Volatilitas laba adalah derajat penyebaran laba atau indeks penyebaran distribusi laba perusahaan (Wijayanti dan Diyanti, 2016). Secara sederhana volatilitas laba dapat diartikan sebagai satu ukuran yang menunjukkan tingkat fluktuasi laba yang diperoleh perusahaan dari kegiatan operasionalnya dalam periode tertentu. Volatilitas laba juga menunjukkan tingkat risiko, yang tercermin dari besarnya simpangan atas tinggi rendahnya laba yang diperoleh perusahaan selama periode tertentu. Semakin besar simpangan, semakin tinggi volatilitas laba, yang berarti juga semakin besar risiko yang dimiliki suatu entitas (Wijayanti dan Diyanti, 2016). Penelitian-penelitian terdahulu mengenai kualitas laba menyimpulkan jika prediktabilitas laba merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas laba (Wijayanti dan Diyanti, 2016; Dichev dan Tang, 2006) dimana dalam penelitian kali ini penulis akan mengukur tingkat prediktabilitas laba menggunakan volatilitas laba dengan mengacu pada model penelitian dari Sloan (1996) yang juga pernah diteliti ulang oleh Dechow dan Dechev (2002). Menurut Dichev dan Tang, (2006) volatilitas laba yang semakin besar akan menurunkan kualitas laba yang dilaporkan. Hal ini disebabkan laba yang cenderung berfluktuasi akan menyulitkan pengguna laporan keuangan dalam memprediksi laba perusahaan di masa depan. Estimasi laba dapat menjadi bias dan menjadi tidak akurat pada kondisi laba yang berfluktuasi. Laba yang stabil adalah hal yang penting bagi perusahaan, karena volatilitas laba yang tinggi pada satu perusahaan dapat menimbulkan efek domino. Menurut Suwardjono (2014) perusahaan cenderung merasa cemas akan adanya fluktuasi laba yang timbul karena dapat menyebabkan investor mencabut investasi mereka di perusahaan. Adanya kemungkinan perusahaan tidak membagikan dividen akibat fluktuasi laba mereka membuat investor cenderung menghindari perusahaan dengan fluktuasi laba yang tinggi.
