Pengertian Tingkat Hutang (skripsi dan tesis)

Kewajiban atau hutang adalah semua kewajiban keuangan
perusahaan kepada pihak-pihak lain yang belum terpenuhi,
dimana hutang ini merupakan sumber dana atau modal suatu
perusahaan (Barus dan Rica, 2014). Hutang atau liabilities
menurut Statement of Financial Accounting Concept (SFAC)
No.6 (FASB, 2010) adalah pengorbanan manfaat ekonomis yang
mungkin terjadi di masa yang akan datang yang timbul dari
kewajiban yang ada dari suatu entitas (kesatuan) tertentu untuk
mentransfer aktiva atau memberikan jasa ke entitas lainnya
dimasa yang akan datang sebagai akibat transaksi atau kejadian
di masa lalu. Kewajiban dapat diklasifikasikan menjadi dua
jenis, yaitu kewajiban lancar (kewajiban jangka pendek) dan
kewajiban jangka panjang (Kieso, 2007:200).
Menurut Subramanyam dan Wild (2010:265) utang adalah
sumber pendanaan eksternal yang lebih disukai oleh para
pemegang saham karena dua alasan: Pertama, bunga atas
sebagian besar utang jumlahnya tetap, dan jika bunga lebih kecil
daripada pengembalian atas aset operasi bersih, selisih
pengembalian tersebut akan menjadi keuntungan bagi investor
ekuitas. Kedua, bunga merupakan beban yang dapat mengurangi
pajak, sedangkan deviden tidak.
Tingkat hutang atau sering disebut dengan solvabilitas
diartikan sebagai kemampuan perusahaan untuk membayar
kewajiban jangka panjang perusahaan (Darsono dan Ashari ,
2005:76). Tingkat hutang (leverage) adalah bagian sumber
pendanaan untuk operasional perusahaan maupun investasi yang
berasal dari luar perusahaan (Sulastri, 2014).
Menurut Weston and Copeland (1997:20) tingkat hutang
(leverage) atau disebut dept rasio adalah perbandingan antara
nilai buku seluruh hutang terhadap total aktiva. Pengukuran
tingkat hutang diperoleh dari total hutang dibagi dengan total
asset. Rasio ini menekankan pentingnya pendanaan utang
dengan jalan menunjukkan persentase aktiva perusahaan yang
didukung dengan utang (Darsono dan Ashari , 2005:76).
Besarnya tingkat hutang perusahaan akan menyebabkan
perusahaan meningkatkan persistensi laba dengan tujuan untuk
mempertahankan kinerja yang baik di mata auditor dan investor
(Fanani, 2010). Selain itu dengan kinerja yang baik tersebut
maka diharapkan kreditur tetap memiliki kepercayaan terhadap
perusahaan, sehingga mudah meminjamkan dana, dan
memberikan kemudahan dalam proses pembayaran.
Berdasarkan beberapa pengertian tingkat hutang diatas
dapat disimpulkan bahwa tingkat hutang (debt to equity ratio)
merupakan perbandingan antara total hutang (hutang lancar dan
hutang jangka panjang) dan modal yang menunjukkan
kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya dengan
menggunakan modal yang ada. Besarnya tingkat hutang
perusahaan akan menyebabkan perusahaan meningkatkan
persistensi laba dengan tujuan untuk mempertahankan kinerja
yang baik di mata auditor dan investor