Dimensi Psychological Capital (skripsi dan tesis)

Terdapat empat dimensi
dalam psychological capital yaitu self- efficacy, optimism, hope dan resiliency
(Luthans dkk, 2007).
a. Self-efficacy (keyakinan diri terhadap keberhasilan)
Istilah Self-efficacy muncul pertama kali dalam teori belajar sosial
Albert Bandura. Menurut teori ini, self-efficacy membuat perbedaan pada
bagaimana orang merasa, berpikir, berperilaku, dan memotivasi diri.
Bandura menjelaskan pentingnya self-efficacy sebagai keyakinan yang
berfungsi sebagai serangkaian tindakan penting yang dapat mempengaruhi
motivasi, afektif, dan tindakan individu (Zulkosky, 2009). Sementara itu
Luthan dkk. (2007: 38) mendefinisikan Self-efficacy sebagai keyakinan
individu tentang kemampuannya untuk memobilisasi motivasi, sumber
daya kognitif, dan tindakan yang diperlukan untuk berhasil melaksanakan
suatu tugas dalam konteks tertentu. Luthans dkk. (2007: 38) mengemukakan
bahwa orang yang memiliki efikasi diri memiliki karakteristik :
a) Mampu menentukan target yang tinggi bagi dirinya dan mampu
mengerjakan tugas-tugas yang sulit.
b) Menerima tantangan dengan senang.
c) Memiliki motivasi yang tinggi.
d) Melakukan berbagai usaha untuk mencapai tujuan atau target yang telah
mereka buat.
e) Gigih ketika dihadapkan pada sebuah hambatan.
Sebaliknya individu yang memiliki self efficacy rendah, cenderung akan
memiliki keragu-raguan, umpan balik negatif, kritik sosial, kegagalan yang
berulang (Luthans dkk, 2007).
b. Optimism
Menurut Luthans dkk. (2007), dalam konteks psychological capital, sifat
optimism bukan hanya tentang memprediksi bahwa hal-hal yang baik akan
terjadi dikemudian, melainkan juga meliputi alasan dan atribusi yang
digunakan untuk menjelaskan suatu kejadian, baik itu kejadian yang positif,
negatif, yang terjadi dimasa lampau, masa kini maupun masa yang akan
datang. Sedangkan menurut Chang (dalam Chusniyah & Pitaloka, 2012),
optimism sebagai konstruk kognitif terdiri dari keyakinan umum atas hasil
positif berdasarkan perkiraan rasional dari kecenderungan seseorang untuk
meraih kesuksesan dan keyakinan akan kemampuan seseorang untuk
meraihnya. Individu dengan optimisme yang tinggi akan mampu merasakan
implikasi secara kognitif dan emosional ketika mendapatkan kesuksesan.
Individu dengan optimism yang tinggi mampu menentukan nasibnya sendiri
meskipun mendapatkan tekanan dari orang lain, mampu memberikan
ucapan terima kasih kepada semua pihak yang terkait ketika dirinya
mencapai kesuksesan (Luthans dkk, 2007).
c. Hope
Snyder (dalam Luthans dkk, 2007:66) mendefinisikan harapan sebagai
positive motivational state atau kondisi motivasi positif yang didasari oleh
interaksi akan perasaan sukses yaitu (1) agency/ willpower (goal-directed
energy atau kekuatan-keinginan) dan (2) pathways (planning to meet goals
atau perencanaan untuk mencapai tujuan). Dengan kata lain, harapan
terdiri dari dua komponen penting, yaitu; komponen pertama adalah
agency/ willpower yang merupakan persepsi bahwa tujuannya akan
mampu dicapai. Agency merupakan motivasi mental individu untuk
memulai usaha dalam meraih tujuan (Snyder dalam Chusniyah & Pitaloka,
2012). Keyakinan akan keberhasilan ini, meliputi kemampuan
mengoptimalisasikan energi guna mencapai keberhasilan, tidak hanya pada
masa sekarang atau yang akan datang, melainkan juga adanya jejak atau
pengalaman keberhasilan pada waktu sebelumnya (Chusniyah & Pitaloka,
2012). Komponen kedua adalah pathway thinking yang merupakan
kemampuan untuk mengenali dan melihat jalan dalam mencapai tujuan.
Suatu rute atau jalan piker yang mampu memberikan gambaran dan
prediksi tentang cara yang akan ditempuh untuk meraih tujuan (Snyder
dalam Chusniyah & Pitaloka, 2012).
d. Resiliency
Resiliency didefinisikan sebagai kemampuan untuk “memantul kembali”
atau bangkit dari kesulitan, konflik, kegagalan, sehingga dapat
menciptakan perubahan positif, kemajuan dan peningkatan tanggung
jawab (Luthans dkk, 2007). Berbeda dengan self-efficacy, optimism, dan
hope yang lebih bersifat proaktif, ketahanan dari seseorang lebih bersifat
reaktif, yang terjadi ketika seseorang berhadapan dengan perubahan,
ketidakbaikan, atau ketidakpastian (Luthans dkk. dalam Yuniarti &
Muchtar, 2014).
Berdasarkan uraian diatas, dimensi-dimensi pada psyhological capital
saling bersinergi atau berinteraksi satu sama lain. Apabila psyhological capital
hanya dianalisis satu atau beberapa karakteristik saja, penelitian tersebut menjadi
tidak memadai karena psyhological capital tidak akan menjadi “psyhological
capital” apabila salah satu dari dimensinya tidak ada (Luthans dalam Rolos, 2016).
Melalui dimensi psychological capital maka dapat diperoleh gambaran,
sebagai berikut, yaitu apabila mahasiswa yakin akan kemampuannya dalam
menyelesaikan semua tugas yang dia miliki (self efficacy) dan percaya bahwa
kesulitan yang dihadapi hanya berlangsung sementara (optimism) maka mahasiswa
akan tetap bertahan dan bangkit kembali dari kegagalan dan kesulitan yang
dihadapinya (resiliency) sehingga dalam menjalani kehidupannya sebagai
mahasiswa dan sebagai pekerja, mahasiswa tetap memiliki harapan dan tujuan pada
pencapaian keberhasilan dalam akademiknya (hope). Mahasiswa yang optimis
dapat mencapai tujuan akan lebih termotivasi dan berupaya dalam menghadapi
segala tekanan yang berasal dari kehidupannya sebagai mahasiswa maupun pekerja
sehingga menjadikan diri mereka menjadi lebih tahan banting (resilien).
Berdasarkan uraian dimensi psychological capital dari Luthans dkk. (2007) diatas,
maka dapat diambil kesimpulan bahwa dimensi psychological capital terdiri atas:
self-efficacy, optimism, hope dan resiliency. Dimensi psychological capital dari
Luthans dkk. (2007) tersebut akan peneliti gunakan untuk mengungkap
psychological capital pada mahasiswa yang bekerja. C. pengaruh Psychological Capital Terhadap Psychological Well-Being
Pada Mahasiswa Yang Bekerja
Mahasiswa yang bekerja adalah individu yang sudah bekerja dan
menggunakan sebagian waktunya untuk belajar secara reguler ataupun non-reguler
dengan waktu yang dapat dipilih seperti pada sore hari ataupun pada pagi hari
bahkan pada akhir minggu terutama untuk menyesuaikan waktu antara belajar dan
bekerja (Abdullah dan Dan dalam Salam, 2015). Menurut Utami, Hardjono &
Karyanta (2014), sebagai mahasiswa yang merupakan bagian dari sebuah lembaga
pendidikan tinggi, mahasiswa dituntut untuk memiliki kemandirian dan tanggung
jawab untuk menyelesaikan tugas akademik yang telah ditetapkan, guna mencapai
kompetensi yang diharapkan oleh perguruan tinggi yang menjadi almamaternya.
Agar dapat mencapai kompetensi yang diharapkan maka mahasiswa harus
mampu mengatasi setiap tuntutan yang berasal dari lingkungannya dan merasakan
psychological well-being pada kegiatannya tersebut. Psychological well-being
sendiri dapat dicapai apabila individu berupaya untuk mewujudkan tujuan-tujuan
hidupnya hingga dapat mengembangkan diri selengkap mungkin, serta mampu
mewujudkan kebahagiaan yang disertai dengan pemaknaan hidup yang ditandai
dengan diperolehnya kebahagiaan, kepuasan hidup, dan tidak adanya tanda-tanda
depresi (Ryff dalam Megawati & Herdiyanto, 2016; Putri dan Rustika, 2017).
Winefield dkk. (dalam Sarirah, 2016), mengungkapkan dalam penelitiannya
bahwasannya seseorang yang memiliki psychological well-being yang positif
cenderung memiliki tekanan psikologis yang rendah, begitu juga sebaliknya
seseorang yang memiliki psychological well-being yang rendah cenderung
mengalami tekanan psikologis yang tinggi.
Berdasarkan uraian diatas, maka psychological well-being penting untuk
diupayakan oleh semua mahasiswa, karena psychological well-being merupakan
kunci bagi individu agar menjadi sehat secara mental. Kondisi mental yang sehat
mengarahkan individu untuk berusaha mencapai keseimbangan dalam hidup
dengan menerima kualitas positif dan negatif diri, menyadari potensi yang dimiliki,
mampu menyesuaikan diri dengan kondisi yang sulit, serta mampu memberikan
kontribusi kepada orang lain dan lingkungan (Putri & Rustika, 2017).
Diantara beberapa faktor yang mempengaruhi psychological well-being,
penelitian ini hanya menitikberatkan pada faktor psychological capital.
Psychological capital sendiri merupakan bagian dari positive organizational
behavior yang didefinisikan oleh Luthans dkk (2007) sebagai suatu studi dan
aplikasi yang memiliki orientasi positif dari kekuatan sumber daya manusia dan
kemampuan psikologis yang bisa diukur, dikembangkan, dan diatur secara efektif
untuk meningkatkan performa pada lingkungan pekerjaan (Mikko, 2012). Oleh
karena itu penelitian tentang psychological capital lebih banyak ditemukan dalam
penelitian dalam lingkungan organisasi dan selalu menjadi faktor penting dalam
meningkatkan produktivitas karyawan (Nafees & Jahan, 2017).
Psychological capital sendiri diartikan sebagai sebuah kapasitas psikologi
positif individu, yang dicirikan oleh adanya keyakinan diri atau efikasi diri dalam
melakukan tindakan dan mengerahkan usaha agar berhasil dalam melakukan tugastugas yang menantang (self efficacy); kekuatan berfikir positif dalam mencapai
kesuksesan dimasa kini dan masa depan (optimism); keadaan emosional positif
untuk menjaga fokus pada tujuan, dan jika diperlukan, mengarahkan kembali jalan
menuju tujuan agar berhasil (hope); dan ketika individu dihadapkan pada masalah
dan kesulitan tetap dapat bertahan dan kembali bangkit, bahkan melampaui
sebelumnya untuk mencapai sukses (resiliency). Terdapat empat dimensi yang
dapat membentuk psychological capital pada diri individu, yaitu self efficacy,
optimism, hope, dan resiliency (Luthans dkk, 2007).
Dimensi pertama, self-efficacy memiliki kaitan erat dengan psychologycal
well-being. Penelitian Siddiqui (2015), mengungkapkan bahwa self efficacy
memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap semua dimensi pada
psychological well-being. Jika self efficacy meningkat maka akan diikuti dengan
meningkatnya psychological well-being sebaliknya jika self efficay rendah maka
akan semakin rendah psychological well-being pada individu. Menurut Rego dkk
(dalam Octaviani, Ilhamuddin & Susilawati, 2014), individu yang memiliki selfefficacy cenderung percaya pada kemampuan yang ada pada dirinya sehingga dapat
menggerakkan motivasi, sumber daya kognitif yang diperlukan untuk mencapai
kesuksesan dari tugas yang dibebankan. Individu dengan efikasi diri tinggi melihat
tantangan sebagai masalah yang harus dipecahkan, sangat menikmati hidup dan
yakin dengan segala kemampuan yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah yang
sedang dihadapi. Bila seseorang mencapai kegagalan dalam mencapai kesuksesan
maka seseorang akan bertahan untuk tetap berusaha dengan serius agar yang akan
datang dapat mencapai keberhasilan sebagaimana yang diharapkan (Sulthon,
2014). Kepekaan seseorang pada rasa keberhasilannya akan mendorong dirinya
mencari berbagai macam usaha meningkatkan prestasi dan kesejahteraan personal
(Sulthon, 2014).
Seseorang dengan self efficacy yang tinggi percaya bahwa mereka mampu
melakukan sesuatu untuk mengubah kejadian-kejadian disekitarnya, sedang
seseorang dengan self efficacy rendah akan menganggap dirinya tidak mampu
dalam mengerjakan segala sesuatu yang ada disekitarnya sehingga cenderung akan
mudah menyerah (Ghufron & Risnawati dalam Utami, 2016). Oleh karena itu,
mahasiswa bekerja yang memiliki tingkat self efficacy yang tinggi akan
menunjukkan kapasitas kemandirian yang baik dalam mengatur sikap, berfikir
kritis apa yang terbaik bagi dirinya dan bagaimana harus bertindak untuk
menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya, lebih termotivasi
dalam menyelesaikan tugas-tugas dan memiliki komitmen yang kuat dalam
mengejar tujuan mereka.
Psychological well-being tidak terlepas dari sikap optimis yang dimiliki
individu. Menurut Luthans dkk. (2007), dalam konteks psychological capital, sifat
optimism bukan hanya tentang memprediksi bahwa hal-hal yang baik akan terjadi
dikemudian, melainkan juga meliputi alasan dan atribusi yang digunakan untuk
menjelaskan suatu kejadian, baik itu kejadian yang positif, negatif, yang terjadi
dimasa lampau, masa kini maupun masa yang akan datang. Lebih lanjut, Carver &
Scheier (2002), menyatakan bahwa individu yang optimis mampu mempertahankan
psychological well-being selama masa stress dibandingkan dengan individu yang
pesimis. Individu yang optimis akan mengambil tindakan langsung dalam
menyelesaikan permasalahan dan lebih terencana dalam mengatasi kesulitan yang
dihadapi. Sebaliknya, individu yang pesimis memilih untuk menghindar dan
bereaksi menolak ketika menghadapi situasi yang penuh tekanan.
Menurut Harpan (2015), individu yang optimis cenderung dapat mengontrol
kehidupannya dan melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih berguna untuk
meningkatkan psychological well-being. Mahasiswa yang memiliki optimism yang
tinggi akan memandang setiap masalah dengan lebih positif, tidak akan mudah
menyerah, selalu aktif dalam merencanakan sebuah tindakan nyata untuk
menyelesaikan masalah dan memiliki rencana dalam mengatasi kesulitan yang
dihadapi. Sebaliknya bila mahasiswa bekerja memiliki optimism yang rendah
cenderung memilih untuk menghindari kesulitan serta mudah tertekan ketika
menghadapi tuntutan dalam lingkungan.
Dimensi hope atau harapan merupakan sumber motivasi yang memiliki
komponen kognitif yang mampu meningkatkan psychological well-being pada
individu. Snyder dkk (dalam Yuniarti & Muchtar, 2014) mendefinisikan harapan
(hope) sebagai sebagai kodisi motivasi positif yang didasari oleh interaksi akan
perasaan sukses (1) agency (goal-directed energy) dan (2) pathways (planning to meet goals). Harapan merupakan sumber motivasi yang memiliki komponen
kognitif. Sumber daya psikologis ini memberikan harapan bahwa sasaran akan
dicapai. Orang dengan harapan yang tinggi sangat termotivasi untuk mencapai
keberhasilan dalam tugas.
Individu dengan hope yang tinggi akan cenderung mendorong individu
untuk menyelesaikan semua tanggung jawabnya, memiliki keyakinan akan
kemampuannya dalam mengatasi permasalahan serta tetap memperoleh kepuasan
meskipun sedang mengalami stress atau tekanan dalam pekerjaannya dan
kuliahnya. Sebaliknya, apabila individu memiliki hope yang rendah cenderung
akan kurang memahami pentingnya tujuan yang akan dicapainya dimasa depan,
sehingga mahasiswa menjadi kurang bersungguh-sungguh dalam mengerahkan
usaha yang besar untuk mencapai keberhasilan. Menurut Yuniarti & Muchtar
(2014), mempertahankan harapan selama masa krisis merupakan aspek penting
yang harus dimiliki untuk mencapai kesejahteraan (well-being) pada individu.
Sedangkan dimensi terakhir dari psychological capital adalah resiliency.
Resiliency merupakan faktor kunci dalam melindungi dan sekaligus meningkatkan
kesehatan mental yang baik yang membuat seseorang dapat beradaptasi dengan
jatuh bangunnya kehidupan (Mayasari, 2014). Dalam hal ini resiliency dianggap
sebagai kekuatan dasar yang menjadi fondasi dari semua karakter positif dalam
membangun kekuatan emosional dan psikologikal seseorang (Affifah, 2016). Pada
mahasiswa yang bekerja, tuntutan dari perannya akan menimbulkan dampak yang
tidak menyenangkan bagi individu seperti munculnya stress. Stres merupakan
kondisi yang tidak bisa dihindari oleh mahasiswa yang bekerja, oleh karena itu
dengan mempertahankan resiliency yang tinggi maka mahasiwa yang bekerja akan
mampu bertahan dalam menghadapi kesulitan selama masa studi, mampu
beradaptasi dengan jadwal bekerja dan kuliah yang tinggi, mampu menghadapi
tekanan deadline tugas-tugas serta mampu meningkatkan kemajuan dalam dirinya.
Sebaliknya bila mahasiswa yang bekerja memiliki resiliency yang rendah maka
akan cenderung mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan hidup, tidak
memiliki target atau tujuan untuk menyelesaikan pendidikannya atau dampak yang
perlu dikhwatirkan adalah berhenti kuliah sebelum masa studi berakhir.
Keterkaitan hubungan antara psychological capital terhadap psychological
well-being sebagaimana telah diuraikan diatas juga didukung oleh hasil penelitian
Datu & Valdez (2016). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif
antara psychological capital terhadap well-being. Selain itu, menurut Datu &
Valdez (2016), dukungan sumber daya psikologis dalam bentuk hope, optimism,
resiliency, dan self efficacy terkait dengan kognitif, afektif, psikologis, dan
kesejahteraan sosial yang lebih besar. Sehingga psychological capital yang tinggi
juga akan berdampak pada psychological well-being yang tinggi juga, sebaliknya
jika psychological capital rendah maka terbentuk juga psychological well-being
yang rendah juga. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa
psychological capital dapat mempengaruhi psyhological well being pada
mahasiswa yang bekerja.