Faktor kepribadian The Big Five merupakan salah satu pendekatan yang
dianggap lebih sederhana dan deskriptif dalam menggambarkan kepribadian
manusia (Pervin, Cervone & John, 2005). Menurut McCrae & Costa (Cervone
& Pervin, 2012)ada beberapa istilah yang digunakan untuk menggolongkan
trait (sifat), yaitu:
a. Extraversion (E)
Dimensi ini merupakan taksiran kuantitas dan intensitas interaksi
interpersonal, tingkat atau level aktivitasnya, kebutuhan untuk mendapat
stimulasi dan kemampuan untuk berbahagia. Dimensi extraversion terdiri dari
subdimensi atau faset-faset sebagai berikut :
1) Warmth (kehangatan)
2) Gregariousness (suka berkumpul)
3) Assertiveness (asertivitas)
4) Activity level (tingkat aktivitas)
5) Excitement seeking (pencarian kesenangan)
6) Positive emotions (emosi positif)
Subfaktor dalam extraversion dapat dibagi kembali ke dalam 2 ciri
interpersonal dan temperamental.Subfaktor kehangatan (warmth) merujuk
pada interaksi personal yang bersahabat, suka bersosialisasi dan
tulus.Sebaliknya individu yang dingin cenderung kaku, pendiam dan tidak
dekat dengan orang kebanyakan.Kehangatan (warmth) dan sifat suka
berkumpul (gregariousness) biasanya muncul pada individu yang mudah
berkumpul.Individu yang suka berkumpul cenderung menyukai keramaian
dan dorongan sosial.Asertivitas adalah subfaktor ketiga dalam dimensi
Extraversion. Individu yang asertif biasanya memiliki kemampuan untuk
memimpin, bertanggung jawab akan suatu tugas dan mampu mengungkapkan perasaan atau keinginan dengan mudah.
Tiga subfaktor lain dari extraversion termasuk dalam ciri temperamental
yakni level aktivitas (activity level), pencarian kesenangan (excitement
seeking), dan emosi yang positif (positive emotion). Individu dengan tipe
kepribadianextraversion biasanya suka menyibukkan diri cenderung bertindak
dengan penuh semangat serta berbicara dengan cepat sehingga terkesan
energik.Mereka lebih menyukai lingkungan yang dapat menstimulasi mereka
dalam upaya pencarian kesenangan, contohnya mobil berkecepatan tinggi dan
pakaian yang mencolok.Kehidupan yang aktif dan menyenangkan dari
seorang individu dengan tipe kepribadian extraversion mencerminkan
pengalaman emosi yang positif.Kesenangan, semangat dan kelucuan menjadi
tema utama dari tipe kepribadian extraversion.Semua disposisi ini bersifat
sinergis, bersama-sama membentuk tipe kepribadian.
b. Agreeableness (A)
Dimensi ini mendeskripsikan kualitas orientasi interpersonal seseorang
secara berkesinambungan dari perasaan terharu sampai perasaan menentang
dalam pikiran, perasaan dan tindakan. Dimensi agreeableness terdiri dari
subdimensi atau faset-faset sebagai berikut :
1) Trust (kepercayaan)
2) Straightforwardness(berterusterang/langsung pada pokok
permasalahan)
3) Altruism (pengorbanan /mendahulukan kepentingan orang lain)
4) Compliance (kerelaan)
5) Modesty (rendah hati)
6) Tendermindedness (berhati lembut)
Individu dengan tipe kepribadian agreeablenessmempercayai orang lain
dan jarang mencurigai niat yang tersembunyi. Percaya (trust) adalah
perkembangan psikososial utama yang paling mendasar menurut teori Erikson.
Menurutnya individu yang tidak mengembangkan rasa percaya tidakakan
pernah menguasai tahap industry, identity, dan intimacy. Saat individu yang
agreeableness mempercayai orang lain, maka ia pun akan menjadi individu
yang dipercayai orang lain, ini ditandai oleh kejujuran serta keterusterangan
(straightforwardness).
Individu yang agreeableness cenderung tidak mementingkan diri sendiri,
sebagaimana yang tercermin dalam kebijaksanaan serta keinginan mereka
untuk membantu orang lain (Altruism). Individu yang agreeableness pada
dasarnya lembut dan mau mengalah demi orang lain. Subfaktor ini dikenal
sebagai compliance.Individu yang agreeableness menunjukkan kerendahan
hati (modesty) dalam menilai kemampuan dirinya.Skor yang rendah pada
subfaktor ini mungkin menunjukkan kecenderungan naristik.Selain itu,
individu yang agreeableness biasanya menunjukkan kebaikan hati
(tedermindedness), sentimental dan mudah tersentuh.
c. Conscientiousness (C)
Mendeskripsikan perilaku tugas dan arah tujuan, menilai kemampuan
individu dalam organisasi, baik mengenai ketekunan dan motivasi, dan secara
sosial membutuhkan impuls kontrol. Dimensi conscientiousness terdiri dari
subdimensi atau faset-faset sebagai berikut :
1) Competence (kompeten)
2) Order (teratur)
3) Dutifulness (kepatuhan terhadap tugas)
4) Achievement stiving (pencapaian prestasi / pencapaian kesuksesan)
5) Self-Discipline (disiplin diri)
6) Deliberation (pemikir)
Individu dengan tipe kepribadian conscientiousness menunjukkan ciri
rasional dan berfikir bahwa diri mereka mempunyai kompetensi yang tinggi
(competence).Sebagian dari kesuksesan mereka berasal dari kemampuan
mereka dalam organisasi yang baik serta keteraturan yang tinggi order).Kedua
hal ini yang membuat mereka bekerja dengan efisien. Individu yang
conscientiousness memegang teguh tugas (dutifulness), memiliki kebutuhan
akan pencapaian prestasi yang tinggi (achievement striving), dan menggapai
kesempurnaan dalam segala sesuatu hal yang mereka lakukan demi pencapaian prestasi, memiliki displin diri yang tinggi sehingga mampu mencapai tujuan mereka (self-discipline), mereka umumnya menunjukkan ciri pertimbangan (deliberation), berpikir penuh dengan kehati-hatian sebelum bertindak dan membuat rencana di awal bukan dengan cara yang tiba-tiba.
d. Neuroticism (N)
Dimensi ini merupakan penyesuaian diri dengan ketidakstabilan emosi.
Dari dimensi ini dapat diidentifikasi kecenderungan individu, apakah mudah
tertekan tertekan secara psikologis, mempunyai ide-ide yang tidak realistis,
keinginan atau dorongan yang berlebihan, dan kegagalan untuk memberikan
respons-respons yang tepat. Dimensi neuroticism terdiri dari subdimensi atau
faset-faset sebagai berikut :
1) Anxiety (kecemasan)
2) Angry hostility (amarah)
3) Depression (depresi)
4) Self – consciousness (kesadaran diri)
5) Impulsiveness (menuruti kata hati)
6) Vulnerability (kerentanan)
Keenam subfaktor dari neuroticism menggambarkan tingkat kecemasan
dan ketidakmampuannya mengontrol dorongan dalam dirinya.Dua subfaktor
dari neuroticism yaitu kecemasan (anxiety) dan permusuhan (angry) yang
terbentuk dari 2 kondisi emosi dasar individu yaitu takut dan marah.Setiap
individu pasti pernah merasakan kedua emosi dari waktu ke waktu, namun
intensitas emosi yang mereka rasakan berbeda antara satu individu dengan
individu lainnya.Individu dengan sifat cemas cenderung gugup dan
tegang.Mereka mudah khawatir dan merenungkan hal-hal yang tidak berjalan
semestinya.Individu dengan rasa permusuhan yang tinggi menunjukkan
kecenderungan mudah marah, kebencian, penolakan dan sulit memaafkan dan
rukun dengan individu lainnya.
Dua emosi lain yang membentuk subfaktor depresi (depression) dan
kesadaran diri (self-consciousnes) adalah sedih dan malu. Sebagai sebuah sifat, depresi adalah suatu kecenderungan individu mengalami kesedihan, putus asa dan kesepian.Individu yang depresi sering memiliki perasaan bersalah yang berlebih dan merendahkan dirinya sendiri.Individu dengan kesadaran diri (selfconsciousnes) yang tinggi cenderung merasakan malu yang berlebihan.
Biasanya mereka peka terhadap ejekan dan cemoohan, karena sering merasa
inferior terhadap orang lain.
Dua faset lain darineuroticism lebih sering muncul dalam bentuk perilaku
daripada keadaan emosional. Impulsif adalah suatu kecenderungan untuk
dikuasai oleh dorongan dan keinginan yang besar karena mereka memiliki
kontrol yang lemah. Subfaktor vulnerability merujuk pada ketidakmampuan
individu dalam menangani stress dan kecenderungan memiliki emosi negatif,
individu dengan sifat ini cenderung panik saat dihadapkan pada keadaan
darurat, dan menjadi tergantung kepada bantuan dari orang lain. Sebagian
orang mungkin merasakan cemas namun tidak menunjukkan permusuhan,
sadar akan dirinya tapi tidak Impulsif. Individu yang memiliki tipe kepribadian
Neuroticism cenderung memiliki skor yang tinggi pada tiap subfaktor lainnya.
Mereka cenderung memiliki emosi yang negatif sehingga mempengaruhi
kemampuan mereka dalam menangani masalah dan menjalin hubungan dengan orang lain.
e. Openness to experience (O)
Dimensi ini mendeskripsikan luas, kedalaman, kerumitan mental individu
dan pengalaman hidup. Dimensi ini menilai individu dari usahanya secara
proaktif dan penghargaannya terhadap pengalaman demi kepentingannya
sendiri dan bagaimana ia menggali sesuatu yang baru dan tidak biasa. Dimensi
ini mengelompokkan individu berdasarkan lingkup minat dan ketertarikannya
terhadap hal-hal baru dan inovasi ia akan cenderung menjadi imajinatif,
cenderung kreatif, ingin tahu dan sensitive terhadap hal-hal yang bersifat seni.
Sebaliknya, mereka yang sifat keterbukaannya kurang cenderung memiliki
sifat konvensional, merasa nyaman dengan hal-hal yang ada, dan memiliki
minat yang sempit. Dimensi openness to experience terdiri dari subdimensi
atau faset-faset sebagai berikut adalah :
1) Fantasy (fantasi)
2) Aesthetics (estetika/keindahan)
3) Feelings (perasaan)
4) Actions (perbuatan-perbuatan)
5) Ideas (ide-ide)
6) Values (nilai-nilai)
Diketerbukaan terhadap pengalaman (openness to experience) diukur
melalui 6 area yang berbeda. Keterbukaan dalam fantasi atau khayalan artinya
individu memiliki imajinasi yang tinggi dan angan-angan yang luas. Subfaktor
keindahan (aesthetics) teramati dari sensitivitas terhadap seni dan
keindahan.Pengalaman aesthetics mungkin merupakan inti dari
keterbukaan.Individu yang memiliki kesenangan terhadap aktivitas aesthetics
umumnya adalah orang-orang yang terbuka.Keterbukaan terhadap tindakan
(actions) merupakan lawan dari kekakuan.Individu yang terbuka mempunyai
keinginan untuk mencoba hal-hal baru.Keterbukaan terhadap ide (ideas),
perasaan (feelings) dan nilai (values) juga merupakan subfaktor dari
kepribadian ini. Individu yang terbuka cenderung mempunyai rasa ingin tahu
dan menghargai pengetahuan dan pendapat dari orang lain. Mereka cenderung bebas dalam menganut nilai-nilai, mengakui bahwa benar atau salahnya suatu hal bagi satu orang mungkin akan berbeda jika diterapkan pada orang lain yang menghadapi kondisi berbeda.
