Proses Resiliensi (skripsi dan tesis)

sebuah sikap mengalah atau menyerah terhadap tekanan hidup yang terjadi pada diri individu. Tahapan ini dapat terjadi ketika individu mengalami tantangan  hidup yang terlalu besar dan sulit. Houlmes dan Rahe dalam Gunawan (2012) menyebutkan bahwa pada orangtua tunggal pasca kematian pasangan hidup memiliki tingkatan stres paling tinggi pada skala stres. Semakin tinggi tingkat skala stres menunjukkan bahwa sejauh mana permasalahan hidup yang dihadapi seorang individu. Houlmes dan Rahe dalam teknik rating scale tentang tingkatan stres menyatakan bahwa semakin mendekati angka 500 maka stres yang dialami individu sangatlah berat. Tidak jarang karena saking cepatnya permasalahan yang terjadi menyebabkan ketidakseimbangan dan ketidaksiapan untuk beradaptasi dengan keadaan dan menyebabkan sakit psikologis (Houlmes dan Rahe, dalam Gunawan, 2012). Tahap kedua adalah Survival, yaitu individu mampu bertahan dari kondisi yang menekan. Akan tetapi, beberapa fungsi psikologis mengalami kemunduran, seperti mengalami perasaan-perasaan negatif, dan perilaku-perilaku negatif. Pada kehidupan awal memasuki orangtua tunggal fase ini adalah fase dimana individu mulai menyalahkan keadaan. Tidak jarang menyalahkan oranglain di luar diri Individu. Individu dituntut memiliki kemampuan analisis penyebab masalah yang baik untuk tetap mampu penyelesaian masalah yang sedang dihadapi tanpa menyalahkan pihak lain diluar kontrol individu (Reivich dan Shatte, 2002). Tahap ketiga adalah tahap recovery, yaitu tahap dimana individu berada pada kondisi semula, kondisi sebelum mengalami tekanan hidup. Pada tahapan ini, individu mampu bangkit dan beradaptasi setelah terjadinya kondisi menekan. Pada fase ini individu mulai belajar mengenai cara mengatur emosi dan dorongan-dorongan dari luar agar tidak menganggu individu. Reivich dan Shatte (2002) menyebutkan bahwa sikap optimis adalah salah satu sikap yang mendorong individu lebih cepat untuk mencapai tahap recovery kembali seperti semula. Tahap terakhir adalah Thriving, yaitu individu tidak hanya dapat kembali bangkit ke kondisi semula, namun dapat melampaui fungsi psikologis yang lebih baik. Pada tahapan ini, individu dapat berfungsi lebih baik daripada sebelum terjadinya kondisi traumatik. Nasution (2011) menyebutkan hal ini dengan istilah gaya pegas, setiap individu yang menghadapi trauma kehidupan yang dihadapinya akan memiliki daya pegas yang tinggi untuk menjalani tantangan hidup serupa di depannya. Pada penelitian yang dilakukan oleh Furqon (2013) dijelaskan bahwa pada kedua janda mengalami empat proses resiliensi yang sama dengan proses resiliensi yang diungkapkan oleh O’Leary dan Ickovics (dalam Carver, 1998) yaitu: 1. Succumbing yaitu kedua responden mengalami rasa tepuruk pasca meninggal suami, bahkan salah satu responden mengalami kesedihan dan depresi yang lama, 2. Survival yaitu kedua responden mampu bertahan dan mulai menerima kondisi ditinggal suami walaupun masih sulit mengembalikan diri ke kondisi emosi positif, 3. Recovery yaitu kedua responden seiring waktu mulai kembali pada fungsi psikologis dan emosi yang positif, 4. Thriving yaitu kedua responden dapat kembali beraktifitas untuk menjalani kehidupan sehari-hari dan belajar dari pengalaman sebelumnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Berdasarkan pemaparan yang telah dikemukakan, dapat dirangkum bahwa terdapat empat proses yang dilalui oleh individu untuk dapat beresiliensi, yaitu menyerah terhadap tekanan hidup, kondisi bertahan meskipun beberapa fungsi psikologis mengalami kemunduran, kembali ke kondisi semula, dan berkembang pesat terkait dengan beberapa fungsi psikologis jauh lebih baik.