5 yang dikutip oleh yang dikutip oleh Donald
E. Kieso, Jerry J. Weygandt, Terry D.Warfied yang dialihbahasakan oleh
Gina Gania dan Ichsan Setio Budi dalam “Akuntansi Intermediate”
(2001:370) menyatakan bahwa “Biaya-biaya ataupun kerugian-kerugian
tidak boleh dibebankan kepada apropriasi laba ditahan, dan tidak ada
bagian apropriasi yang akan ditransfer ke laba”.
Dari definisi di atas tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada
bagian apropriasi yang akan ditransfer ke laba. Biaya-biaya ataupun
kerugian-kerugian tidak boleh dibebankan kepada apropriasi laba ditahan.
Berbagai sebab diajukan apropriasi laba ditahan, seperti yang diungkapkan
oleh Donald E. Kieso, Jerry J. Weygandt, Terry D.Warfied yang
dialihbahasakan oleh Gina Gania dan Ichsan Setio Budi (2001:370)
menyebutkan bahwa “Berbagai alasan diajukan apropriasi laba ditahan
adalah adanya batasan hukum, batasan kontraktual, adanya kemungkinan
kerugian, dan perlindungan posisi modal kerja”.
Dari definisi tersebut di atas, terdapat empat kriteria yang
menyebabkan diajukannya apropriasi laba ditahan yang dapat diuraikan
sebagai berikut :
1. Batasan Hukum
Seperti disebutkan dimuka, beberapa hukum Negara Bagian (Amerika
Serikat) melarang pembelian saham treasury oleh perusahaan, kecuali
kalau laba tersedia untuk dividen. Laba ditahan dalam jumlah yang
sama dengan biaya setiap saham treasury yang diakuisisi untuk
digunakan. Laba harus ditahan untuk mengganti saham modal yang
diakuisisi sementara seperti saham treasury. 2. Batasan Kontraktual
Kontrak obligasi seringkali memuat persyaratan bahwa laba ditahan
dalam jumlah tertentu harus diapropriasikan setiap tahun selama umur
obligasi. Apropriasi yang diciptakan menurut suatu ketentuan seperti itu
biasanya disebut apropriasi untuk dana pelunasan atau apropriasi untuk
hutang obligasi.
3. Adanya Kemungkinan Atas Perkiraan Kerugian
Apropriasi dapat dibentuk untuk taksiran kerugian akibat tuntutan
hukum, kewajiban kontrak yang tidak mencantumkan, dan kontinjensi
lainnya.
4. Perlindungan Posisi Modal Kerja
Dewan komisaris dapat mengotorisasikan penciptaan suatu apropriasi
untuk modal kerja dari laba ditahan untuk menunjukan bahwa jumlah
tertentu tidak tersedia untuk dividen, karena hal itu diperlukan untuk
memelihara posisi supaya bisa berjalan kuat.