Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan adalah nilai jual suatu perusahaan dalam pasar modal
secara keseluruhan. Dimana gabungan dari semua pemegang sekuritas,
pemegang obligasi, pemegang saham preferen, pemilik minoritas, pemegang
saham biasa dan lainnya. Nilai perusahaan juga merupakan salah satu matrik
dasar penilaian bisnis, permodelan keuangan, akuntansi, analisis portofolio,
dan sebagainya. Sehingga untuk mengukur nilai peusahaan, perusahaan dengan
struktur modal yang berbeda perlu dibandingkan (Kalistarini, 2010). Nilai
perusahaan sering dikaitkan dengan harga saham.
Harga saham merupakan harga yang siap dibayar oleh investor. Harga
pasar saham mungkin lebih tinggi atau lebih rendah dari nilai bukunya. Harga
saham cenderung tinggi ketika perusahaan memiliki banyak peluang investasi.
Hal tersebut yang dapat meningkatkan pendapatan terhadap pemegang saham.
Sehingga semakin tinggi harga saham perusahaan semakin tinggi pula nilai
suatu perusahaan tersebut (Brigham dan Houston, 2010).
Menurut Arthur, et al., (2011:240) nilai perusahaan terbagi menjadi:
1. Nilai Buku (Book Value)
Nilai buku merupakan nilai perusahaan yang dihitung dengan
menggunakan konsep akuntansi dari aktiva yang dilaporkan dalam neraca
perusahaan.
2. Nilai Likuiditas (Liquidation Value)
Nilai likuiditas merupakan nilai penjualan semua aset perusahaan setelah
dikurangi dengan semua kewajiban yang harus dipenuhi. Nilai likuidasi
bisa dihitung berdasarkan neraca perusahaan yang telah disiapkan ketika
perusahaan akan dilikuidasi.
3. Nilai Harga Pasar (Market Value)
Nilai harga pasar atau yang biasa disebut kurs merupakan harga yang
diperoleh dari proses tawar menawar di pasar saham. Sehingga dapat
ditentukan jika perusahaan menjual sahamnya di pasar saham.
Dalam mengukur nilai perusahaan, terdapat beberapa metode yang dapat
digunakan. Berikut adalah metode pengukuran nilai perusahaan menurut
Brigham, et al., (2010:150):
1. Price Earning Ratio (PER)
Menunjukkan jumlah uang yang dikorbankan oleh investor untuk
membayar laba yang dilaporkan. Rasio ini digunakan untuk mengukur
besarnya perbandingan antara harga saham dengan keuntungan invesor dan
untuk mengetahui bagaimana pasar menilai kinerja perusahaan sebagai
pendapatan per saham. Sehingga PER digunakan untuk perubahan terhadap
kemampuan laba yang diharapkan di masa depan. Semakin besar PER,
semakin besar kemungkinan perusahaan untuk tumbuh dan meningkatkan
nilai perusahaan. Berikut adalah rumus untuk mencari PER:
??? =
????? ??? ?????? ??ℎ??
???? ??? ?????? ??ℎ??
2. Price to Book Value (PBV)
Menunjukkan keadaan harga saham yang diperdagangkan overvalued
(di atas) atau undervalued (di bawah) nilai buku saham tersebut. Rasio ini
memperjelas bahwa ukuran pasar dapat memperkirakan nilai buku saham
perusahaan. Semakin tinggi nilai PBV maka kepercayaan pasar terhadap
prospek perusahaan tersebut juga semakin tinggi. Secara sistematis PBV
dapat dihitung dengan rumus:
??? =
????? ????? ??? ?????? ??ℎ??
????? ???? ??? ?????? ??ℎ??
3. Tobin’s Q
Metode ini dihitung sebagai rasio dari nilai pasar saham perusahaan
dengan nilai buku ekuitas. Tobin’s Q menunjukkan kinerja manajemen
dalam mengelola aset perusahaan. Menurut Rashid dan Sardar (2008)
dalam Indreswari (2013) jika nilai Tobin’s Q lebih dari satu maka
perusahaan mempunyai nilai bagi pemegang saham. Namun bila nilai
Tobin’s Q kurang dari satu maka perusahaan tidak mempunyai kinerja yang
baik. Sehingga semakin besar nilai Tobin’s Q maka semakin baik pula
kinerja perusahaan dan semakin tinggi pula nilai perusahaan tersebut.
Rumus Tobin’s Q menurut Sudiyatno dan Elen (2010:15) dalam Indreswari
(2013) adalah sebagai berikut:
? =
(??? + ????)
??
Dimana:
??? = ? × ??ℎ???
???? = (?? − ??) + ??? + ???
Keterangan:
MVE : Nilai pasar seluruh saham beredar
DEBT : Nilai total kewajiban perusahaan
TA : Nilai buku dari total aktiva
P : Harga saham penutupan akhir tahun
Qshare : Jumlah saham beredar akhir tahun
CL : Kewajiban jangka pendek
CA : Aktiva lancar
INV : Nilai buku persediaan
LTL : Kewajiban jangka panjang