E-commerce

E-commerce (electronic commerce) adalah bagian dari e-business
(electronic business) yang berhubungan dengan kegiatan jual-beli barang / jasa
melalui Internet. E-commerce juga meliputi aktivitas yang mendukung transaksi
tersebut, seperti periklanan, pemasaran, dukungan konsumen, keamanan,
pengiriman, dan pembayaran.
E-commerce akan merubah semua kegiatan pemasaran dan juga
sekaligus memangkas biaya-biaya operasional untuk kegiatan perdagangan. E-
commerce dimulai sejak tahun 1995 dimana salah satu portal internet pertama
bernama Netscape.com menerima iklan pertama dari perusahaan utama dan
mempopulerkan bahwa web bisa digunakan sebagai media baru untuk iklan dan
penjualan. Tak disangka, hal itulah yang menjadikan penjualannya meningkat
dua hingga tiga kali lipat dari sebelumnya. E-commerce terus tumbuh hingga
resesi tahun 2008-2009 dimana pertumbuhan perekonomian sangat lamban.
Faktanya, e-commerce adalah satu-satunya bisnis ritel yang relatif stabil. Tahun
2012, e-commerce terus menanjak, dibuktikan dengan jumlah pembeli online
meningkat sebesar 5% dan jumlah transaksi online meningkat 7% menurut
Laudon & Laudon (dalam Ayu & Lahmi, 2020)
Menurut Shaw (dalam Pradana, 2015) e-commerce berarti transaksi
paperless dimana inovasi seperti pertukaran data elektronik, surat elektronik,
papan buletin elektronik, transfer dana elektronik dan teknologi berbasis
jaringan lainnya diterapkan berdasarkan jaringan. Umumnya, e-commerce
adalah strategi komersial baru yang mengarah pada peningkatan kualitas produk
dan layanan dan perbaikan ditingkat layanan penyediaan sementara link
persyaratan organisasi, pemasok, dan konsumen ke arah mengurangi biaya.
a. Jenis – Jenis E-commerce
Menurut Aco dan Endang (2017) E-commerce dibedakan menjadi
beberapa jenis berdasarkan karakteristiknya yaitu:
1. Business to Business (B2B) Business to Business memiliki karakteristik:
a. Trading partners yang sudah saling mengetahui dan antara mereka
sudah terjalin hubungan yang berlangsung cukup lama. Informasi
yang dimiliki hanya ditukar dengan partner tersebut.
b. Pertukaran data dilakukan secara berulang-ulang dan berkala dengan
format data yang telah disepakati bersama.
c. Salah satu pelaku tidak harus menunggu rekan mereka lainnya untuk
mengirimkan data.
d. Model yang umum digunakan adalah peer to peer, di mana
processing intelligence dapat didistribusikan di kedua pelaku bisnis.
2. Business to Consumer (B2C) Business to Consumer memiliki karakteristik:
a. Terbuka untuk umum, di mana informasi disebarkan secara umum
pula dan dapat diakses secara bebas.
b. Servis yang digunakan bersifat umum, sehingga dapat digunakan
oleh orang banyak. Sebagai contoh, karena sistem web sudah umum
digunakan maka service diberikan dengan berbasis web.
c. Servis yang digunakan berdasarkan permintaan. Produsen harus siap
memberikan respon sesuai dengan permintaan konsumen.
d. Sering dilakukan sistem pendekatan client-server.
3. Consumer to Consumer (C2C)
Dalam C2C seorang konsumen dapat menjual secara langsung
barangnya kepada konsumen lainnya, atau bisa disebut juga orang yang
menjual produk dan jasa ke satu sama lain. Contohnya adalah ketika ada
perorangan yang melakukan penjualan di classified ads
(misalnya,www.classified2000.com) dan menjual properti rumah hunian,
mobil, dan sebagainya. Mengiklankan jasa pribadi di internet serta menjual
pengetahuan dan keahlian merupakan contoh lain C2C. Sejumlah situs
pelelangan memungkinkan perorangan untuk memasukkan item-item agar
disertakan dalam pelelangan.
4. Costumer to Busines (B2C)
Customer to Busines adalah model bisnis dimana konsumen (individu)
menciptakan nilai, dan perusahaan mengkonsumsi nilai ini. Sebagai contoh,
ketika konsumen menulis review, atau ketika konsumen memberikan ide
yang berguna untuk pengembangan produk baru, maka individu ini adalah
yang menciptakan nilai bagi perusahaan, jika perusahaan tersebut
mengadopsi input nya. Sebagai contoh, Priceline.com merupakan situs yang
memungkinkan seseorang menjual barang kepada perusahaan. Dalam hal ini,
internet dapat digunakan sebagai sarana negosias