Teori Social Capital(skripsi dan tesis)

Salah satu modal yang melekat pada manusia adalah modal sosial. Sosial
capital secara kontemporer pertamakali dikemukakan oleh Bourdie (1986) yang
mengatakan social capital merupakan keseluruhan sumber konsep aktual atau
potensial, yang dihubungkan dengan kepemilikan dari suatu jaringan yang tahan
lama atau hubungan timbal balik antar institusi yang dikenalnya. Cohen dan
Prusak (2001) mendefinisikan social capital adalah suatu kesediaan melakukan
hubungan aktif meliputi: kepercayaan, kerjasama yang saling menguntungkan,
berbagi nilai dan prilaku yang mengikat setiap anggota jaringan. Porter (1998)
mengemukan bahwa social capital merupakan kemampuan seorang untuk
memperoleh manfaat dengan kebaikan dari keanggotaan didalam jaringan sosial
atau struktur sosial lainnya. Robert Putnam (1993) mengemukakan modal sosial
lebih menunjuk pada bagian-bagian dari organisasi sosial, seperti kepercayaan,
norma dan jaringan. Menurut World Bank menyatakan bahwa modal sosial ada
dua definisi yaitu:
1) Modal sosial menunjuk pada norma, institusi dan hubungan sosial yang
membentuk kualitas interaksi sosial dalam masyarakat
Modal sosial menunjuk pada norma, institusi dan hubungan sosial yang
memungkinkan orang dapat bekerja sama. Coleman (1990) mengemukan social
capital merupakan hasil produk sampingan dari hasil hubungan yang telah ada,
atau sebagai produk dari hasil hubungan interaksi sosial yang diciptakan dengan
pertemuan tujuan-tujuan khusus. Nahabiet dan Ghoshal (1988) yang membagi
dimensi social capital menjadi tiga bagian yaitu dimensi (a) structural dimension,
(b) relational dimension, serta (c) adalah cognitive dimension. Structural
dimension mencakup aspek kordinasi dan kerja sama dalam lingkup organisasi
dalam rangka mencapai tujuan organisasi bersama, yang menggambarkan
kekuatan social capital terdapat pada nilai-nilai lokal kebersamaan nilai-nilai
banjar adat sebagaimana digambarkan oleh Lietaer (2002) tentang komunitas
dengan semangat menyama braya sebagai sustainable cultural vitality yang telah
mengakar sebagai model modal sosial berbasis budaya lokal. Sistem sosial
mempermudah pengembangan jaringan, menyediakan forum bagi pengusaha
untuk berbagi informasi, mengidentifikasi peluang dan relokasi sumber daya
(Ullah et al., 2012). Hasil penelitian terhadap manajer perusahaan mobil di Iran
menunjukkan bahwa modal sosial memiliki dampak positif dan signifikan
terhadap inovasi organisasi dan orientasi kewirausahaan (Yadollahi et al., 2013).
Chung Lee (2007) mengeksplorasi penggunaan guanxi pada kewirausahaan di
Cina. Cina yang dipandang sebagai masyarakat Konghucu tradisional, memiliki
bentuk yang unik dari jaringan guanxi “hubungan khusus”. Jaringan guanxi ini
dipandang sebagai sarana sosial untuk mengatasi hambatan politik, ekonomi dan
legislatif untuk kewirausahaan.
Berdasarkan teori social capital diharapkan pemahaman tentang modal
sosial mampu meningkatkan kinerja suatu organisasi, bagi suatu perusahaan
bisnis social capital akan dapat mendorong karyawan lebih tertarik untuk
berbisnis dengan mengeksplorasi kesempatan yang didapat dari jaringan
kerjasama dalam social capital. Teori modal sosial membentuk kekuatan
kolaboratif sebagai alternatif untuk membangun jaringan, aksi kolektif untuk
bekerja sama dalam bidang organisasi bisnis untuk memaksimalkan kepentingan
organisasi serta untuk pembentukan dan implementasi kemitraan (Park dan
Feiock, 2004).
Mekanisme aksi kolektif sangat diperlukan untuk mengurangi biaya
transaksi yang memerlukan tingkat kepercayaan (trust) dari relasi antar satu satu
individu dengan individu lain dalam sebuah jaringan kerja organisasi. Modal
sosial adalah tindakan kolektif baik dalam internal organisasi maupun pada antar
organisasi (Coleman, 1988; Fukuyama, 1995; Ostrom, 1998, Putnam, 1993). Studi
umumnya mendefinisikan bentuk modal sosial sebagai kepercayaan, jaringan, dan
norma yang memudahkan kerja sama dan koordinasi untuk kepentingan bersama
pemerintahan. Modal sosial adalah terdiri dari nilai-nilai ikatan sosial, dan
keterkaitan relasi dalam bentuk jaringan komunitas sosial (Putnam, 2000).
Perkembangan pendekatan modal sosial dalam konteks organisasi digagas
sebagai dimensi struktural dan kognitif (Grootaert Bastelaer, 2001; Krishna, 2000;
Park Feiock, 2004; Posting, 2010; Uphoff, 2000). Modal sosial struktural
menjelaskan dimensi berwujud dan objektif, seperti jaringan. Jenis jaringan
diukur dengan berbagai komponen yang mewakili kekuatan (ikatan kuat/lemah),
formalitas (formal/informal). Modal sosial struktural internal ada sebagai jaringan
intralokal karena mempromosikan kegiatan kooperatif di dalam organisasi
kemasyarakatan.