Teori Perilaku Terencana atau Theory of Planned Behavior (TPB) (skripsi dan tesis)

Salah satu teori klasik yang dapat digunakan untuk menganalisis faktorfaktor yang mempengaruhi niat seseorang untuk melakukan suatu tindakan adalah Teori Perilaku Terencana atau Theory of Planned Behavior (TPB) yang dikemukakan oleh Ajzen (1985). Ajzen (1991) menyebut jika TPB merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori sebelumnya yaitu Theory of Reasoned Action (TRA). TPB melengkapi TRA dengan cara melihat intensi untuk melakukan suatu hal tidak hanya dipengaruhi oleh faktor motivasional saja tetapi juga faktor kontrol yang dimiliki seseorang atas suatu tindakan misalnya saja kesempatan dan sumber daya untuk melakukan suatu tindakan (Ajzen, 1991). Titik fokus dari model TPB ini yaitu niat atau intensi yang dimiliki oleh seseorang. TPB menyebut bahwa kemungkinan seseorang akan melakukan suatu tindakan bergantung pada niat atau intensi orang tersebut untuk melakukan action tersebut (Ajzen, 1991; Dewberry & Jackson, 2018). Niat atau intensi dapat dikatakan sebagai suatu motivasi atau keinginan seseorang untuk menginvestasikan suatu usahanya atau effort-nya untuk melakukan suatu tindakan (Daxini, Ryan, Donoghue, & Barnes, 2019). Semakin tinggi niat atau intensi seseorang maka akan semakin tinggi pula kemungkinan orang tersebut untuk melakukan suatu tindakan atau action (Ajzen, 1991; Daxini dkk., 2019). Ajzen (1991) menyebut jika niat atau intensi ini secara lebih lanjut dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu sikap atas suatu tindakan (attitude), norma 14 subjektif atas suatu tindakan (subjective norm) dan kontrol perilaku persepsian (perceived behavioral control). Sikap atau attitude dapat didefinisikan sebagai suatu evaluasi seseorang baik positif maupun negatif atas suatu tindakan (Daxini dkk., 2019). Definisi lain dari sikap atau attitude ini yaitu suatu tingkat seseorang memiliki penilaian baik favorable atau unfavorable atas suatu perilaku atau behavior (Japutra, Maria, Loureiro, Molinillo, & Ekinci, 2019). Semakin tinggi atau semakin positif penilaian seseorang atas suatu tindakan, maka semakin tinggi pula niat orang tersebut untuk melakukan tindakan atau action tersebut (Daxini dkk., 2019; Japutra dkk., 2019). Faktor atau variabel kedua di dalam model TPB yaitu norma subjektif atau subjective norm. Norma subjektif merupakan suatu tingkat tekanan dan ekspektasi sosial yang dimiliki atau dirasakan seorang individu yang berasal dari orang yang merupakan referensi signifikan baginya untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan (Daxini dkk., 2019). Dengan kata lain, norma subjektif merupakan tekanan sosial persepsian yang dirasakan seorang individu untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan (Japutra dkk., 2019). Semakin tinggi norma subjektif untuk melakukan suatu tindakan, maka akan semakin tinggi pula niat atau intensi seseorang untuk melakukan tindakan tersebut (Daxini dkk., 2019; Japutra dkk., 2019). Faktor ketiga dari model TPB yaitu kontrol perilaku persepsian (perceived behavioral control). Variabel ini dapat dikatakan merupakan variabel pengembangan dari model TRA yang telah ada sebelumnya (Ajzen, 1991). Ajzen (1991) berpendapat bahwa niat seseorang untuk melakukan sesuatu tidak hanya 15 bergantung pada aspek motivasional semata, tetapi juga bergantung pada aspek kontrol aktual seseorang atas suatu tindakan. Wujud kontrol aktual seseorang atas suatu tindakan tersebut misalnya saja kesempatan dan sumber daya yang dimiliki seseorang untuk melakukan suatu tindakan (Ajzen, 1991). Daxini dkk. (2019) berpendapat bahwa kontrol perilaku persepsian merupakan persepsi individu atas kemudahan atau kesulitan bagi dirinya untuk melakukan suatu tindakan dan juga terkait dengan kondisi yang memfasilitasi (facilitating condition) seseorang tersebut untuk melakukan suatu tindakan atau yang biasa disebut sebagai situational constraint. Semakin tinggi persepsi yang dimiliki seseorang atas kontrol terhadap perilakunya maka semakin tinggi pula niat seseorang untuk melakukan suatu tindakan (Ajzen, 1991; Daxini dkk., 2019).