Kebiasaan belanja sebagai wujud pemenuhan kebutuhan sudah mulai berganti arah. Perubahan kebiasaan yang sebelumnya digunakan sebagai wujud pemenuhan kebutuhan saat ini sudah menjadi sebuah kesenangan. Perubahan motivasi dari pemenuhan kebutuhan menjadi pemenuhan kesenangan menuntut terpenuhinya seluruh kesenangan yang terus berubah mengikuti beberapa aspek. Didalam pemenuhan kesenangan, seringkali dipengaruhi oleh beberapa faktor mulai dari lingkungan dimana turut andil mempengaruhi perlilaku untuk memotifasi berbelanja. Keadaan lingkungan yang turut mendukung kehidupan yang dinamis menuntut seorang konsumen untuk mengikuti segala tren yang ada disekitarnya. Keadaan ini semakin didukung dengan adanya interaksi antara konsumen yang memiliki interaksi kuat sehingga menuntut adanya persaingan untuk mengikuti tren kekinian. Ada beberapa pendapat tentang pengertian motivasi hedonic, Utami (2010:49) menyatakan bahwa motivasi hedonic adalah motivasi berbelanja untuk menghilangkan kesepian, menghilangkan kebosanan, menganggap berbelanja sebagai olahraga, memburu penawaran terbaik, memenuhi fantasi, dan menekan depresi. Sedangkan menurut Setiadi ( 2003 : 95 ) berbelanja hedonic yaitu berbelanja karena adanya respon emosional, kesenangan pancaindra dan mimpi. Hal itu diperkuat oleh Kim (2006) bahwa hedonic shopping motivation identik dengan pemenuhan aspek non fungsional konsumen. 13 Motivasi berbelanja hedonic dapat diartikan sebagai, motivasi berbelanja untuk kesenangan semata, menghilangkan stres dan mencari kepuasaan dengan membeli barang–barang yang tidak dibutuhkan atau bukan kebutuhan utama. Untuk motivasi hedonic ini biasanya lebih cenderung untuk memenehui kebutuhan skunder atau kebutuhan lain yang berhubungan dengan gaya hidup dan sosial. Menurut Utami (2010:49), terdapat beberapa dimensi hedonic shopping motivation, yang terdiri yaitu: adventure shopping, social shopping, gratification shopping, idea shopping, role shopping, dan value shopping
