Aranya et al. (1982) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai yang
pertama sebagai suatu kepercayaan dan penerimaan terhadap tujuan-tujuan serta
nilai-nilai dari organisasi dan atau profesi, yang kedua adalah suatu kemauan
untuk melakukan usaha yang sungguh-sungguh guna kepentingan organisasi
dan/atau profesi. Serta yang terakhir, sebagai suatu keinginan untuk memelihara
keanggotaan dalam organisasi atau profesi.
Buchanan (1992) yang dikembangkan oleh Trisnaningsih (2007)
mendefinisikan komitmen adalah sebagai penerimaan karyawan atas nilai-nilai
organisasi, keterlibatan secara psikologi (psychological immersion) dan loyalitas
(affection attachment). Komitmen merupakan sebuah sikap dan perilaku yang
positif terhadap lembaganya, karyawan akan memiliki jiwa untuk tetap membela
organisasinya, berusaha meningkatkan prestasi, dan memiliki keyakinan yang
pasti untuk membantu mewujudkan tujuan organisasi.
Komitmen pada organisasi yaitu sampai tingkat mana seseorang karyawan
memihak pada suatu organisasi tertentu dan tujuan-tujuannya, serta berniat
memelihara keanggotaan dalam organisasi tersebut (Robbins dan Timothy,
2008:89). Sedangkan menurut Hatmoko (2006), komitmen organisasional adalah
loyalitas karyawan terhadap organisasi melalui penerimaan sasaran-sasaran, nilainilai organisasi,kesediaan atau kemauan untuk berusaha menjadi bagian dari
organisasi serta keinginan untuk bertahan didalam organisasi.Komitmen
organisasi merupakan tingkat sejauh apa seorang karyawan memihak pada suatu
organisasi tertentu dan tujuan-tujuannya, serta berniat mempertahankan
keanggotaannya dalam organisasi tersebut. Komitmen juga merupakan nilai
personal, yang terkadang mengacu pada sikap loyal pada perusahaan atau
komitmen pada perusahaan (Ikhsan dan Ishak, 2010:53).
Meyer dan Allen (1984, dalam Sopiah, 2008:157) mengemukakan bahwa
komitmen organisasi terbagi dalam tiga dimensi, yaitu: affective commitment,
continuance commitment, dan normative commitment. Penjelasan dari ketiga
dimensi komitmen tersebut sebagai berikut :
1) Affective commitment, berkaitan dengan emosional, identifikasi, dan
keterlibatan karyawan di dalam organisasi. Komitmen ini muncul karena
ada keinginan. Komitmen dipandang sebagai suatu sikap, yaitu suatu usaha
individu untuk mengidentifikasi dirinya pada organisasi beserta tujuannya.
Karyawan ingin menjadi bagian dari organisasi karena adanya ikatan
emosional. Jadi karena memang ia menginginkanya (want to). Indikator
yang digunakan untuk mengukurnya adalah :
a) Saya senang sekali menghabiskan sisa karir saya di organisasi ini.
b) Saya benar-benar merasakan bahwa seakan-akan masalah di
organisasi adalah masalah saya.
2) Continuance commitment berarti komponen berdasarkan persepsi karyawan
tentang keinginan yang akan dihadapinya jika ia meninggalkan organisasi.
Muncul karena kebutuhan akan gaji dan keuntungan-keuntungan lain dan
memandang bahwa komitmen sebagai suatu perilaku yaitu terjadi karena
suatu ketergantungan terhadap aktivitas-aktivitas yang telah dilakukan
dalam organisasi pada masa lalu dan hal itu tidak dapat ditinggalkan karena
akan merugikan. Jadi dia memang membutuhkannya (need to). Indikator
yang digunakan untuk mengukurnya adalah :
a) Sekarang ini tetap bertahan menjadi anggota organisasi adalah hal
yang perlu, sesuai dengan keinginan saya.
b) Sangat berat bagi saya untuk meninggalkan organisasi ini.
3) Normative commitment merupakan perasaan-perasaan karyawan tentang
kewajiban yang harus ia berikan kepada organisasi. Timbul dari nilai-nilai
diri karyawan. Karyawan bertahan menjadi anggota organisasi merupakan
hal yang seharusnya dilakukan. Jadi karena dia merasa berkewajiban (ought
to). Indikator yang digunakan untuk mengukurnya adalah :
a) Saya merasa tidak memiliki kewajiban untuk meninggalkan atasan
saya saat ini.
b) Saya merasa tidak tepat untuk meninggalkan organisasi saya saat ini,
bahkan bila hal itu menguntungkan
