Indikator Stres Kerja (skripsi dan tesis)

Menurut Robbins (2008), indikator stres kerja terdiri dari 4 yaitu sebagai
berikut :
1) Tuntutan tugas merupakan faktor terkait dengan pekerjaan seseorang yang
meliputi desain pekerjaan (keragamaan tugas), dan kondisi kerja,
2) Tuntutan peran berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada seseorang
sebagai suatu fungsi peran dalam suatu perusahaan meliputi konflik peran dan
beban peran yang berlebihan,
3) Tuntutan antar pribadi merupakan tekanan dari karyawan lain dalam suatu
perusahaan.
Menurut Gibson (2003), penyebab stres kerja ada 4 yaitu :
1) Lingkungan fisik
Penyebab stres kerja dari lingkungan fisik berupa cahaya, suara, suhu,musik
dan udara terpolusi.
2) Individual
Tekanan individual sebagai penyebab stres kerja terdiri dari:
a) Konflik kerja
penyebab stres yang terjadi ketika adanya benturan saat menjalankan
peran-peran tertentu misalnya adanya tekanan ketika bergaul dengan
sesame rekan kerja yang tidak cocok.
b) Peran ganda
Penyebab stres yang terjadi karena adanya dua peran atau lebih yang
dijalankan dalam waktu yang bersamaan.
c) Beban kerja berlebihan
Ada dua tipe beban berlebih yaitu kuantitatif dan kualitatif. Memiliki
terlalu banyak sesuatu untuk dikerjakan atau tidak cukup waktu untuk
menyelesaikan suatu pekerjaan merupakan beban berlebih yang bersifat
kuantitatif. Beban berlebih kualitatif terjadi jika individu merasa tidak
memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan
mereka atau standar penampilan yang dituntut terlalu tinggi.
d) Kelompok
Keefektifan setiap organisasi dipengaruhi oleh sifat hubungan diantara
kelompok.Karakteristik kelompok menjadi stresor yang kuat bagi
beberapa individu.Ketidakpercayaan dari mitra pekerja secara positif
berkaitan dengan peran ganda yang tinggi, yang membawa pada
kesenjangan komunikasi diantara orang-orang dankepuasan kerja yang
rendah.
e) Organisasional
Adanya desain struktur organisasi yang jelek, politik yang jelek dan tidak
adanya kebijakan khusus
Afrizal, dkk (2014), menyatakan bahwa stres kerja merupakan salah satu faktor
yang berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kepuasan kerja. Hal ini berarti
stres yang terjadi pada karyawan akan menyebabkan penurunan kepuasan kerja
karyawan. Stres yang dialami para karyawan harus segera diatasi karena apabila
dibiarkan terus-menerus akan menurunkan kepuasan kerja karyawan. Kondisi
stress yang tidak terlalu tinggi sehingga masih dapat diantisipasi dengan
melakukan pekerjaan yang lebih baik dan menyebabkan karyawan tetap merasa
puas akan hasil pekerjaannya (Tunjungsari, 2011).
Kuei-Yun et al. (2007), dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara stres kerja dan kepuasan kerja pada perawat Taiwan. Peneliti
mengungkapkan bahwa tingkat tinggi stres kerja menurunkan tingkat kepuasan
kerja. Menurut Stamps dan Piedmonte (1986); (Vinokur-Kaplan1991); (Fletcher
dan Payne 1980) dalam Mansoor (2011), stres kerja memiliki hubungan signifikan
terhadap kepuasan kerja. Faktor organisasi seperti beban kerja dan kondisi kerja
yangberhubungan negatif dengan kepuasan kerja. Ketidakpuasan menyebabkan
sumber stres bagi karyawan, sementara kepuasan yang tinggi dapat meringankan
efek stres sehingga stres kerja dan kepuasan kerja saling terkait.Studi penelitian
tentang hubungan stres kerja dan kepuasan kerja dinyatakan juga pada penelitian
Irvine dan Evans (1995); Blegen (1993) dalam Nahar et al. (2013), menyatakan
bahwa stres kerja berhubungan negatif dengan kepuasan kerja.
Karambut (2012), menyatakan bahwa sumber stres yang paling dominan
adalah jarak tempuh yang jauh antara rumah sakit dengan tempat tinggal
responden serta masalah keuangan yang dihadapi. Tetapi dengan adanya
kontribusi kecerdasan emosional yang baik sehingga dapat mengurangi stres kerja
yang ada, dengan kemampuan mengindentifikasi perasaan, kemampuan
mengenali emosi yang terjadi, serta kemampuan mengelola emosi tersebut,
sehingga responden mampu mengatur emosinya dengan baik, serta memiliki
empati dan kemampuan berinteraksi yang baik dalam memberikan pelayanan pada
pasien.