Dalam teori signaling ini manajemen mempunyai informasi bahwa prospek masa depan sebuah perusahaan sangat baik. Maka manajer akan mengeluarkan sebuah pernyataan untuk meyakinkan investor bahwa masa depan perusahaan cerah, tapi investor akan menginginkan bukti yang nyata atas klaim dari manajer tersebut. Selanjutnya, dalam menyediakan bukti tersebut perusahaan membutuhkan biaya yang besar, jika tidak perusahaan lain dengan prospek yang kurang cerah hanya akan meniru tindakan dari perusahaan dengan prospek yang benar–benar bagus. Satu hal yang dapat dilakukan oleh manajer adalah dengan meminjam banyak uang dengan mengeluarkan hutang. Dengan begitu, mereka sedang mendemonstrasikan kepada pasar bahwa mereka mempunyai keyakinan bahwa perusahaan akan menghasilkan aliran kas di masa depan yang cukup untuk melunasi hutang – hutang tersebut. Sebaliknya, perusahaan dengan prospek yang tidak begitu bagus akan ragu – ragu untuk berhutang dalam jumlah yang besar karena mereka akan kesulitan dalam pelunasan hutang dan bahkan bisa menyebabkan kebangkrutan (Gitman dan Zutter, 2015). Menurut Gitman dan Zutter (2015), aktivitas pendanaan yang dilakukan oleh manajemen yang mana dipercaya untuk merefleksikan pandangannya terhadap nilai perusahaan. Umumnya, pendanaan dengan hutang dianggap sebagai sinyal positif yang mana manajer percaya bahwa saham “undervalued”. Dan begitu juga sebaliknya apabila perusahaan memutuskan untuk menerbitkan saham, investor khawatir bahwa ini bisa menjadi sinyal negatif, yang mana mengindikasikan bahwa manajer percaya profitabilitas perusahaan di masa depan mungkin kurang baik dan harga saham saat ini “overvalued”. Untuk itu investor akan sering menginterpretasikan bahwa pengumuman penerbitan saham sebagai bad news, dan penurnan harga saham. Selain struktur modal perusahaan forecast, kebijakan dividen, ataupun kebijakan akuntansi dapat menjadi signal bagi investor (Scott, 2016). Forecast dapat digunakan oleh manajemen untuk memberikan signal kepada investor. Selain itu, dividend juga bisa menjadi signal. Rasio payout yang tinggi bisa menjadi signal bahwa perusahaan mempunyai kepastian akan masa depannya. Dan juga, rasio payout yang tinggi bisa juga berarti perusahaan menemui prospek yang rendah pada profitabilitas proyeknya yang bisa didanai secara internal seluruhnya dengan laba ditahan. Dengan demikian, kebijakan dividend kurang efektif untuk dijadikan signal oleh manajemen. Kebijakan akuntansi juga bisa digunakan sebgai signal oleh manajemen. Contohnya, sebuah perusahaan bisa mengadopsi sejumlah kebijakan akuntansi konservatif. Perusahaan yang bagus bisa melakukan hal ini dengan tetap melaporkan laba dibandingkan dengan perusahaan yang buruk yang akan melaporkan rugi. Cara lainnya yang juga bisa digunakan oleh manajemen untuk memberikan signal kepada investor adalah dengan cara gabungan. Sebagai contoh saat perusahaan akan melakukan IPO maka perusahaan akan melakukan manajemen laba pada laporan keuangannya agar terlihat menarik oleh investor. Hal ini akan membuat laba yang dilaporkan oleh perusahaan menjadi kurang berkualitas dan tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.
