Dalam pengembangan teori kepemimpinan terdapat tiga haluan
besar, yaitu:
a. Teori kepemimpinan berdasarkan sifat (traits theory)
b. Teori kepemimpinan berdasarkan perilaku (behavior theory)
c. Teori kepemimpinan berdasarkan situasi (situational theory)
Menurut Luthans dalam Marwan Subekti (2013), salah satu teori
kepemimpinan yang menggunakan pendekatan situasionaln adalah teori
kepemimpinan kontingensi yang dikembangkan oleh Fiedler pada tahun
1967. Teori kepemimpinan kontingensi menyatakan bahwa kinerja
pegawai yang efektif hanya dapat tercapai apabila terjadi kesamaan visi
antara tipe kepemimpinan seorang pemimpin dengan bawahannya serta
sejauh mana pemimpin mampu mengendalikan situasi. Tiga dimensi
penting yang muncul pada model kepemimpinan kontingensi, yaitu:
a. Leader-member relations (hubungan pemimpin-anggota), yaitu
hubungan pemimpin dengan anggota, besaran kadar kepercayaan serta
respek dari bawahan terhadap pemimpin.
b. Task structure (tingkat strukur tugas), yaitu kadar formalisasi dan
prosedur operasional standar pada struktur tugas yang diberikan oleh
pemimpin.
c. Position power (kekuasaan posisi pemimpin), yaitu otoritas pada suatu
situasi seperti penerimaan dan pemberhentian pegawai, disiplin,
promosi serta peningkatan upah. Teori kepemimpinan situasional lainnya dikemukakan oleh Vroom
dan Yetton pada tahun 1973 (Wahyu Hamdani, 2012). Teori yang
dinamakan teori normative Vroom-Yetton ini menjelaskan bagaimana
seorang pemimpin harus memimpin bawahan dalam berbagai situasi.
Model ini menunjukkan bahwa tidak ada satupun tipe kepemimpinan yang
dapat efektif diterapkan dalam berbagai situasi.
Pilihan mengenai tipe kepemimpinan yang akan dianut hanya efektif
jika sesuai dengan situasi yang dihadapi. Selanjutnya House dan Mitchel l
pada tahun 1974 mengemukakan teori situasional dengan berbasis pada
hasil penelitian dari Universitas Ohio (Wahyu Hamdani, 2012).
Teori yang dinamakan sebagai teori path-goal ini mengungkapkan
bahwa seorang pemimpin mempunyai tugas untuk membantu bawahan
dalam mencapai tujuan-tujuan (goal) mereka dan menyediakan petunjuk
(path) atau dukungan yang diperlukan untuk memastikan bahwa tujuan
tersebut sejalan dengan tujuan organisasi secara keseluruhan. Pada intinya,
teori path-goal menjelaskan empat perilaku pemimpin, yaitu (Wahjono,
2010) :
a. Pemimpin direktif, mengarahkan tentang apa yang harus dilakukan dan
bagaimana caranya, menjadwalkan pekerjaan, mempertahankan standar
kinerja, dan memperjelas peranan pemimpin dalam kelompok.
b. Pemimpin suportif, melakukan berbagai usaha agar pekerjaan menjadi
lebih menyenangkan, memperlakukan pengikut dengan adil, bersahabat, dan mudah bergaul serta memperhatikan kesejahteraan
bawahannya.
c. Pemimpin partisipatif, melibatkan bawahan, meminta saran bawahan
dan menggunakannya dalam proses pengambilan keputusan.
d. Pemimpin yang berorientasi pada kinerja, menentukan tujuan-tujuan
yang menantang, mengharap kinerja yang tinggi, menekankan
pentingnya kinerja yang berkelanjutan, optimistik dan memenuhi
standar-standar yang tinggi.
Intinya, teori path goal mengasumsikan bahwa pemimpin harus
fleksibel sehingga apabila situasi membutuhkan perubahan tipe
kepemimpinan, maka pemimpin mampu mengganti tipe kepemimpinannya
secara cepat. Namun Horner (Wahyu Hamdani, 2012) mengungkapkan
bahwa dari sekian banyak peneliti yang meneliti tentang teori situasional,
ternyata diketahui bahwa teori situasional sangat ambigu karena teori ini
lebih menjelaskan konsep-konsep manajerial, dengan kata lain teori
tersebut seharusnya ditujukan untuk manajer. Selain itu, teori situasional
tidak mampu menjelaskan mengenai konsep kepemimpinan itu sendiri.
Kelemahan lain dari teori ini adalah tidak menjelaskan perlu atau tidaknya
pekerja mengubah perilaku, seperti yang dilakukan pemimpin, sesuai
dengan perubahan situasi pekerjaan.
