Sistem akuntansi manajemen merupakan suatu pendekatan kontingensi dari
factor kondisional yang digunakan dalam penelitian sebagai variabel yang
memoderasi suatu hubungan. Sesuai dengan pendekatan kontingensi Otley (1980)
dalam Mardiyah dan Gudono (2001), pendekatan kontingensi akuntansi manajemen
didasarkan premis bahwa tidak ada sistem akuntansi manajemen secara universal
selalu tepat digunakan seluruh organisasi, namun sistem akuntansi manajemen hanya
sesuai (fit) untuk suatu konteks atau kondisi tertentu saja. Teori kontingensi dalam
metode penelitian mengargumenkan bahwa efektivitas desain sistem akuntansi
manajemen tergantung eksistensi perpaduan antara organisasi dengan lingkungannya.
Sistem akuntansi manajemen dikatakan variabel pemoderasi yang mempengaruhi
hasil hubungan antara penerapan TQM terhadap kinerja manajerial. Apabila sistem
akuntansi manajemen fit dengan konteks dan kondisi organisasi maka diproposisikan
akan menimbulkan kinerja superior.
Sistem akuntansi manajemen sering digunakan sebagai mekanisme untuk
memotivasi dan mempengaruhi perilaku karyawan dalam berbagai cara yang akan
memaksimalkan kesejahteraan organisasi dan karyawan. Sistem akuntansi
manajemen sebagai alat control organisasi dan alat yang efektif menyediakan
informasi yang bermanfaat guna memprediksi konsekuensi yang mungkin terjadi
diberbagai aktivitas yang dilakukan.
Penelitian yang dilakukan Kurnianingsih (2000) memberikan bukti empiris
mengenai pentingnya disain sistem akuntansi manajemen sebagai factor kontingensi
dalam upaya peningkatan kinerja. Dengan memasukkan dua factor kontingensi, yaitu
sitem pengukuran kinerja terhadap keefektifan penerapan teknik total quality
management. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya interaksi antara variabel
sistem pengukuran kinerja dan mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap
kinerja manajerial, artinya perusahaan yang menerapkan teknik TQM secara langsung
dapat meningkatkan kinerja manajerial.
Penerapan teknik TQM yang tinggi dengan sistem pengukuran kinerja yang
tinggi akan meningkatkan kinerja manajerial, begitu juga sebaliknya. Manajer akan
lebih termotivasi untuk meningkatkan kinerja manajerial, jika pengukuran kinerja
yang tinggi dalam bentuk informasi yang diperlukan yang memberikan umpan balik
untuk perbaikan dengan pembelajaran. Selain itu pemberian kompensasi yang lebih
baik kepada manajer juga memotivasi dalam peningkatan kinerja.
Sim dan Killough (1998) menyatakan adanya pengaruh interaktif antara
praktik TQM terhadap kinerja denga desain sistem akuntasni manajemen. Salah satu
fungsi dari sistem akuntansi manajemen adalah menyediakan informasi penting untuk
membantu manajer mengendalikan aktivitasnya serta membantu mengurangi
ketidakpastian lingkungan dalam usaha mencapai tujuan organisasi dengan sukses.
Budaya organisasi dalam penelitian juga digunakan sebagai variabel yang
memoderasi suatu hubungan dan sebagai faktor kontingensi dalam upaya peningkatan
kinerja. Nasution (2001) mengungkapkan bahwa dalam pelaksanaan sistem
manajemen kualitas dalam lingkungan global diperlukan sebuah perubahan besar
dalam budaya dan system nilai suatu organisasi. Untuk pencapaian kualitas dalam
dua sisi yaitu hard side of quality dan soft side of quality, sumber daya manusia yang
ada dalam organisasi harus mau dan memiliki komitmen yang tinggi untuk mencapai
tujuan tersebut. Oleh karena itu, perubahan budaya organisasi diperlukan untuk
menciptakan kualitas yang baik sehingga mampu menghasilkan kinerja yang lebih
tinggi
