Teori Kognitif Sosial atau Social Cognitive Theory (SCT) (skripsi dan tesis)

Model kedua yang biasa dipakai dalam kajian terkait dengan niat atau intensi seseorang untuk melakukan suatu tindakan yaitu Teori Kognitif Sosial atau Social Cognitive Theory (SCT). Teori ini dikembangkan oleh Bandura (1989). Wang, Hung, & Huang (2019) menyebut bahwa dalam model SCT ini, terjadi hubungan kausalitas timbal balik. Dalam model kausalitas timbal balik ini, faktorfaktor pribadi internal, seperti kognitif, afektif, dan juga peristiwa biologis, pola perilaku, dan pengaruh lingkungan, merupakan faktor penentu yang bersifat interaktif yang saling mempengaruhi secara dua arah (Wang dkk., 2019). SCT mendefinisikan perilaku manusia sebagai suatu interaksi yang bersifat triadik, dinamis, dan juga bersifat timbal balik antara faktor-faktor pribadi, perilaku, dan juga faktor lingkungan (Wang dkk., 2019). Interaksi-interaksi di dalam perilaku seorang individu tersebut membentuk suatu proses kognitif. Proses kognitif di dalam diri seorang individu dipengaruhi oleh persepsi tentang efikasi diri (self-efficacy) dan juga harapan atas hasil atau  outcome expectancies (Wang dkk., 2019). Efikasi diri dapat diartikan sebagai suatu kepercayaan (belief) individu tentang kapasitas yang dimilikinya untuk menyelesaikan suatu misi suatu pekerjaan tertentu (Eizen & Desivilya, 2005). Perbedaan antara standar internal dengan pencapaian apakah akan memotivasi atau justru men-discourage seseorang sangat bergantung pada kepercayaan seseorang (efikasi diri) bahwa dirinya bisa mencapai tujuan yang telah dicanangkannya (Bandura, 1989). Seseorang yang memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi bahwa dia dapat menyelesaikan pekerjaannya secara sukses akan mengembangkan usahanya dan terus melanjutkan pekerjaannya walaupun dia sedang menghadapi kesulitan (Eizen & Desivilya, 2005). Faktor kedua dalam model ini yaitu harapan atas hasil atau outcome expectancies. Bandura (1989) berpendapat bahwa harapan atas hasil merupakan suatu insentif yang mendorong adanya pembelajaran observasional. Harapan atas hasil merupakan bagian atau komponen dari proses kognitif seseorang yang dihubungkan dengan konteks tujuan personal, moral dan standar yang akan menentukan apakah suatu tindakan akan dilakukan atau tidak dan bagaimana untuk melakukannya (Wang dkk., 2019)