Aspek-Aspek Resiliensi (skripsi dan tesis)

Reivich & Shatte (2002) mengemukakan bahwa terdapat tujuh aspek resiliensi pada individu, yaitu : 1. Pengendalian Emosi (Emotion Regulation) Pengendalian emosi adalah kemampuan seseorang untuk tetap berada pada keadaan tenang dan terkendali meskipun pada kondisi yang menekan. Kondisi yang menekan memiliki hubungan yang erat dengan emosi negatif. Individu yang kurang mampu mengendalikan emosi negatif dengan baik, maka akan cenderung tidak mampu dalam membina persahabatan dan mengalami kesulitan dalam bekerja (Reivich dan Shatte, 2002). Reivich dan Shatte (2002) mengungkapkan ada dua buah keterampilan untuk memudahkan individu mampu mengatur emosi yaitu tenang dan fokus. Dua buah keterampilan ini akan membantu individu untuk mengontrol emosi yang tidak terkendali, menjaga fokus pikiran individu dan mengurangi stres yang dialami oleh individu. Hal ini bukan berarti emosi harus selalu dikontrol dan tidak dapat diekspresikan, Reivich dan Shatte mengungkapkan mengekspresikan emosi baik negatif maupun positif adalah hal yang harus dilakukan. Mengekspresikan emosi secara tepat dan terkontrol merupakan ciri dari kemampuan resiliensi (Reivich dan Shatte,2002). Gunawan (2012) mengungkapkan bahwa kemampuan mengendalikan emosi negatif merupakan suatu hal yang penting untuk dimiliki individu. Hal ini disebabkan jika emosi negatif dan destruktif semakin meningkat dan tidak tersalurkan dengan bijak maka akan berdampak pada munculnya stres dan penyakit-penyakit psikosomatis pada individu. Pada individu yang hidup sebagai orangtua tunggal, fase awal memasuki hidup sebagai orangtua tunggal adalah fase yang paling sulit untuk dihadapi (Heyman, 2010). Marah adalah emosi destruktif yang sering kali muncul ketika individu tidak dapat menerima keadaan hidup yang terjadi. Kemarahan dapat hadir akibat ketiadaaan pasangan hidup dan ketiadaan dukungan dari orang-orang terdekat dalam menghadapi masalah (Heyman, 2010). Ketika individu tidak mampu untuk mengontrol dan menyalurkan emosi negatif dalam diri dengan baik, maka dapat berdampak pada emosi yang meledak-ledak dan sulit untuk di kontrol (Gunawan, 2012). Emosi yang tidak terkontrol sering kali membuat hubungan individu dengan lingkungan menjadi kurang harmonis (Heyman, 2010). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengendalikan emosi yang baik adalah salah satu aspek penting untuk individu mencapai kemampuan resiliensi.  2. Pengendalian Dorongan (Impuls Control) Pengaturan emosi dan pengendalian dorongan memiliki hubungan yang erat, ketika individu memiliki faktor pengendalian dorongan yang tinggi maka individu akan lebih mudah dalam pengaturan emosi. Kemampuan individu dalam mengatur dorongan penting untuk menjaga agar setiap prilaku yang dilakukan oleh individu masih dalam kontrol individu sendiri dan tidak lepas kendali (Reivich dan Shatte, 2002). Pengendalian dorongan meliputi kemampuan untuk mengendalikan keinginan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri (Reivich dan Shatte, 2002). Individu yang memiliki pengendalian dorongan yang rendah maka akan lebih cepat untuk mengalami perubahan-perubahan emosi yang kemudian mengendalikan pikiran dan perilaku individu (Reivich dan Shatte, 2002). Gunawan (2012) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan individu stres dapat dibedakan menjadi dua yaitu faktor stres dan faktor nonstres. Faktor stres adalah faktor yang muncul dari luar individu dan memberikan tekanan, seperti masalah hidup saat ini yang belum terselesaikan dan masalah dari masa lalu yang belum terselesaikan. Faktor nonstres adalah dorongan stres yang muncul dari konflik di dalam diri individu sendiri seperti motivasi, memori sakit, konflik di dalam diri, imprint, alter, kebiasaan menghukum diri sendiri dan ego stage (Gunawan, 2012). Reivich dan Shatte (2002) menyebutkan bahwa pengendalian dorongan bermanfaat untuk memberikan kesempatan individu untuk berpikir mengenai respon yang tepat tentang masalah yang dihadapi. Kemampuan untuk menunda dan berespon yang tepat yang tepat adalah salah satu ciri-ciri individu yang mampu mengendalikan dorongan. Ketidakmampuan individu untuk menyalurkan dorongan-dorongan penyebab stres dengan bijak dapat berdampak pada timbulnya   emosi-emosi destruktif yang terpendam, emosi yang tidak terkontrol atau bahkan sakit-sakit psikosomatis (Gunawan, 2012). Gunawan (2012) mengungkapkan juga bahwa sumber stres yang paling sering dijumpai adalah pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan dan masalah saat ini yang belum terselesaikan. Bagi individu yang menjadi orangtua tunggal dengan masalah perceraian dan kematian, dua sumber stres tersebut adalah sumber stres yang paling tinggi memiliki dampak bagi individu. Kemampuan untuk mengatur dorongan stres yang masuk serta penyaluran tekanan mental merupakan hal yang wajib untuk individu atur dengan baik agar sistem tubuh menjadi lebih seimbang (Gunawan, 2012). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengendalikan dorongan adalah salah satu aspek penting untuk individu yang menjadi orangtua tunggal mencapai kemampuan resiliensi. 3. Optimis (Optimist) Individu yang mempunyai kemampuan resiliensi adalah individu yang optimis. Optimis adalah kepercayaan pada diri bahwa segala sesuatu akan dapat berubah menjadi lebih baik, mempunyai harapan akan masa depan dan percaya bahwa individu dapat mengontrol kehidupan seperti apa yang individu inginkan (Reivich dan Shatte, 2002). Dalam resiliensi sikap optimis yang dimiliki adalah sikap optimis yang realistis, sehingga setiap sikap optimis dalam menghadapi keadaan selaras dengan usaha untuk merealisasikan (Reivich dan Shatte, 2002). Optimis sangat berhubungan sekali dengan self efficacy, semakin tinggi self efficacy seseorang maka sikap optimis akan semakin tinggi (Reivich dan Shatte, 2002). Seligman (1991) mendefinisikan sifat optimis sebagai suatu sikap yang mengharapkan hasil yang positif dalam menghadapi masalah, dan berharap untuk mengatasi stres dan tantangan sehari-hari secara efektif. Seligman (1991) menjelaskan bahwa sikap optimis yang tinggi berasal dari dalam diri individu dan dukungan dari lingkungan yang membuat individu merasa dihargai. Chalkoun (2010) menyatakan hidup sebagai orangtua tunggal memiliki banyak gambaran negatif baik dari dalam ataupun dari lingkungan. Individu yang mampu untuk mengadopsi sikap positif dan optimis dalam kehidupan sehari-hari akan memiliki dampak hidup yang lebih bertenaga dan memiliki resiliensi yang tinggi (Chalkoun, 2010). Fakta ini menunjukkan bahwa sikap optimis adalah aspek penting bagi orangtua tunggal dalam beresiliensi. 4. Analisis Penyebab Masalah (Causal Analysis) Analisis penyebab masalah adalah kemampuan untuk mengidentifikasi penyebab dari sebuah peristiwa yang dialami oleh individu. Individu dapat menilai penyebab dari suatu permasalahan dan tidak secara langsung menyalahkan orang lain sebagai sumber masalah. Hal ini penting untuk menjaga diri individu tidak mengambil tindakan yang salah dan merugikan diri sendiri ataupun orang lain (Reivich dan Shatte, 2002). Seligman (1991) menyatakan bahwa pola pendekatan dalam analisis penyebab masalah yang baik adalah ketika individu tidak berpikir bahwa setiap masalah selalu tidak dapat berubah dan hal tersebut mempengaruhi semua aspek hidup individu dengan buruk. Fleksibilitas dalam berpikir adalah ciri utama dari individu yang mampu mengembangkan kemampuan analisis masalah dengan baik (Reivich dan Shatte, 2002). Individu yang memiliki kemampuan analisis penyebab masalah yang baik maka akan mampu untuk fokus terhadap penyelesaian masalah yang sedang dihadapi tanpa menyalahkan pihak lain diluar kontrol individu (Reivich dan Shatte, 2002). 25 Morisette (2014) mengungkapkan bahwa kemampuan untuk berpikir fleksibel adalah salah satu kemampuan yang diperlukan oleh orangtua tunggal. Konflik-konflik yang hadir baik antara orangtua dan antara orangtua dengan anak menyebabkan kemampuan berpikir fleksibel penting agar individu dapat beradaptasi dengan kreatif dan percaya diri untuk mengatasi masalah yang dihadapi (Morisette, 2014). 5. Empati (Empathy) Empati merupakan sebuah kemampuan individu untuk turut merasa atau mengidentifikasi diri dalam keadaan, perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain atau kelompok lain. Ketika individu mampu mengembangkan kemampuan empati, maka individu akan menjadi lebih mudah untuk keluar dari perasaan dan mengkondisikan diri dengan keadaan terutama yang berhubungan dengan orang lain. Kemampuan seseorang individu untuk menjadi empati terhadap orang lain menimbulkan hubungan sosial yang lebih positif. Individu yang kurang mampu mengembangkan kemampuan empati maka cenderung tidak peka terhadap perasaan orang lain dan rentan menimbulkan konflik (Reivich dan Shatte, 2002). Kemampuan untuk empati juga diperlukan pada individu yang hidup sebagai orangtua tunggal. Pickhardt (2006) mengungkapkan sikap empati pada orangtua tunggal bermanfaat agar individu mampu merasakan bahwa ada orang lain yang juga memiliki masalah sebagai orangtua tunggal. Perasaan kesamaan untuk orangtua tunggal adalah hal penting untuk tidak terjebak pada masalah yang sama berulang-ulang (Pickhardt, 2006). Individu yang mampu mengembangkan kemampuan untuk empati dengan baik maka tidak akan merasa sendiri dan mampu untuk lebih peka terhadap perasaan orang lain yang memiliki emosi yang berbedabeda (Reivich dan Shatte, 2002).  6. Efikasi Diri (Self-Efficacy) Efikasi diri menggambarkan sebuah keyakinan bahwa individu dapat memecahkan masalah dan dapat meraih kesuksesan. Individu yang memiliki keyakinan untuk dapat memecahkan masalah akan muncul seperti seorang pemimpin yang akan mampu mengarahkan diri dan tidak tergantung dengan pendapat orang lain. Individu dengan efikasi diri tinggi cenderung mencoba-coba cara yang baru untuk mengatasi suatu permasalahan dan selalu percaya bahwa masalah yang dihadapi mampu untuk dilewati (Reivich dan Shatte,2002). Priastuti (2011) mengungkapkan bahwa efikasi diri pada orangtua tunggal dapat dilihat pada kemampuan yang dimiliki oleh individu tersebut dalam menjalankan peran sebagai orangtua tunggal. Individu yang memiliki efikasi diri rendah maka akan cenderung mudah menyerah ketika mengalami kesulitan sedangkan individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan tetap teguh menghadapi masalah apabila dihadapkan pada tugas sebagai orangtua tunggal yang sulit. Hal tersebut menunjukkan bahwa Individu yang menjadi orangtua tunggal dengan efikasi diri tinggi maka akan menunjukkan sikap akan terus berusaha keras mewujudkan harapan dan resilien dengan keadaan yang dialami (Priastuti, 2011). 7. Kemampuan untuk meraih apa yang diinginkan (Reaching out) Kemampuan meraih yang diinginkan merupakan kemampuan seseorang untuk mencapai sesuatu kondisi yang diinginkan. Individu yang mampu untuk memperbaiki dan mencapai keinginan yang dituju, maka akan memiliki aspek yang lebih positif. Individu yang gagal untuk mencapai keinginan adalah individu yang merasa takut gagal untuk mencoba sebuah keinginan sehingga resolusi keinginan tidak terealisasikan. Individu yang berhasil dengan keinginan adalah individu yang   tidak takut gagal dan selalu bisa mengambil aspek positif dan pembelajaran dari setiap kegagalan dan keinginan yang tercapai (Reivich dan Shatte, 2002). Indivara (2009) mengungkapkan bahwa ketika individu hidup sebagai orangtua tunggal maka segala fokus diprioritaskan untuk anak. Keinginan pada orangtua tunggal yang utama adalah untuk menjaga agar kondisi anak dan diri untuk tetap tegar dan mampu bersyukur dalam menghadapi tekanan. Yuliawan (2014) mengungkapkan bahwa ketika seseorang mampu untuk mencapai keinginan maka hal tersebut akan menimbulkan emosi positif yang tinggi dan dapat digunakan untuk memancing emosi-emosi positif selanjutnya untuk timbul. Ketika individu sudah memiliki pilar sikap berpikir yang baik maka kegagalan tidak lagi dianggap sebagai kegagalan namun adalah sebuah pertanda ada kesalahan yang harus diperbaiki dari sebuah tindakan yang dilakukan (Yuliawan, 2014). Maka dari hal tersebut dapat dirangkum bahwa kemampuan untuk mencapai keinginan adalah hal penting bagi orangtua tunggal untuk beradaptasi dan bangkit terhadap keadaan. Berdasarkan pemaparan yang telah dikemukakan mengenai aspek-aspek resiliensi dapat dilihat bahwa aspek-aspek dari resiliensi dibedakan kedalam tujuh aspek, yaitu pengendalian emosi, pengendalian dorongan, optimis, menganalisis penyebab masalah terkait dengan kemampuan mengidentifikasi masalah, empati, efikasi diri terkait dengan keyakinan bahwa individu dapat memecahkan masalah, dan kemampuan meraih sesuatu yang diinginkan.