Peran Hard Approach dan Soft Approach

Dalam dunia kerja, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan kepada
karyawan untuk mencapai suatu tujuan organisasi. Pendekatan besar dalam
pengembangan MSDM dibagi menajdi dua pendekatan, yaitu pendekatan hard
approach dan soft approach.
Orientasi pendekatan hard approach cenderung bersifat instrumental dan
terfokus pada penggunaan SDM dan bukan pada indentifikasi dan pengembangan
SDM sebagaimana soft approach. Pengelolaan karyawan berdasarkan hard
approach manajemen melakukan pengawasan dan pelaksanaan melalui sumber
eksternal seperti desain jabatan, pengukuran kinerja, upah yang terkait dengan
kinerja dan penilalian staf.
Apabila manajemen menggunakan soft approach, maka fokus pengelolaan
karyawan tertuju pada sumber internal, seperti pengembangan komitmen individu,
shared value, kepentingan bersama dan pengawasan sendiri. Kedua pendekatan ini
dihubungkan oleh faktor kultur yang berkembang dalam organisasi. Sesungguhnya,
pendekatan apapun yang digunakan dalam pengelolaan SDM, hasil yang diinginkan
adalah terbentuknya kemampuan SDM yang dapat diandalkan sebagai sumber
keunggulan kompetitif (Alwi, 2008:26).
1. Pendekatan Hard Approach
Dalam proses pembentukan sumber daya manusia yang unggul melalui
pendekatan keras (hard approach), ada tiga faktor yang secara signifikan saling
terkait dan crucial sifatnya terutama dalam tahap attaracting (menarik) dan
developing (berkembang) yaitu sistem rekrutmen dan seleksi, sistem pelatihan dan
pengembangan. Kedua sistem tersebut akan diuraikan sebagai berikut :
a. Rekrutmen dan Seleksi
Variabel individu yang penting diamati selain latar belakang keluarga
pendidikan dan pengalaman adalah potensi yang dimiliki individu (talented
individual). Kapasitas kemampuan dan kapasitas pembelajaran (learning
capacity) yang ada pada diri calon karyawan secara individual dan seberapa jauh
kemungkinan potensi yang ada bisa dikembangkan (Alwi, 2001:54).
b. Sistem Pelatihan dan Pengembangan
Dalam budaya organisasi pada perusahaan – perusahaan Jepang yang
sedang atau telah diterapkan bahwa seorang manajer senior, diharuskan
melakukan tugas – tugas sebagai mentor baik formal maupun informal. Bahkan
dalam deskripsi jabatan para manajer ini selain tugas – tugas utamanya,
tercantum pula tugas spesifik yaitu, melakukan pelatihan terhadap karyawan
junior dalam jabatannya. Tujuannya adalah manajer senior lebih mengerti
kemana arah pelatihan sehingga hasilnya sesuai dengan kebutuhan. Di sini
budaya organisasi sangat kuat pengaruhnya terhadap pembentukan prinsip –
prinsip kerja yang efisien (Alwi, 2001:55).
2. Pendekatan Soft Approach
Pendekatan lunak (soft apparoach), mengeksplorasi sisi “human” dari
karyawan. Sebagai contoh, menumbuhkan motivasi kerja karyawan melalui
pendekatan ini, dapat dilakukan dengan cara melibatkan mereka dalam proses
pengambilan keputusan dan membangun kultur organisasi yang berbasis
teamwork dan kepercayaan. Ekspansi keterlibatan karyawan dalam pengambilan
keputusan adalah inti dari segi komitmen. Semakin melibatkan karyawan dalam
pengambilan keputusan, diharapkan akan menumbuhkan kepuasan dan komitmen
karyawan terhadap hasil keputusan. Soft approach memandang komitmen
karyawan merupakan kunci penentu kinerja kompetitif. Karyawan yang bekerja
dalam kultur komitmen yang tinggi dipersiapkan untuk bekerja dalam jangka
panjang. Komitmen tumbuh dan iklim kepercayaan (Alwi, 2008:52)