Menurut Tjiptono (2005:39), meyantakan bahwa seperti halnya konsep merek, terdapat makna konsep brand equity (ekuitas merek) (Feldweck, 1996; Mackay, 2001; Winter, 1991; Wood, 2000; Yoo dan Donthu, 2001). Akuntan cenderung mendefinisikan brand equity secara berbeda dengan pemasar, dimana konsep brand equity dirumuskan berdasarkan relasi antara pelanggan dan merek (consumer-oriented definitions) atau sebagai sesuatu yang diperoleh pemilik merek (company-oriented definitions). Winters (1991) mengilustrasikan situasi ini dengan pernyataan “If you ask to people to define brand equity, you are likely to get 10 (maybe 11) different answers as to what it means”.
