Faktor yang Mempengaruhi Self-Efficacy (skripsi dan tesis)

Feist J. Dan Gregory J. F. (2011: 213) menyebutkan bahwa perkembangan self-efficacy pada seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut: 1) Pengalaman menguasai sesuatu (mastery experience) Menurut Bandura (dalam Feist J. Dan Gregory J. F., 2011: 214) pengalaman menguasai sesuatu atau mastery experiences adalah faktor yang paling mempengaruhi self-efficacy pada diri seseorang. Keberhasilan akan mampu meningkatkan ekspektasi tentang kemampuan, sedangkan kegagalan cenderung menurunkan hal tersebut. Pernyataan tersebut memberikan dampak: a) Keberhasilan akan mampu meningkatkan self-efficacy secara proporsional dengan kesulitan dari tugas. b) Tugas yang mampu diselesaikan oleh diri sendiri akan lebih efektif diselesaikan oleh diri sendiri daripada diselesaikan dengan bantuan orang lain. c) Kegagalan dapat menurunkan self-efficacy ketika seseorang merasa sudah memberikan usaha yang terbaik. d) Kegagalan yang terjadi ketika tekanan emosi yang tinggi tidak terlalu berpengaruh daripada kegagalan dalam kondisi maksimal. e) Kegagalan sebelum memperoleh pengalaman lebih berdampak pada selfefficacy daripada kegagalan setelah memperoleh pengalaman. f) Kegagalan akan berdampak sedikit pada self-efficacy seseorang terutama pada mereka yang memiliki ekspetasi kesuksesan yang tinggi. 2) Permodelan sosial (social modelling) Kesuksesan atau kegagalan orang lain sering digunakan sebagai pengukur kemampuan dari diri seseorang. Self-efficacy dapat meningkat saat mengobservasi keberhasilan seseorang yang mempunyai kompetensi setara, namun self-efficacy dapat berkurang ketika melihat orang lain yang setara gagal. Secara umum, permodelan sosial tidak memberikan dampak yang besar dalam peningkatan self-efficacy seseorang, tetapi permodelan sosial dapat memberikan dampak yang besar dalam penurunan self-efficacy, bahkan mungkin dampaknya dapat bertahan lama. 3) Persuasi sosial (social persuasion) Dampak dari persuasi sosial terhadap meningkatnya atau menurunnya self-efficacy tentunya cukup terbatas, dan harus pada kondisi yang tepat. Kondisi tersebut adalah bahwa seseorang haruslah mempercayai pihak yang melakukan persuasi karena kata-kata dari pihak yang terpercaya lebih efektif daripada kata-katadari pihak yang tidak terpercaya. Persuasi sosial paling efektif ketika dikombinasikan dengan performa sukses. Persuasi mampu meyakinkan seseorang untuk berusaha jika performa yang dilakukan terbukti sukses. 4) Kondisi fisik dan emosional (physical and emotional states) Ketika seseorang mengalami ketakutan, kecemasan yang kuat dan stres yang tinggi memungkinkan seseorang akan memilih self-efficacy yang rendah, sehingga emosi yang kuat cenderung mengurangi performa seseorang. Ormrod (2008: 23-27) juga menyebutkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan self-efficacy dari seseorang. Faktorfaktor tersebut diantaranya sebagai berikut: 1) Keberhasilan dan kegagalan sebelumnya Albert Bandura mengatakan bahwa seseorang akan lebih mungkin yakin bahwa dirinya dapat berhasil dalam tugas ketika dirinya telah berhasil pada tugas tersebut atau tugas yang mirip di masa lalu. Maka, strategi yang untuk dapat meningkatkan self-efficacy dari seseorang adalah dengan memberikan pengalaman keberhasilan dalam suatu tugas. Begitu seseorang telah mengembangkan self-efficacy yang tinggi, kegagalan sesekali tidak akan memberikan dampak yang begitu besar kepada optimismenya. 2) Pesan dari orang lain Zeldin & Pajares mengatakan bahwa self-efficacy dapat ditingkatkan dengan memberi alasan-alasan pada seseorang yang bersangkutan untuk percaya bahwa mereka dapat sukses di masa depan. Pernyataan seperti “Kamu pasti bisa jika berusaha” mampu meningkatkan kepercayaan diri dari seseorang. Tetapi menurut Schunk pengaruh optimistik tersebut cenderung cepat hilang kecuali usaha yang dilakukan benar-benar sukses. Selain itu, pesan-pesan yang tersirat juga memiliki dampak yang sama terhadap selfefficacy jika dibandingkan dengan pesan langsung. 3) Kesuksesan dan kegagalan orang lain Schunk berpendapat bahwa seseorang terkadang sering mempertimbangkan keberhasilan atau kegagalan orang lain yang dianggapnya memiliki kemampuan yang setara untuk dapat menilai peluang keberhasilan dirinya sendiri. Dengan demikian, self-efficacy dapat ditingkatkan dengan menunjukkan bahwa orang lain yang seperti mereka mampu memperoleh kesuksesan. 4) Kesuksesan dan kegagalan dalam kelompok yang lebih besar Seseorang memungkinkan memiliki self-efficacy yang lebih besar ketika mereka bekerja dalam kelompok daripada bekerja sendiri, self-efficacy tersebut dapat disebut juga dengan self-efficacy diri kolektif. Albert Bandura mengatakan bahwa self-efficacy diri kolektif tidak hanya tergantung kepada presepsi seseorang terhadap kemampuannya sendiri dan orang lain tetapi juga presepsi mereka tergantung bagaimana mereka dapat bekerja sama secara efektif dan mampu mengkoridinasikan tanggung jawab mereka. Berdasarkan uraian di atas tentang faktor yang mempengaruhi self-efficacy didapat dua pendapat. Pertama menurut Bandura yang berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi self-efficacy adalah pengalaman menguasai sesuatu, permodelan sosial, persuasi sosial, kondisi fisik dan emosional. Kedua, menurut Ormrod mengatakan faktor yang mempengaruhi self-efficacy yaitu, keberhasilan dan kegagalan sebelumnya, pesan dari orang lain, kesuksesan dan kegagalan orang lain, dan kesuksesan dan kegagalan kelompok yang lebih besar. Keempat faktor tersebut juga akan diseleksi dan disatukan oleh individu sehingga membenuk presepsi mengenai kemampuan yang dimilikinya, dan selanjutnya berpengaruh pada tinggi rendahnya self-efficacy seseorang. Tinggi rendahnya self-efficacy juga dipengaruhi oleh faktor eksternal berupa reward yang nantinya akan diterima oleh individu tersebut. Kemampuan mengenali diri sendiri dan peran yang dimiliki seseorang juga cukup berpengaruh terhadap tinggi rendahnya self-efficacy seseorang.