Banyaknya penelitian dan aneka ragam pelatihan atau training mengenai
kepemimpinan mengindikasikan betapa diperlukannya kepemimpinan yang baik
dengan keberhasilan sebuah organisasi. Keberhasilan sebuah organisasi
melibatkan pengaruh dari para pimpinannya dan juga relasi dengan para
anggotanya untuk meraih tujuan organisasi. Menurut Timpe, pemimpin yang
efektif menggunakan banyak sarana, baik yang rumit maupun sederhana, agar
dapat mempengaruhi dan memimpin individu atau kelompok untuk menjadi
kreatif dan produktif (Timpe, 1987).
Kreativitas adalah suatu proses yang sangat “pribadi” yang dapat
terdorong atau terhambat oleh sikap-sikap manajemen (Timpe, 1987). Oleh karena
sangat “pribadi’ itulah para pemimpin atau anggota lain dalam organisasi dapat
mendorong atau menghambat – dalam aneka bentuk – kreativitas seseorang,
termasuk kinerja kreatif. Kreativitas anggota sangat diperlukan dalam pencapaian
tujuan organisasi karena mempengaruhi competitive advantage dari organisasi.
Berdasarkan hal tersebut hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
H1. Kepemimpinan Positif berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja
Kreatif para anggota organisasi.
Bandura (Gupta, 2014) menyatakan para pemimpin sangat mempengaruhi
persepsi para anggotanya, baik melalui berbagai macam pengalaman, aneka
pembelajaran, dan juga pemberian feedback. Mereka memainkan peran penting
dalam mengulang kesuksesan para anggotanya. Para pemimpin tersebut dapat
29
memecahkan masalah yang kompleks menjadi tugas-tugas yang lebih sederhana,
didefinisikan secara jelas mengenai peran dan tanggungjawab anggota, serta dapat
meningkatkan pemberdayaan anggota dalam pelaksanaan tugas.
Rego et al (Gupta, 2014) menekankan bahwa prilaku teladan dan
kekuatan psikologis pemimpin dalam menerima kritik dan umpan balik secara
hormat, dapat mengembangkan kemampuan dan kepercayaan diri anggota
menjadi lebih besar untuk meraih tujuan.
Bila karyawan atau anggota mengalami kegagalan atau kesalahan,
pemimpin dapat menerimanya di tempat kerja dan tidak ada yang perlu merasa
kecewa mengenai masalah tersebut. Feedback yang positif, dukungan, kembali
memulai lagi sesuatu yang lebih berarti serta identifikasi dalam pekerjaan, mampu
membantu karyawan atau anggota organisasi memiliki daya tahan atau daya
juang. Pemimpin dapat meyakinkan anggotanya bahwa mereka memiliki support
atau dukungan yang mereka butuhkan.
Kapasitas psikologi yang terdiri dari empat pilar ; self-efficacy, hope,
optimism, dan resilience menjadi aspek-aspek penting dibandingkan bila hanya
berfokus pada satu aspek individu saja. Diharapkan dengan adanya kombinasi
dengan motivasi dapat memberi pengaruh yang lebih luas dan lebih baik dalam
membangun individu tersebut (Luthans dalam Gupta and Singh : 2014).
Pemimpin yang memiliki prilaku positif, pengaruh sinergis pada beberapa
kemampuan Modal Psikologis dapat menyebabkan terjadinya pengembangan diri
seseorang sehingga mampu pula mempengaruhi perkembangan lainnya, termasuk
kinerja.
Berdasarkan argument diatas, dapat disusun hipotesis berikut :
H2. Kepemimpinan Positif berpengaruh positif dan signifikan terhadap Modal
Psikologi.
Menurut Amabile (dalam Zubair dan Kamal : 2015) Kreativitas adalah
sebuah proses datangnya ide-ide segar untuk perubahan produk, pelayanan jasa,
dan juga proses untuk meraih tujuan organisasi yang lebih baik lagi. Lebih lanjut
lagi dijelaskan bahwa kreativitas adalah landasan pembaharu di dalam organisasi.
Kreativitas itu sendiri dapat menjadi aktivitas berisiko tinggi sebagai
kegiatan kreatif yang memberikan kecemasan atau kekhawatiran dengan risiko
kegagalan dan ejekan. Individu yang lebih tinggi dalam self-efficacy lebih
mungkin untuk melakukan kegiatan berisiko dan menantang seperti kreatif
keterlibatan tugas. Self-efficacy adalah kemampuan umum yang sangat essential
untuk produktivitas kreatif. Begitu pula dengan aspek hope, optimism, dan
resilience.
Berdasarkan argumentasi tersebut maka dapat disusun hipotesis berikut :
H3 : Modal Psikologi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Kreatif
anggota organisasi.
Modal Psikologi menjadi variabel intervening atau mediasi. Variabel
intervening adalah istilah yang dibuat untuk menunjukkan pada proses-proses
psikologis yang bersifat internal dan tak teramati, yang pada gilirannya mengacu
pada prilaku (Riadi, 2016). Modal Psikologi menyediakan sebuah pendekatan
sumber daya manusia yang baru dalam membantu anggota untuk membangun
kemampuan yang mereka butuhkan di tempat kerja. Tempat kerja manapun secara
umum membutuhkan Kinerja Kreatif dari dalam diri (internal) yang gigih untuk
bergerak melampaui tantangan dan kemunduran yang melekat. Kinerja Kreatif
juga berkaitan dengan kemampuan beradaptasi dengan aneka macam perubahan
baik di dalam organisasi maupun di luar lingkup organisasi.
Bagian-bagian yang menjadi aspek dari Modal Psikologi (efficacy, hope,
optimism, and resilience) dibutuhkan dimana seseorang diharapkan mampu
bertahan menghadapi perubahan dan kebutuhan akan pemecahan masalah yang
membutuhkan Kinerja Kreatif. Hal ini dijabarkan dalam penelitian yang dilakukan
oleh Luthan et al (Fred Luthans, James B. Avey, 2011).
Dalam penelitiannya, Rego et al (Gupta, 2014) menguji pula relasi antara
kepemimpinan yang otentik, model psikologi dan kreatifitas. Penelitian tersebut
menggunakan kombinasi pengukuran kreativitas dan tidak membedakan antara
prilaku kreatif dan prilaku outcomes.
Berdasarkan beberapa argument diatas, peneliti menyusun hipotesis yang
berkaitan dengan Modal Psikologi anggota berelasi dengan Kinerja Kreatif.
Anggota yang memiliki Modal Psikologi yang tinggi dapat menghasilkan prilaku
kreatif.
Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, peneliti membuat hipotesis
berikut:
H4 : Modal Psikologi menjadi variabel pemediasi dari pengaruh Kepemimpinan
Positif terhadap Kinerja Kreatif anggota organisasi.
