Zhang dan Sims (2005) dan Yukl (2010) mendefinisikan kepemimpinan
sebagai pola perilaku seseorang yang memengaruhi entitas lain, seperti individu
dan tim untuk memahami apa yang perlu dilakukan dan bagaimana tugas
dilakukan secara efektif. Selain itu, juga proses untuk memfasilitasi upaya
mencapai tujuan bersama. Menurut Robbin dan Judge (2008), kepemimpinan
merupakan kemampuan memengaruhi suatu kelompok untuk mencapai sebuah
visi atau serangkaian tujuan yang ditetapkan.
Kepemimpinan tidak selalu dikaitkan dengan sifat atau perilaku yang
benar dan situasi yang benar. Namun lebih berkaitan dengan bagaimana para
pemimpin melibatkan orang lain bersama-sama berpikir dalam cara-cara inovatif
(Basadur, 2004). Kepemimpinan organisasi adalah sebuah kontradiksi (Seelos &
Mair, 2012). Artinya inti kepemimpinan adalah rutinitas organisasi, perilaku
konvensional, terikat oleh pengetahuan standar, moralitas, dan legalitas. Akan
tetapi pada sisi lain harus keluar dari rutinitas, standar, dan kontemporer untuk
menerapkan moralitas, pengetahuan, dan legalitas baru yang sangat berbeda.
Menurut Robbin dan Judge (2008: 83), terdapat dua teori kepemimpinan
kontemporer yang memandang pemimpin sebagai individu yang memberikan
inspirasi kepada para pengikutnya melalui kata-kata, berbagai ide, dan perilaku.
Teori-teori tersebut adalah kepemimpinan karismatik, dan transformasional.
Terkait dengan teori kepemimpinan, Max Weber merupakan ilmuwan pertama
yang membahas kepemimpinan karismatik. Terdapat empat karakteristik
pemimpin yang karismatik, yaitu memiliki visi, bersedia mengambil risiko pribadi
yang tinggi untuk mencapai visi tersebut, sensitif terhadap kebutuhan bawahan,
dan memiliki perilaku yang tidak konvensional.
Robbin dan Judge (2008: 83) serta Yulk (2010: 304) menyatakan bahwa
kebanyakan teori terbaru dari kepemimpinan transformasional terpengaruh oleh
teori yang disampaikan Burns (1978) yang membedakan antara kepemimpin
transformasional dan transaksional. Peneliti yang pertama kali meneliti
kepemimpinan transformasional adalah Bass pada tahun 1985. Pemimpin
transformasional menginsrpirasi para pengikutnya untuk mengutamakan
kepentingan organisasi dan bekerja keras untuk mencapai tujuan-tujuan bersama.
Disamping itu, juga memperhatikan kebutuhan pengembangan diri dan
menyenangkan hati para pengikutnya. Artinya, melakukan sesuatu dengan cara
yang baru. Pemimpin transaksional memotivasi para pengikutnya pada tujuan
yang telah ditetapkan dengan cara memperjelas peran dan tugas mereka. Menurut
pendapat Robbin dan Judge (2008:91) pemimpin yang paling baik memiliki sifat
transaksional dan transformasional sekaligus.
Yang (2008) mengatakan bahwa saat ini organisasi membutuhkan
pemimpin efektif yang memahami kompleksitas lingkungan global yang berubah
dengan cepat. Menurut Zhang dan Sims (2005), pemimpin tertentu mungkin
menggunakan prilaku lebih dari satu jenis. Ketika para pemimpin bertujuan
merangsang prilaku inovatif anggota tim, mereka harus menggunakan perilaku
kepemimpinan empowering untuk meningkatkan self-efficacy pengikut dan
motivasi intrinsik melalui pemberdayaan. Pada saat yang sama mereka juga harus
menggunakan perilaku kepemimpinan transformasional untuk mendorong
pengikutnya menantang status quo dan memikirkan masalah lama dengan cara
baru, memahami visi, menginspirasi pengikut, dan merangsang perubahan
intelektual. Oleh karena itu, pemberdayaan kepemimpinan transformasional
berpengaruh terhadap perilaku inovatif.
Kepemimpinan transformasional mampu meningkatkan inovasi. Hal itu
berbeda dengan kepemimpinan transaksional yang justru menurunkannya (Gareth
dan Roger, 2011; Lee, 2008). Upaya pemimpin menggunakan kekuasaan, dan
tekanan untuk mendorong inovasi cenderung sia-sia (Mumford et al., 2000).
Cheung dan Wong (2011) menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional
berpengaruh signifikan positif dengan kreativitas karyawan. Kepemimpinan
transformasional menjadi motor dan pemancar budaya inovatif yang berorientasi
pada penyebaran pengetahuan untuk memperoleh kinerja terbaik organisasi
(Morales et al., 2012).
Dimensi-dimensi kepemimpinan Transformasional menurut Avolio dan
Bass (1995) terdiri atas empat dimensi dengan konsep ā4Iā yaitu :
(1) Idealized influence, yaitu perilaku pemimpin yang karismatik,
menimbulkan rasa hormat (respect), sebagai panutan/teladan dan rasa
percaya (trust) dari orang-orang yang dipimpinnya. Mengandung makna
saling berbagi resiko, perilaku, moral dan etika.
(2) Inspirational motivation, tercermin dalam perilaku yang senantiasa
mememberikan tantangan dan makna atas pekerjaan orang-orang yang
dipimpin, termasuk di dalamnya adalah mampu menyampaikan ekspektasi
yang jelas dan komit terhadap sasaran organisasi.
(3) Intellectual stimulation, pemimpin yang seantiasa menggali ide-ide baru
dan solusi yang kreatif dari orang-orang yang dipimpinnya, mendorong
pendekatan baru dalam pekerjaan, memandang masalah dari perspektif
yang baru dan menolak status quo.
(4) Individualized consideration, yang direfleksikan oleh pemimpin yang
selalu mendengarkan dengan penuh perhatian, dan memberikan perhatian
khusus pada kebutuhan prestasi dan kebutuhan lainnya dari orang-orang
yang dipimpinnya.
