Jajaran manajemen dan individu eksekutif selaku agen dalam
perusahaan berperan penting dalam setiap pengambilan keputusan
mengenai strategi perusahaan termasuk penghindaran pajak (Dyreng, et al.,
2010). Tax-minded eksekutif atau preferensi eksekutif dalam melakukan
penghindaran pajak pribadi mampu mempengaruhi perilaku eksekutif
terhadap penghindaran pajak perusahaan (Cavazos & Silva, 2015).
Penghindaran pajak merupakan salah satu tindakan berisiko. Hal ini
dikarenakan, penghindaran pajak dapat meningkatkan biaya perusahaan
dan manajer secara signifikan, seperti biaya untuk ahli pajak, waktu yang
dikhususkan untuk audit pajak, ancaman reputasi, dan denda yang
kemungkinan dikenakan oleh otoritas (Badertscher, et al., 2013).
Noor (2009) mengemukakan, manajemen termasuk eksekutif
memiliki sifat yang berbeda dalam menghadapi risiko. Adapun sifat
tersebut adalah risk taker/risk seeker, risk averse dan risk neutral. Lebih
lanjut Noor (2009) menjelaskan, manajemen/eksekutif dengan karakter
atau preferensi risko risk taker atau risk seeker merupakan eksekutif yang
cenderung lebih berani dan optimis. Apabila suatu peluang mampu
mendatangkan keuntungan yang diperoleh dan juga kemungkinan risiko
yang terjadi, maka manajemen dalam hal ini eksekutif akan mengambil
peluang tersebut, karena manajemen beranggapan risiko masih dalam
bentuk kemungkinan yang mungkin terjadi dan mungkin juga tidak.
Berbeda dengan risk taker, manajemen atau eksekutif dengan
karakter/preferensi risiko risk averse lebih cenderung menghindari risiko.
Manajemen lebih mempertimbangkan risiko dan cenderung berhati-hati
dalam pengambilan keputusan. Sedangkan risk neutral lebih rasional
terhadap risiko, dan menimbang antara keuntungan dan risiko yang
diterima.
Coles et al., (2004) dalam Budiman & Setiyono (2012)
menyebutkan, karakter eksekutif sebagai pengambil keputusan akan
tercermin melalui tingkat risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Hal ini
berarti, risiko perusahaan dapat mencerminkan policy yang diambil oleh
eksekutif sebagai pimpinan.
Paligorova (2010) mengartikan risiko perusahaan merupakan
volatilitas earning yang dapat diukur melalui stadar deviasi. Oleh karena
itu, risiko perusahaan dapat dimaknai sebagai penyimpangan dari earning
yang mengindikasikan semakin besar deviasi earning perusahaan, maka
akan semakin besar pula risiko yang ada (Budiman & Setiyono, 2012)
