Pecking Order Theory

Pecking order theory mengasumsikan bahwa perusahaan
memiliki tujuan untuk memaksimalkan kesejahteraan dari pemegang
saham. Menurut Hanafi (2004), pecking order theory memiliki urutan
pendanaan dari pendanaan internal terlebih dahulu dan apabila dana
internal tersebut tidak mencukupi, maka perusahaan baru akan
menggunakan dana eksternal. Dana internal diperoleh perusahan dari
laba yang dihasilkan dari operasional perusahaan. sedangkan dan
eksternal perusahaan dapat diperoleh dari utang, saham dan obligasi.
Urut-urutan dalam pendanaan eksternal perusahaan pada awalnya akan
memilih pendanaan yang dianggapnya aman terlebih dahulu seperti
utang. Karena utang tidak membutuhkan biaya iklan. Kemudian pilihan
kedua perusahaan akan mengeluarkan obligasi, dan pilihan yang
terakhir dalam pendanaan eksternal, perusahaan akan menerbitkan
saham.
Menurut Brealey dan Myer (1995) dalam Nuswandari (2013),
dalam pecking order theory mengungkapkan bahwa perusahaan yang
memiliki keuntungan yang tinggi, dalam struktur modalnya cenderung
mempunyai tingkat utang yang rendah. Hal tersebut dapat terjadi bukan
disebabkan oleh target perusahaan untuk memiliki tingkat utang yang
rendah, melainkan karena perusahaan tersebut memang tidak
membutuhkan dana dari pihak eksternal. Dana internal yang berupa laba
ditahan sudah cukup untuk membiayai investasi perusahaan tersebut