Absorptive capacity memiliki peranan penting dalam memperbaharui
pengetahuan dasar perusahaan dan keahlian yang diperlukan untuk bersaing.
Perusahaan yang fleksibel dalam menggunakan sumber daya dan kapabilitasnya
dapat mengkonfigurasikan kembali sumber daya dasar yang mereka miliki untuk
memperoleh keuntungan dari kesempatan strategis yang muncul.
Cohen dan Levinthal (dalam Tiurma dan Nungki, 2010), absorprive
capacity adalah organizational capacity to treat and learn from external
knowledge – crirical for innovation.
Selanjutnya dijelaskan kembali oleh Cohen dan Levinthal (dalam Eliada,
2008), absorptive capacity seseorang adalah kemampuan yang bukan hanya
ditujukan untuk memperoleh dan mengasimilasi tapi juga untuk menggunakan
knowledge.
Kemampuan seorang individu untuk mengevaluasi dan memanfatkan
knowledge yang berasal dari luar dengan lebih baik merupakan tingkatan fungsi
dari knowledge terdahulu yang saling berhubungan.
Knowledge terdahulu yang saling berhubungan ini memberikan suatu
kemampuan untuk mengenali nilai knowledge baru dan untuk mengasimilasi dan
menerapkan pengaturan baru. Secara spesifik, knowledge terdahulu tersebut dapat
mencakup keahlian dasar, pembagian bahasa, atau knowledge apapun dari
perkembangan teknologi atau perkembangan ilmiah yang paling terbaru pada
bidang yang berkaitan.
Kwok dan Gao (dalam Lenny, 2011) meyakini bahwa individu
membutuhkan absorptive capacity sampai tingkatan tertentu sebelum memiliki
keinginan untuk bersikap mendukung perilaku berbagi pengetahuan.
Duro Kutlaca (2008), Absorptive capacity is the ability to absorb new
knowledge and adapt imported technologies.
Kapasitas penyerapan pengetahuan didefinisikan sebagai efektifitas
kapasitas penyerapan pengetahuan, kemampuan untuk mengenali manfaat dari
pengetahuan baru yang berasal dari luar dirinya, mengasosiasikannya dengan
pengetahuan yang sudah dimilikinya, dan memanfaatkan gabungan pengetahuan
tersebut untuk mencari solusi suatu masalah yang merupakan fungsi dari
pengetahuan dasar yang dimiliki sebelumnya dan intensitas usaha seseorang
dalam menambah kapasitas penyerapan pengetahuannya
Secara spesifik Zahra dan George (dalam Eliada, 2008) menjelaskan :
“Absorptive capacity mencerminkan satu macam dari hubungan
kemampuan individual yang dapat mempengaruhi kinerja dari individu dari
pembelajaran dan pemakaian knowledge. “
Oleh karenanya, absorptive capacity seseorang ditentukan oleh knowledge
yang dahulu telah dimilikinya. Individu-individu telah membentuk absorptive
capacity-nya sendiri sebelum mereka terlibat dengan suatu aktivitas dari sharing
knowledge. Antara individu yang satu dengan yang lainnya akan dapat berbeda
level absorptive capacity-nya, hal tersebut antara lain dikarenakan adanya
perbedaan kondisi seperti pengalaman profesional atau latar belakang pendidikan.
Untuk memiliki tingkat kapasitas penyerapan pengetahuan yang
dibutuhkan tersebut, seorang perlu mengetahui berbagai jenis pengetahuan atau
topik (aspek keluasan pengetahuan), dan juga perlu menguasai dengan mendalam
suatu jenis pengetahuan tertentu (aspek kedalaman pengetahuan). Demikian pula
dalam perannya sebagai penerima pengetahuan, ia perlu mengetahui berbagai
jenis pengetahuan walaupun hanya gambaran besarnya saja, untuk dapat
menghubungkannya dengan pengetahuan yang ia kuasai saat ini
